30 Juni 2009

satu diantara dua

*tulisan ini murni kisah saya, tanpa ada usaha mengindahkan atau menjelekkan*


---


tahun-tahun pertama di psikologi membuat saya dari yang tidak peduli menjadi jatuh cinta dengannya,
dan meyakinkan diri bahwa saya memang cinta dengan klinis,
saya lupa sebab utamanya kenapa,
tapi rasanya,
being a clinician adalah pekerjaan psikolog sesungguhnya *bagi saya*,


waktu berlalu diiringi dengan makin dalamnya saya masuk dunia klinisi itu,
sampai kemudian,
orang tua dan keluarga saya berkata lain,
"Kamu mau makan apa jadi psikolog kayak gitu?? cibalah kamu di industri, nanti setelah lulus langsung apply ke BI sana."


saat itu saya masih rebel,
masih kekeuh bahwa saya bisa hidup dari apa yang saya cinta.


waktu berganti,
saya mulai jenuh dengan klinis,
biasanya saya hanya berujar,
"capek rasanya bertemu dengan orang sakit terus, ingin berhubungan dengan orang sehat, dengan komunitas sehat. jenuh dengan 'asesmen' yang dilakukan tiap melihat orang tertentu. langsung otomatis berpikir, 'kira-kira kenapa ya? kira-kira keluarganya kenapa ya?' lelah."


perhatian saya lalu tertarik pada perkembangan dan pendidikan,
saya rasa lebih aplikatif dan 'normal'.


sampai sekarang saya mulai sedikit demi sedikit terbiasa dengan perkembangan dan pendidikan,
dan somehow,
tetap ingin melanjutkan ke s2 profesi.


skripsi yang sedang saya kerjakan,
dengan deadline yang saya buat sendiri,
kadang membuat saya berharap,
entah bagaimana,
bisa lanjut terus ke mapro,
mungkin bekerja dulu sementara sebelum akhirnya menjadi mahasiswa lagi..


tapi semua berubah,
saat saya menelfon beliau ketika ulangtahunnya,
beliau meminta,
saya segera pulang setelah lulus nanti,
bekerja,
dan menikah dengan orang seperti ini dan seperti itu,

permintaan standar sebenarnya,
tapi mematikan mimpi saya untuk melanjutkan sekolah,
mematikan mimpi-mimpi saya yang lainnnya juga...


sempat menyangkal,
"ini hidup saya,
saya yang punya hak atas diri dan masa depan saya."


tapi lama kelamaan,
saya jadi putus harapan,
sedih,
tentu,
saya patah asa.


tapi saya mencoba yakin,
jika ini yang terbaik,
...maka jadilah...


walau kadang tetap seenaknya mimpi ini muncul,
berharap suatu saat beliau-beliau di sana mengubah keputusannya,
menerima apa yang saya inginkan,

*sigh*


tapi,
ah sudahlah,
mimpi membuat saya makin terpuruk.


lagian,
mau sampai kapan saya 'memeras' mereka?
mau sampai kapan saya 'malakin' mereka?
**yeah right, call it rasionalisasi whatsoever.
cuma itu yang bisa saya lakukan sekarang.


so impossible,

as they may seem,

you've got to fight for every dream,

'cause who's to know,

which one you let go,

would have made you complete....

-flying without wings

passion

saya kerap jatuh simpati
kepada orang yang hidup dengan passion *in a positive way, of course*

sebut saja seorang IT developer yang memang mencintai dunia IT-nya.
melihatnya bekerja di depan komputer pun sudah bisa membuat saya terkagum-kagum.

ada semangat di kerjanya,
ada jiwa di karyanya,
ada gelora di matanya,

atau sebut saja seorang fotografer,
dari gayanya bekerja pun bisa membuat saya simpati,
semangatnya mencari objek jepretan,
bagaimana dia bisa mengungkapkannya dengan cara yang berbeda,
itu passion buat saya..

atau seorang pemain bola,
bukan seorang atlet,
hanya hobi,
hanya suka,
hanya cinta..

atau seorang dengan musiknya,
*ga mau sebut alatmusik tertentu ahh ;)

apapun profesinya sekarang,
tapi saat dia bermain dengan musiknya,
ada jiwa yang bersemangat di dalamnya,
ada sesuatu yang kemudian jadi hidup karenanya..

orang-orang itu yang membuat saya jatuh simpati dan tentu amazed dengan mereka.


tapi ga sedikit,
saya temukan orang yang hidup tanpa passion,
rasanya ada yang kurang,
rasanya ada yang tidak pas,
tanpa tahu apa..

menjalani hidup begitu saja,
memenuhi tuntutan begitu saja,
tanpa passion.
tanpa semangat,
tanpa jiwa,
tanpa gelora.

sepertinya saya salah satunya,
*and maybe that's the reason why i always fall to people with passion :)