26 Desember 2010

Lelaki Hujan - A Repost

a repost from the same person,
enjoy!

“tak ada, aku tak punya” itu jawabnya saat dia hendak memakai helm motornya dan kutanya dimana mantelnya sebab hujan turun sangat deras. Dia tak punya mantel, hanya jaket hitam kumal yang seakan akan sudah melekat di badannya karena seringnya dipakai.

Sore itu hujan turun sangat deras, sudah tak ada harapan lagi bagi orang orang bermotor di luar sana untuk tetap kering sekalipun mereka mengenakan mantel yang paling mahal sekalipun. Di seberang jalan, di teras toko yang senantiasa tutup itu, ada sekitar empat atau lima orang yang berteduh mencari atap untuk sekedar beristirahat dari dera hujan yang seakan tak kenal ampun menghajar kota ini.

Dingin sekali, kurapatkan jaketku dan kututup jendela yang membawa percikan air hujan membasahi sofa yang dibelikan ibuku bulan lalu. Akan sangat sayang jika sofa ini harus rusak terkena air hujan terus menerus, sebab sofa terkahir yang kupunya menjadi lapuk juga akibat kesukaanku diam memandang hujan dari balik jendela sambil minum coklat hangat. Memang air hujan akan masuk sedikit sedikit, dan yang sedikit itulah yang kemudian menjadi banyak dan akhirnya membuat sofa ruang tamuku menjadi apak, berjamur dan lapuk. Aku sebenarnya tak peduli dengan sofa itu, aku jarang punya tamu, dan satu satunya orang yang sering duduk disitu juga seakan tak peduli dengan kondisi sofa yang ia duduki. Bahkan dia sering bercanda bahwa bau jaketnya mungkin sebanding dengan bau sofa lapuk itu. Jadilah waktu ibuku datang berkunjung bulan lalu, sewaktu aku pulang mengajar, kutemui orang orang dari toko meubel ada di rumahku sedang mengangkat seprangkat sofa baru untuk ruang tamuku.

“memalukan” kata ibuku.

Aku sendiri tak peduli, aku juga tak pernah duduk disitu. Hanya dia dan jaket kumalnya yang sering duduk disitu, dan aku sendiri lebih suka duduk di kusen jendela yang terbuka sambil memegang segelas coklat panas.

“aku pulang dulu, sudah sore” katanya sambil beranjak dari duduknya.

“sebentar, masih hujan. deras sekali”

“tak apa, lagipula aku ada janji sore ini dengan kawanku. Ada pekerjaan yang harus kami selesaikan” jawabnya sambil melangkah keluar.

“mana mantelmu?”

“tak ada, aku tak punya”

Aku lupa, tiga tahun aku mengenalnya tak pernah sekalipun kulihat dia memakai mantel saat berkendara saat hujan. dia selalu menjawab dengan berbagai alasan saat kuminta dia untuk memakai mantel, tak punyalah, hilang, malas, ribet, atau alasan apapun yang bisa dia berikan padaku saat dia datang basah kuyup ke rumahku tanpa mantel. Alasan terlucu yang pernah kudapat adalah saat dia mengantarku ke bank, kira kira empat bulan yang lalu. Saat itu kami terjebak hujan yang begitu deras, aku baru saja mengurus atm-ku yang terblokir gara gara kecerobohanku lupa mengingat enam digit angka yang menjadi password. Siang itu kami berdiri di depan teras bank sambil menunggu hujan yang membadai untuk mereda. Datanglah seorang pria mengendarai motor Harley-Davidson ke halaman parkir bank tersebut; pria tadi basah kuyup dan menggigil kedinginan sebab ia hanya mengenakan jeans dan t-shirt tipis sebagai penutup badannya. Sekonyong konyong celetukan khas orang yang selalu kurindu senyumnya di tiap sore itu terdengar:

“lihat orang ber-Harley itu. Apakah menurutmu dia akan tetap tampak keren kalau dia memakai mantel saat mengendarai Harley-nya?”

“motor Harley itu adalah simbol cowok yang gagah, akan sangat lucu jika dipadukan dengan mantel hujan cap Gajah” imbuhnya lagi.

Aku tertawa mendengar celetuknya, memang akan sangat lucu jika mengendarai motor besar itu dengan mantel ‘batman’ yang akan berkibar kibar jika kita melaju kencang. Apalagi aku juga tak pernah tahu ada konvoi motor besar yang terhalang hujan lalu mereka mengenakan mantel. Mungkin ada, tapi aku tak tahu seperti apa rupanya. Yang jelas, pada siang hari di teras bank itu, dia memberikan contoh yang tepat untuk alasannya tidak mengenakan mantel jika berkendara saat hujan, bahwa mengenakan mantel itu sangatlah tidak laki laki.

