Let's admit it.
Instagram, Path, even Facebook make blogging seems a lot of work. When was the last time I checked in? July 2015!! Oh good God.
Well anyway, saya mau memulai menulis lagi. Karena banyak berita gembira yang bisa dibagikan. Ada banyak kepingan hidup yang perlu diceritakan. Walaupun saya masih meragukan konsistensi saya nge-blog.
Sudah lebih dari 3 tahun menikah, dan belum dikaruniai keturunan. Such a bummer! Tapi on the other hand, saya berhasil menyelesaikan Master saya tepat waktu, Bask pun sedang on the way menuju ke sana. In terms of career, saya berhasil mencapai long-lost dream menjadi Manager under 30 (high five to past me!), dan karir Bask pun, so obviously, is on its streak.
Life has been good for us, actually.
Selain itu, kami sedang mempersiapkan kepindahan kami, our very first, of many more times to come, living abroad. I will share you the details nanti, kalau kami sudah pindah. Seperti biasa, takut pamali. Hehe.
Yang pasti ini negara 4 musim, jadi sempat menguras tabungan juga untuk membeli pakaian yang sesuai, tapi alhamdulillah musim dinginnya gak keterlaluan (katanya). Tapi kalau kata adik saya (Sumi), "Kak, kakak aja AC 18 (derajat celsius) selimutannya udah heboh.", jadi sudah pasti persiapan untuk tinggal di musim subzero itu harus lebih heboh dari biasanya.
Karena mahal dan memakan tempat, jadi yang dibeli dari Indonesia sebenarnya hanya Must-Have Items aja. Nice to Have-nya beli di sana kalau lagi diskon ganti musim hihi!
Apa aja sih yang mesti disiapin untuk pergi, travelling, atau pindah ke negara yang punya musim dingin?
Pertama, of course, Down Jacket alias jaket bulu angsa. Ini jaket yang membuat saya seperti logo Michelin (google yourself hahaha). Pastikan bahwa itu down jacket. Jangan asal beli karena yang jual bilang ini jaket musim dingin, ini winter coat, etc, etc. Jangan percaya (ecieee). Pastikan bahwa itu down jacket dengan cara lihat label pakaiannya. Teliti lebih jelas bahan jaketnya, isiannya, dsb. Down Jacket pasti ada keterangan xx% down/feather-nya. Makin banyak %-nya ya makin hangat. Minimal 80% down/feather deh. Lalu tinggal pilih bahan luarannya, paling banyak bahan luaran adalah polyester, which is pretty fine, karena cenderung anti air (kalau cuma splash gitu ya). Harga Down Jacket di Jakarta paling murah adalah sekitar Rp. 800.000,- (ini beli di Toko Djohan daerah Pasar Pagi ITC Mangga Dua). Tapi kalau mau beli yang harga sampai 6 jutaan ya juga ada. Tergantung kemampuan dan keikhlasan dompet masing-masing hehehe.
Cara mengukur Down Jacket yang baik dan pas (karena pasti akan dipake berlapis-lapis baju dan sweater di dalamnya), adalah dengan menambah ukuran LD baju biasanya (bukan LD pas ngukur pake meteran ya, tapi LD baju yang biasa dipake) sebesar 20 cm. Jadi kalau biasa pake baju LD 100, maka beli Down Jacket dengan LD 120. Tapi LD juga gak jadi jaminan sih, karena ukuran lingkar ketiak juga penting. Nanti lengannya malah gak bisa masuk (duh..). Biasanya saya mengukur lengan ketiak dengan memasukkan 5 jari tegak melalui lubang ketiak. Kalau gak masuk, berarti gak cukup. Kalau terlalu besar juga jadinya jelek. Jadi di-pas-in 5 jari ya..
