23 Februari 2010

ketika jogja tidak lagi menjadi rumah kedua,

sudah 3 hari saya meninggalkan Jogja. Kota yang dengan mudah membuat saya jatuh cinta padanya. Rasanya sedikit banyak kehilangan, tentu saja. Tapi di sini pun saya sadar, ada kehidupan yang indah buat saya, dan semoga memang masa depan saya melaluinya.


Mungkin ini semacam kilas balik, awal saya di Jogja -sampai sekarang saya meninggalkan Jogja. Saya menyadari bahwa banyak sekali yang saya dapatkan di sana, itu sebabnya saya sangat sayang sekali dengan kota itu.


Sebelumnya, saya ingin berterimakasih kepada teman saya yang membuat saya yakin untuk belajar di Jogja.

di tepi makam

sebuah puisi sederhana oleh Teuku Hasan Basri -seorang suami, ayah, kakek- untuk mendiang Almarhumah 'NyakCiek' Tjut Njak Nuraeni yg wafat tanggal 23 Juni 2009 lalu.

saya tidak mampu berujar apapun, untuknya -dan kita semua- yang sedang berduka, maka saya menyampaikan puisi ini, yang telah menguatkan beliau, semoga ini pula menguatkan kita atas kepergiannya yang baru saja.



di tepi makam

berdiri aku di tepi makam
surya pagi sinari tanah
merah muda terpandang di mata
engkau terbaring di bawah sana

dalam hening bertemu muka
engkau di bawah aku menyapa
betapa kelamnya engkau seorang
suara hatiku mengajak serta

berdiri aku di tepi makam
dalam hati kita berjumpa
mengalir hasrat bertemu muka
saling membisu tiada kata
hanyalah hati bertegur sapa

bandung, 25 juni 2009
Teuku Hasan Basri

*puisi ini saya ambil dari buku Yaasiin wafatnya Nyak Ciek, maaf, Yah Ciek aku ga minta izin dulu. di dalamnya ada beberapa puisi sederhana lain dari anak dan cucu. sederhana namun berarti segalanya*

19 Februari 2010

Lay here..

Laying here,
When everyone's sleeping,
I'm not thinking,
I just feel.

This sadness,
This hurt,

Can't sleep,
All nightmares,

It kills me,
Barely can't think anything,
Even planning my day.

I know I must move on,
But these teary feelings,
Has made me stay.

Laying here..