Celetukan siang hari di teras bank itu sebenarnya cukup menjelaskan alasan mengapa dia selalu menolak memakai mantel saat hujan turun, namun aku tahu bahwa sebenarnya pasti ada alasan mengapa dia tak mau mengenakannya; alasan yang kemudian aku bersyukur telah mengetahuinya.

Sebuah alasan yang akan menjauhkanku dari jendela yang telah menjadi tempat pelarian dari semua masalahku selama bertahun tahun. Sebab sejak aku mengetahui alasan yang sebenarnya, aku jadi tak lagi punya alasan untuk duduk di tepi jendela, sekadar bertelekan siku memandang hujan yang merinai basah di ujung hari, karena jika aku sedih, dan hujan turun, maka berjalanlah aku di bawahnya; menikmati gemericiknya di wajahku.

Sebuah alasan yang membuatnya tabah berjalan di bawah hujan yang terkadang terasa begitu dingin dan ngilu sampai jauh ke dalam hati. Sebuah alasan yang mebuatnya menikmati setiap tetesan air hujan pada tubuh rapuhnya itu.

Alasan itu adalah sebuah sore, sebuah sore yang basah sepuluh tahun yang lalu. Saat ia berjalan pelan menyusuri trotoar seusai hujan yang membadai seharian. Dengan malam yang segera turun, dan jerit klakson di perempatan jalan utama kota itu. Sendiri saja ia berjalan, saat ia bertemu dengan seseorang, seseorang yang ia tahu bahwa tak akan ditemuinya lagi orang itu. Seorang wanita setengah baya yang berdiri di depan sebuah kios yang senantiasa tutup, berdiri basah kuyup tanpa payung atau mantel. Kemudian dia menawarkan payung-nya pada wanita itu, dan wanita itu menjawab:

“tak usah. Aku tak pernah mempunyai payung, dan aku juga tidak berpikir untuk membelinya. Suamiku yang meninggal setahun yang lalu juga tak pernah memakai payung seumur hidupnya. Kami pertama kali bertemu disini bertahun tahun yang lalu, pada satu sore saat hujan membadai, kami berdua sama sama tak memakai payung waktu itu. Dia adalah lelaki hujan, baginya setiap tetes air hujan adalah pembasuh lelahnya, peluruh semua dukanya. Dia datang padaku saat hujan membadai, dan pergi setahun yang lalu dalam pelukanku di rumah sakit saat gerimis tipis mengambang di atas kota ini. Tak perlu payungmu itu kau tawarkan padaku, hidupku datang bersama hujan ini, dan pada aliran airnya pula akan akan pergi nanti”

Wanita setengah baya itu meninggal beberapa hari kemudian di rumah sakit tempatnya bekerja sebagai dokter di ruang gawat darurat, wanita itu mengidap gangguan pernafasan akut yang diperparah oleh kesukaannya berjalan di bawa hujan.

“sejak kematian wanita itu, aku lalu sadar, bahwa kita semua tak ubahnya seperti tetes hujan. kita jatuh ke bumi tanpa tahu akan jatuh kemana, dengan keyakinan penuh bahwa kita akan sampai pada tujuan masing masing. Ada banyak dari tetes hujan itu yang terhempas, ditolak oleh payung dan mantel; namun alangkah beruntungnya mereka yang diterima dengan tangan terbuka. Oleh mereka yang ikhlas berjalan di bawah hujan, menikmati setiap bulir airnya, menikmati dingin yang terkadang mengiris hati. Kita datang sendiri di dunia ini, berharap akan diterima dengan lapang dada oleh tujuan kita. Namun entah pada akhirnya kita akan ditolak atau diterima, pada akhirnya juga kita akan bermuara pada laut yang sama”

Pada sore yang basah, aku berbicara pada langit yang agung

“sudikah kau lepas simpul simpul anginmu? Sudikah kau urai ikatan ikatan anginmu?”

Dan bebaslah hujan, membadai mengisi senja

Yang tak pernah jingga

Dan biarlah ia menutup hari yang dingin ini dengan gigil

Dan kemudian tutuplah jiwa ini dengan kelambu kabut

Yang kau rajut dari benang benang rindu.