Kedua adalah long john. Ini pakaian dalam yang bentuknya kayak manset baju dan legging. Harga long john variatif banget, tergantung bahan dan elastisitasnya. Ada dari harga 120 ribu rupiah sampai dengan 600 ribu rupiah (per set). Keyword-nya apa : KATUN/COTTON. Pakaian musim dingin sebenarnya kodenya cuma % cottonnya aja. Kalau males cari long john (kayak saya haha), bisa pakai legging yang dari bahan cotton minimal 80%. H&M (sekitar 120 ribu) dan Forever 21 (sekitar 100 ribu) punya kok. Tapi jangan asal ambil, bener-bener di cek dulu komposisi bahannya ya.
Long john, karena pakaian dalam, ya harus ngepas badan. Nanti dipakainya pertama kali setelah pakai pakaian dalam biasanya.
Ketiga adalah sweater. Sweater sih yang paling beragam jenis, bahan, model, dan warnanya. Bahan yang paling 'bener' ketika mencari sweater adalah katun atau wool. Jangan tertipu lucunya sweater ya.. Again and again, make sure bahannya apa.
Keempat adalah topi kupluk, syal, sarung tangan, dan penutup telinga. Kalau ini, ya sesuaikan dengan selera aja. Tapi harus ada. Karena salah satu bagian yang cepat dingin (dan mendinginkan core tubuh) adalah telinga, ubun-ubun, dan ujung jari. Asal jangan pake sarung tangan pengibar bendera jaman sekolah dulu. Udah pendek, cepet bolong, terus tipis banget lagi (lah malah curhat haha).
Kelima, Must Have Items-nya musim dingin adalah sepatu bot. Tapi tergantung di negara mana ya.. Kalau kayak adik saya (Sumi) di Ottawa, Kanada, yang saljunya selalu bisa sampe selutut, harus pake sepatu bot tinggi kayak sepatu bot karet selutut gitu. Otherwise ya gak ngaruh, saljunya masuk aja ke kaki trus mencair. Nah kalau negara tempat tujuan saya sih saljunya gak setinggi itu. Jadi pake sepatu bot biasa pun gak masalah. Asal bahannya tahan air. Saya beli sepatu bot di Nokha, dikasih tau temen saya yang tinggal di Belanda (bukan, ini kebetulan aja kok.. Saya bukan mau ke Belanda besok hehe). Sepatunya lucu-lucu, dan bisa request ukuran, kayak ukuran kaki Bask yang luas itu.
Terakhir, harus banget punya vitamin! Vitamin C, omega 3, fish oil itu yang biasanya jadi vitamin wajib selama musim dingin. Apalagi badan kita badan tropis banget ya. Kalau hujan ya adem, kalo panas ya keringetan. Di negara dengan musim dingin, jarang ada cuaca yang bikin sampe keringetan. Kalaupun panas, ya terik aja, gak sampe bikin gembrobyos gitu. Itu juga kadang jadi penyakit yang sering banget muncul, masuk angin. So, minum vitamin itu super perlu!
I think that's about all. Satu hal lagi yang jadi pelajaran saya belanja-belanja begini adalah, if you pay cheap, you pay double. Kemarin saya sok gak mau beli spring coat di toko-toko semacam H&M, Uniqlo, Zara, dsb, karena harganya 700 ribuan. Trus saya iseng cari coat murah, dan bisa pesen sendiri. Enak dong, bisa cari model yang disuka, dengan harga yang jauh lebih murah dari di toko-toko (saya beli sekitar 300 ribuan). Pas jadi? Tetottt!!
Bahannya ok sesuai yang dijanjiin, tapi cutting jahitannya jelek banget dan ukurannya jauh buanget dari yang diminta. Alhasil harus dirombak dan gak bisa disembarang tukang jahit karena ini coat wol yang isinya wol. Jadilah harus di tukang jahit jas yang spesifik ngurus bahan-bahan ginian. Dan bisa ditebak, biaya rombak di tukang jahit sama dengan biaya beli coatnya. Damn. Sama aja langsung ke Zara deh gak pake nunggu lama dan gak pake rombak ini itu. Zzzz.
Nah itu juga saran saya, tinggalkanlah iklan-iklan jahit coat yang bertebaran di IG (saya nemunya di IG waktu itu soalnya). Mending cari yang pasti aja, agak mahal ya gapapa, investasi kesehatan kalau kata tante saya. Hehe!