ini sepenuhnya repost dari tulisan seorang teman saya, Bono.
sudah minta izin, dan approval by text ;)
dan kenapa saya repost tulisan bapak itu,
karena saya sepenuhnya, akhirnya, bisa paham mengenai perasaan si tokoh yang selalu memandang ke barat tiap pagi itu.
saya tidak akan bicara panjang lebar, selamat menikmati tulisannya,
karena bagi saya,
kerap 'rasa' sudah menjelaskan semuanya..
“Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kepada seseorang di atas kapal yang juga melambaikan tangan kepada kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!”. Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan orang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa.” (senja di balik jendela, SGA)
28 September 2010
buah naga
pernah makan buah naga?
itu loh, yang luarnya merah, dalemnya biasanya putih totol totol item.
masa ga tau? :D
*belagu*
saya suka makan buah itu,
bukan karena buah itu menyehatkan soever,
tapi karena rasanya.
buat saya, rasanya si buah naga itu,
hhhmmm...
tawar, tapi ada manisnya gitu.
jadi rasa manisnya tu tipis gitu,
tapi somehow,
you know kalo 'ok, ini manis'
begitu pula yang aku rasakan tentang dia.
tasteless,
tapi entah mengapa,
i know it's sweet.
kayak buah naga gitu.
:)
itu loh, yang luarnya merah, dalemnya biasanya putih totol totol item.
masa ga tau? :D
*belagu*
saya suka makan buah itu,
bukan karena buah itu menyehatkan soever,
tapi karena rasanya.
buat saya, rasanya si buah naga itu,
hhhmmm...
tawar, tapi ada manisnya gitu.
jadi rasa manisnya tu tipis gitu,
tapi somehow,
you know kalo 'ok, ini manis'
begitu pula yang aku rasakan tentang dia.
tasteless,
tapi entah mengapa,
i know it's sweet.
kayak buah naga gitu.
:)
26 September 2010
s e j e n a k
mari kita kembali duduk di pinggir rel Purwosari,
berbincang tentang hidup yang semakin biru,
berbicara dari hati dengan seorang teman sejati,
menangis lalu sebentar kemudian menertawakan kehidupan.
melihat ironi betapa indahnya senja hari ini,
dan betapa sendunya hidup yang kita jalani.
mari kawanku, sejenak kita berlari ke Plawangan,
berlari menapaki tanah landai dan curam,
jalan basah atau kerikil,
seperti saat kita menemukan sendal sebelah di tanah licin dan curam,
yang akhirnya membuatku jatuh dan terluka,
tapi biarlah, mari kita berlari hingga lelah untuk menangis.
atau mari ikut aku duduk sejenak di pasir hangat ini,
di sebuah malam sepi dan cerah,
gelap seperti masa depan,
namun luas,
seperti katamu,
seluas hati dan pikiran kita.
sebuah masa yang aku agungkan,
karena aku tidak bisa menangkapnya dengan kamera ini,
ketika yang kita lihat hanya gelap dengan taburan bintang seperti malaikat,
dan hanya dapat mendengar suara ombak gemuruh kencang,
tidak perlu kita bicara,
hanya berbaring sesaat menatapNya dan mendengar senandungNya,
sampai lega pikiran ini berkelana.
atau mari kawanku,
kita berbincang tentang hati,
di sebuah kedai sambil menyeruput coklat panas favorit kita,
tertawa seakan dunia begitu ceria,
"penuh defens" katamu,
tapi toh kita menikmati sampai tetes terakhirnya,
lega,
walau kita tidak pernah bicara tentang solusi.
mari kawanku,
kita memacu mesin ini sedemikian kencang,
hingga badan goyah didera angin,
sampai sejauh yang kita mampu,
atau sejauh yang kita berani.
mari ajari aku tentang hidup,
bagaimana agar tidak kita kecewa,
pada si Empunya,
lalu bersama kita tertawa,
saat jatuh dan terluka,
saat terperosok jurang dalam,
atau saat berkejaran dengan angin ..
berbincang tentang hidup yang semakin biru,
berbicara dari hati dengan seorang teman sejati,
menangis lalu sebentar kemudian menertawakan kehidupan.
melihat ironi betapa indahnya senja hari ini,
dan betapa sendunya hidup yang kita jalani.
mari kawanku, sejenak kita berlari ke Plawangan,
berlari menapaki tanah landai dan curam,
jalan basah atau kerikil,
seperti saat kita menemukan sendal sebelah di tanah licin dan curam,
yang akhirnya membuatku jatuh dan terluka,
tapi biarlah, mari kita berlari hingga lelah untuk menangis.
atau mari ikut aku duduk sejenak di pasir hangat ini,
di sebuah malam sepi dan cerah,
gelap seperti masa depan,
namun luas,
seperti katamu,
seluas hati dan pikiran kita.
sebuah masa yang aku agungkan,
karena aku tidak bisa menangkapnya dengan kamera ini,
ketika yang kita lihat hanya gelap dengan taburan bintang seperti malaikat,
dan hanya dapat mendengar suara ombak gemuruh kencang,
tidak perlu kita bicara,
hanya berbaring sesaat menatapNya dan mendengar senandungNya,
sampai lega pikiran ini berkelana.
atau mari kawanku,
kita berbincang tentang hati,
di sebuah kedai sambil menyeruput coklat panas favorit kita,
tertawa seakan dunia begitu ceria,
"penuh defens" katamu,
tapi toh kita menikmati sampai tetes terakhirnya,
lega,
walau kita tidak pernah bicara tentang solusi.
mari kawanku,
kita memacu mesin ini sedemikian kencang,
hingga badan goyah didera angin,
sampai sejauh yang kita mampu,
atau sejauh yang kita berani.
mari ajari aku tentang hidup,
bagaimana agar tidak kita kecewa,
pada si Empunya,
lalu bersama kita tertawa,
saat jatuh dan terluka,
saat terperosok jurang dalam,
atau saat berkejaran dengan angin ..
Langganan:
Postingan (Atom)