Simpanlah cinta yang berbedak harap dan keinginan

Lindungi dia dari jari jari malam

Tambatkanlah perahunya pada dermaga tersunyi

Biarkan menepi di ujung kota ini

Dan bukakan pintu selalu untuknya

Yang terkadang lupa memanjatkan sembahyang

Karena hati tahu apa yang tak terucap oleh kata

Dan hati melihat lebih baik dari apa yang ada dalam pandangan

Maka biar rinai badai meluruhkan senja yang tak pernah jingga ini

Biar jingga kembali merekah

Biar hati ini basah

Biar mata ini serupa tangis

Sebab kering sudah hati ini, sejak kau renggut jingga dari senja

Maka tak akan kutolak badai ini

Tak usahlah mantel atau payung

Sebab siapa pula yang menginginkan kering?

Jika nantinya basahlah yang akan membawa damai pada

Senja seusai badai.

Yogyakarta, 11 Desember 2010


27 November 2010

a little clue

here's a little clue for you,
maybe we can't mend together,
maybe it's much better for you to leave,

but you know,
at the end,
it's always me the one who stay,

so when you have a time,
let yourself turn around a bit and see me here,
you know exactly where I stand.

aku perempuan yang tetap menunggumu,
di garis tepi yang sama,
tidak bergeser,
tidak tergeser.

16 November 2010

kerang

Hari ini saya bertemu dengan seseorang yang menceritakan kisahnya pada saya. Tanpa sengaja dia bercerita tentang seorang anak kerang.

Katanya, pada suatu ketika seorang anak kerang berkeluh pada ibunya, anak itu merasa tidak mampu apa-apa karena tidak memiliki kaki dan tangan seperti hewan laut lainnya. Ia kesal karena tidak bisa bergerak bebas dengan anggota gerak itu. Ibunya berkata, "Sabarlah nak, nanti kamu akan tahu kenapa kamu tidak memiliki tangan dan kaki seperti mereka". Tidak lama, secara otomatis, pasir terperangkap di dalamnya dan jadilah mutiara. Anak kerang pun menjadi hewan yang lebih berharga dari yang lain.

13 November 2010

lesson learned

satu kalimat yang masih sangat saya ingat dari seorang dosen favorit. One of the most brilliant and amazing professor I've ever met. Dua kali saya mengambil mata kuliah yang diampunya, Psikologi Emosi dan Psikoterapi, dan beliau selalu bertanya di penghujung hari,


"What's lesson learned? Apa yang bisa dipelajari dari situ?"



Dulu saya kerap mendengar suaranya tiap sore,
sekitar jam lima sore,
dari saya masih mengenakan seragam putih merah,
sampai sekarang,


namun itu hal yang hampir tidak pernah lagi terjadi belakangan,
jam lima saya masih duduk di ruangan itu.



Awalnya saya anggap biasa saja,
maksudnya,
yah, semua orang pada dasarnya sedang berjuang demi sesuatu,
entah terlihat atau tidak,
jadi saya tekan perasaan,
berusaha mengabaikannya.

eight meter square imagination

aku mulai membangunnya saat itu,
saat aku melihat punggungmu menjauh,
terlihat lelah dari belakang sini,
aku membayangkan bagaimana rautmu ketika itu.

aku membangunnya saat melihat kamu terluka,
dengan tawamu,
aku mencampurkan warna.

aku terus membangunnya dengan sisa-sisamu yang ku punya,
sisa-sisa yang aku aduk jadi satu,
berharap suatu masa bisa aku tunjukkan padamu,
suatu tempat aku menyimpanmu,
dan hanya aku yang tahu.

28 September 2010

Tentang Jejak yang Menjauh - a repost

ini sepenuhnya repost dari tulisan seorang teman saya, Bono.
sudah minta izin, dan approval by text ;)



dan kenapa saya repost tulisan bapak itu,
karena saya sepenuhnya, akhirnya, bisa paham mengenai perasaan si tokoh yang selalu memandang ke barat tiap pagi itu.
saya tidak akan bicara panjang lebar, selamat menikmati tulisannya,

karena bagi saya,
kerap 'rasa' sudah menjelaskan semuanya..




“Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kepada seseorang di atas kapal yang juga melambaikan tangan kepada kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!”. Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan orang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa.” (senja di balik jendela, SGA)

buah naga

pernah makan buah naga?
itu loh, yang luarnya merah, dalemnya biasanya putih totol totol item.
masa ga tau? :D
*belagu*


saya suka makan buah itu,
bukan karena buah itu menyehatkan soever,
tapi karena rasanya.

buat saya, rasanya si buah naga itu,
hhhmmm...
tawar, tapi ada manisnya gitu.
jadi rasa manisnya tu tipis gitu,
tapi somehow,
you know kalo 'ok, ini manis'


begitu pula yang aku rasakan tentang dia.


tasteless,
tapi entah mengapa,
i know it's sweet.
kayak buah naga gitu.
:)

26 September 2010

dia

akankah saya menemukannya besok?
akankah saya dapat berbincang dengannya lagi esok?

s e j e n a k

mari kita kembali duduk di pinggir rel Purwosari,
berbincang tentang hidup yang semakin biru,
berbicara dari hati dengan seorang teman sejati,
menangis lalu sebentar kemudian menertawakan kehidupan.

melihat ironi betapa indahnya senja hari ini,
dan betapa sendunya hidup yang kita jalani.

mari kawanku, sejenak kita berlari ke Plawangan,
berlari menapaki tanah landai dan curam,
jalan basah atau kerikil,
seperti saat kita menemukan sendal sebelah di tanah licin dan curam,
yang akhirnya membuatku jatuh dan terluka,
tapi biarlah, mari kita berlari hingga lelah untuk menangis.

atau mari ikut aku duduk sejenak di pasir hangat ini,
di sebuah malam sepi dan cerah,
gelap seperti masa depan,
namun luas,
seperti katamu,
seluas hati dan pikiran kita.

sebuah masa yang aku agungkan,
karena aku tidak bisa menangkapnya dengan kamera ini,
ketika yang kita lihat hanya gelap dengan taburan bintang seperti malaikat,
dan hanya dapat mendengar suara ombak gemuruh kencang,
tidak perlu kita bicara,
hanya berbaring sesaat menatapNya dan mendengar senandungNya,
sampai lega pikiran ini berkelana.

atau mari kawanku,
kita berbincang tentang hati,
di sebuah kedai sambil menyeruput coklat panas favorit kita,
tertawa seakan dunia begitu ceria,
"penuh defens" katamu,
tapi toh kita menikmati sampai tetes terakhirnya,
lega,
walau kita tidak pernah bicara tentang solusi.

mari kawanku,
kita memacu mesin ini sedemikian kencang,
hingga badan goyah didera angin,
sampai sejauh yang kita mampu,
atau sejauh yang kita berani.

mari ajari aku tentang hidup,
bagaimana agar tidak kita kecewa,
pada si Empunya,
lalu bersama kita tertawa,
saat jatuh dan terluka,
saat terperosok jurang dalam,
atau saat berkejaran dengan angin ..

29 Agustus 2010

#sepotongJogja

aku menghela nafas saat menaiki tangga peron itu. Masih muda di ingatan saat terakhir kali aku menjejaknya, adalah saat aku meninggalkannya. Malam masih pagi, dan kereta belum juga tiba.


Gerbong 2, tempat duduk 9D. Aku berdoa semoga orang disampingku bukan orang yang terlalu menyebalkan. Tidak lama, kereta berjalan, dan terimakasih Tuhan, bangku itu kosong. Segera menghubungi mereka, memberitakan keberangkatanku, meminta izin kepergianku.



Gondangdia, Cikini, Manggarai, ... Ah, malas rasanya mengabsen stasiun yang dilewati. Aku memilih memandang kosong dan menikmati perasaan ini. Rasanya tenang, makin jauh.


12 Juli 2010

Seujung kuku

Aku tidak mengharapkan kamu,
Menjanjikan selamanya untukku.
Sakit kepalaku mendengarnya,
Lagipula,
'Selamanya' bisa berarti terlalu cepat,
Atau terlalu lama..

Aku hanya meminta sayangmu,
Seujung kuku saja.

Ya, seujung kukumu itu,
Yang kadang kotor, kadang bersih,
Tanpa kamu sadari,
Terus tumbuh.

Ujung kukumu yg kadang kamu perhatikan,
Kadang kamu abaikan,
Tapi tetap meringis waktu kukumu patah.

Seujung kuku yg suka membantumu,
Tanpa sadar,
Untuk membuka plastik air minum kemasan.
Atau hanya menggaruk kulit yg gatal.

Seujung kuku itu,
Aku minta kamu mencintaiku.
Seberapa sering kamu potong pun,
Akan tetap tumbuh memanjang,
Tiada habis.

Jadi berjalanlah sayangku,
Kemanapun kaki membawamu,
Kemanapun kehidupan menuntunmu,

Karena suatu saat,
Ketika Kamu sedang menggunting kuku,
Atau membersihkan tangan,
Atau sekedar berwudhu,
Aku tau kamu akan mengingat aku seujung kuku..

04 Mei 2010

Sekedar senja di purwosari

Duduk di pinggir rel kereta api,
Stasiun purwosari,
Sambil menatap senja,
Berbicara banyak tentang cinta...

01 April 2010

Saya bukan orang kuat,

Baru saja mengamini doa terakhir,
Mesjid sebrang kali mulai terdengar menyalakan pengeras suara.
Tidak jelas senandung apa yg dimainkan,
Doa sepertinya..

Aku pun terdiam mendengarkan.
Ah, Yaasiin..
Aku tutup kedua mataku,
Mendengar sayup-sayup,
Membiarkan pikiran pergi,

L a m a ...

Lalu tercecap asin.

02 Maret 2010

sebuah bingkisan?

aku menyimpannya baik-baik,
tidak aku hapus seperti pembicaraan lain dengannya,
sebelumnya.

bukan karena romantisme apalah,
namun karena itu yang aku tau aku punya,
darinya.

kadang sedih saat membacanya,
haru dan 'seandainya',
berpikir seandainya hidup menjadi lebih mudah karenanya.

kerap rasa cemas pun tak kunjung menghilang,
bahkan akrab berkunjung terlalu sering,
dan lagi terjatuh.
lalu teringat,
berdiri kembali,
begitu terus berulang,
lagi dan lagi.

tapi aku tetap menyimpannya,
sebagai bingkisan penuh cinta dan luka,
apapun namanya,
apapun rasanya,

tetap berharap,
pasti.
tetap berdoa,
tiada putus,
tetapi untuk sekarang,
legalah perasaan dengan menyimpannya.
Tuhan pasti tau maksudnya.

23 Februari 2010

ketika jogja tidak lagi menjadi rumah kedua,

sudah 3 hari saya meninggalkan Jogja. Kota yang dengan mudah membuat saya jatuh cinta padanya. Rasanya sedikit banyak kehilangan, tentu saja. Tapi di sini pun saya sadar, ada kehidupan yang indah buat saya, dan semoga memang masa depan saya melaluinya.


Mungkin ini semacam kilas balik, awal saya di Jogja -sampai sekarang saya meninggalkan Jogja. Saya menyadari bahwa banyak sekali yang saya dapatkan di sana, itu sebabnya saya sangat sayang sekali dengan kota itu.


Sebelumnya, saya ingin berterimakasih kepada teman saya yang membuat saya yakin untuk belajar di Jogja.

di tepi makam

sebuah puisi sederhana oleh Teuku Hasan Basri -seorang suami, ayah, kakek- untuk mendiang Almarhumah 'NyakCiek' Tjut Njak Nuraeni yg wafat tanggal 23 Juni 2009 lalu.

saya tidak mampu berujar apapun, untuknya -dan kita semua- yang sedang berduka, maka saya menyampaikan puisi ini, yang telah menguatkan beliau, semoga ini pula menguatkan kita atas kepergiannya yang baru saja.



di tepi makam

berdiri aku di tepi makam
surya pagi sinari tanah
merah muda terpandang di mata
engkau terbaring di bawah sana

dalam hening bertemu muka
engkau di bawah aku menyapa
betapa kelamnya engkau seorang
suara hatiku mengajak serta

berdiri aku di tepi makam
dalam hati kita berjumpa
mengalir hasrat bertemu muka
saling membisu tiada kata
hanyalah hati bertegur sapa

bandung, 25 juni 2009
Teuku Hasan Basri

*puisi ini saya ambil dari buku Yaasiin wafatnya Nyak Ciek, maaf, Yah Ciek aku ga minta izin dulu. di dalamnya ada beberapa puisi sederhana lain dari anak dan cucu. sederhana namun berarti segalanya*

19 Februari 2010

Lay here..

Laying here,
When everyone's sleeping,
I'm not thinking,
I just feel.

This sadness,
This hurt,

Can't sleep,
All nightmares,

It kills me,
Barely can't think anything,
Even planning my day.

I know I must move on,
But these teary feelings,
Has made me stay.

Laying here..

23 Januari 2010

bukan emas imitasi


"bagaimana rasanya tiba-tiba seorang yang kamu kenal baik hampir belasan tahun,
menuduhmu menusuknya dari belakang? menuduhmu merusak hidupnya?
marah? kesal? kecewa? you name it.


dan itulah sebab kenapa saya mempost artikel ini.
karena saya marah, saya kesal, dan saya kecewa.

tapi tentu, saya bukan wanita murah dan tidak berpendidikan yang hanya berteriak mengumpat di jejaring sosial, menghina dengan kata-kata kasar, hanya untuk membakar dendam, dan bukan menyelesaikan masalah. Lewat artikel inilah saya ingin menunjukkan kalau saya memang lebih berkelas daripada dia"



saya mengenal dia sudah sangat lama sekali, sepuluh tahun pun hampir terlewati. Bahkan dalam kurun waktu tersebut pun hubungan kami bukan hanya sebatas 'hi' dan 'bye', walau tidak bisa disebut sangat-dekat-sekali-sampai-kami-selalu-berbalas-sms-tiap-harinya. hehe. Kind of relationship yang jarang berinteraksi, tetapi ketika bertemu pun kami tidak rikuh dalam mencari-cari topik pembicaraan. Begitulah kira-kira sepintas mengenai hubungan saya dan dia ini, dahulu.

Baru saja, tiba-tiba dia murka kepada saya.

18 Januari 2010

long distance relationship

bukan karena aku ingin menemui setiap saat,
makanya aku menolak hubungan jarak jauh,
bukan pula karena aku cemburuan dan selalu curiga,

tapi karena saat menangis,
aku hanya ingin dipeluk,
begitulah,
sesederhana itu.

di dalam cermin

hei kamu yang di dalam cermin!
kamu merasa hebatkah?
kamu merasa harus semua orang bersorak atasmu,
memberimu selamat,
dan mengelukanmu??

hei kamu yang di dalam cermin!
kenapa kamu menangis?
baru sadar kalau kamu tidak sehebat itu?
bukankah kamu yang selalu berteriak,
"di atas langit masih ada langit bung!"

kamu tidak pantas dielukan!
kamu tidak pantas diperlakukan spesial!

hei kamu di dalam cermin!
kenapa lagi tangismu pecah?
karena selama ini kamu merasa spesial?
tidak! sadarlah wahai kamu di dalam cermin!
mau sampai kapan kamu bermimpi,
hei kamu di dalam cermin?!

dan kenapa pula sekarang kamu memegang batu??
mau kamu pecahkan cermin ini?
agar tidak lagi ada kamu di dalam cermin?

pecahkan saja!
kita lihat apa yang terjadi!

hei kamu di dalam cermin!
lihat!
cermin ini sudah pecah!
kamu di dalam cermin pun sudah tidak berarah.

lantas?
puaskah kamu?
legakah kamu?
lebih lagi, apa kamu menjadi spesial??!

hahaha!
bangun!
sepertinya kamu terlalu lama bermimpi!
ingatlah hei kamu di dalam cermin,
orang miskin dilarang punya mimpi!
lupakan eluan itu!
lupakan sorai sorak itu!
lupakan mimpimu bahwa kamu spesial!
you're not, hei kamu di dalam cermin..
you are not.
you are not.
you are not.
you are not.

lekas bergegas perbaiki cermin ini!
kenapa kamu mengaduh kesakitan sekarang,
hei kamu di dalam cermin??

luka sebegitu kamu tangisi??
malu sana kamu sama orang yang berjalan tanpa kaki!

hei kamu di dalam cermin!
sudah bangun sekarang?
sudah sadar sekarang?

cuma ada kita.
cuma ada aku,
dan seorang kamu di dalam cermin.

itu sebabnya kamu lukai tanganmu untuk memperbaikinya.
karena tanpa cermin,
kamu kesepian.

puas sekarang?

berhenti lagi

aku sempat berlari,
kemarin,
dua hari yang lalu,
seminggu yang lalu,
sebulan yang lalu,
ahh,
entah berapa lama aku berlari.


aku berlari karena mereka berteriak,
aku berlari karena mereka meminta,
aku berlari karena mereka mengiba,

sampai kemudian,
aku dipertemukan lagi,
tidak sengaja bersua,
dan rasa itu tetap ada.

aku berhenti,
terpaku,
terpana,
terdiam.

aku berhenti,
dan membiarkan mata berkelana,
ke kiri,
ke kanan,
berpaling ke belakang,

tetap ada.
jalan di depanku,
tetap terbagi.