24 Desember 2014

Gaul ke Hat Yai

Seperti sebelumnya saya bilang, film di Thailand lebih banyak di dubbing daripada ditempelin subtitle, jadi untuk penduduk Songkhla yang ga ngerti bahasa Thailand, saya harus ke Hat Yai (satu propinsi hanya beda kota) untuk bisa menonton bioskop.

Jarak Songkhla - Hat Yai sendiri sekitar 1 jam perjalanan (atau mungkin 100 km kurang kali ya, soalnya di sini pada ngebut-ngebut bawa mobilnya), dan kami harus naik mini van untuk sampai di Hat Yai (biaya sekitar 28 baht per orang).

Akhirnya dapat van, dan duduk terpisah dengan Baskoro. Nah loh. Namun karena sudah biasa, jadi cuek aja. Diajak ngobrol bahasa thailand juga cuma bisa bilang 'phut thai mai dai'. :D

Songkhla National Museum

Hari ini Baskoro dan saya berencana jalan-jalan sekitar Songkhla. Karena waktunya mepet, jadilah kita tentukan ke National Museum di Songkhla, itupun mepeet banget karena kami tiba jam setengah 4 sore, dan museum tutup jam 4 sore.

Maaf jadi banyakan foto sendiri daripada foto museumnya.
Intinya, isi National Museum Songkhla ini adalah sejarah Songkhla, bahkan mulai dari Kerajaan Sriwijaya.

ASEAN Art and Culture Workshop Project

Hari ini berkesempatan mendampingi Baskoro untuk menghadiri acara ASEAN Art and Culture Workshop Project. Tempatnya di propinsi lain (sekitar 2.5 - 3 jam perjalanan darat, dengan jarak sekitar 200an km dari kota kami tinggal). Nama daerahnya adalah Nakhon Si Thammarat.

Tiba di sana saat makan siang, dengan menu yang ajaib dan banyak (hehe). Ada sop kaki ayam dengan kuah seperti kuah bubur ayam kita, dan itu porsi super besar (ada sekitar 8 kaki ayam), ditambah nasi dengan gulai ayam (chicken red curry), tambah ubi rebus dengan kuah santan manis, lalu jus buah entah buah apa tapi rasanya segar dan warnanya oranye seperti pepaya.

Wah sekali kan jamuannya :D


Puff Pizza and Book Store

Mostly saya di sini sendirian, karena Baskoro sibuk kerja. Jadi saya harus tetap cari kesibukan selama dia di kantor.

Ini salah satu caranya, mendatangi Lotus (apalagi di sini deh hihihihi).

Stay at home gini bikin saya jadi sering membaca. Seminggu, sudah habis 3 novel. Dan saya masih ada sepuluh harian lagi di sini.

Jadi datanglah saya ke toko buku yang ada di Lotus. Gagal. Semuanya berbahasa thai. Tidak ada section buku internasional.

Yak..!

Samila Beach

Another day, another experience. :D
Hari ini, Baskoro sedang tugas ke propinsi lain, jadi baru akan sampai rumah sekitar jam 10an malam. Daripada bengong di rumah, mending kita belajar jalan-jalan.

Setelah selesai makan, nyuci, nyetrika (standar ibu rumah tangga lah yaa), akhirnya bersiap untuk main ke pantai Samila (Samila Beach). Pantai ini sebenarnya dekat banget sama kantornya Baskoro (walking distance), tapi tiap ke kantor, belum sempat mampir sana.

Jalan jam 3 sore, setelah pintu pagar menutup, tiba-tiba byur! Hujan super deras. Daripada muncul malas kalau balik ke rumah, akhirnya lanjut dululah ke depan gang (lumayan basah-basahan), dan berteduh sampai hujan reda.


First Grocery Shopping

Hal pertama yang penting saat datang ke daerah baru adalah makanan. Yup..! Apa makanan khas di sini, dimana cari makanan halal di sini, bisa masak ga di sini, dan dimana supermarket di sini? (ga berani ke pasar karena ga bisa bahasa lokal).

Untunglah di dekat tempat kami tinggal ada so-called-mall yang ada supermarketnya. Nama supermarketnya Tesco. Nama mallnya Lotus, tapi orang sini spell-nya Lotat.

Di sini tentu mirip Carrefour, tapi dengan makanan yang beda, huruf yang beda, dan sangat sedikit makanan halalnya.

Lalu, diantara semua itu.. Ada ini..!

17 Desember 2014

Ketiga

Seperti yang sudah diceritakan, mencari orang berbahasa Inggris di Thailand itu susyeh. Saya pikir, tidak berlaku di mall. Mall gicuh loh!
Dengan yakinnya makan ke KFC. Paling aman dan bersahabat dengan perut kayaknya.

Tapi ternyata, dugaan saya salah sodara-sodara..!

Pertama, tidak ada menu di counter, menunya semua ada di papan di atas sana. Jadi pe er dong nunjuk-nunjuk makanan.

Setelah mencoba menunjuk makanan yang tepat, masalah berikutnya adalah memesan side dish, karena kita modal kere, beli KFC paket ayam 2 + nasi 1 + minum 1, kita hanya akan nambah nasi 1 + minum 1. Yoi kan?
Tapi ngejelasinnya susah buanget. Astaga.

Kedua

Senin, 15 Desember 2014.

Hari ini saya berjanji untuk datang ke kantornya Baskoro. Selain untuk permisi dan lapor diri karena di sini lumayan lama, saya juga sekaligus membawa oleh-oleh dari Indonesia.
Ini salah satu rendang siur asli Padang, saya juga bawa Kripik Balado Kristin Hakim asli padang, dan Kripik Pisang Coklat Suseno dari Lampung, Ga perlu repot karena bisa beli langsung di Rasa Nusantara. Ini online shopping untuk oleh-oleh seluruh Indonesia. Silakan langsung kontak FB-nya aja :)

Pertama

Pesawat Airasia ini selalu nyaman buat saya, apalagi dengan privilege duduk di hotseat bagian depan, semacam duduk di kelas eksekutif deh. Hehe. Ditambah, saya tidak pernah (semoga tidak akan pernah) kena delay oleh maskapai ini. Thumbs up!

Memulai hari jam 3 pagi, ini berarti akan tidur sepanjang Jakarta-Bangkok. Dan benar saja, saya hanya terbangun saat makanan diantar, saat harus isi formulir imigrasi Thailand, dan saat tiba. Lumayan tidur dan makan 3 jam lebih. Tau-tau sudah hampir mendarat dan sudah pukul 11 siang.

Turun dari bandara, yang pertama dicari adalah toilet. Tentu. Selain emang kebelet, saya pengen tau standar toilet di Thailand (sok banget). Ga beda banget sama Jakarta. Lumayan.

Rencana saya adalah, tiba di Bangkok, sholat Dhuha, cari cemilan, sholat Dzuhur, masuk pesawat lagi. Kenyataannya, mana ada mushola di bandara Don Mueang ini! Hahaha. Situ pikir masih di Jakarta, mushola betebaran dimana-mana.

Hari ke-16, Minggu, 14 Desember 2014

Hari dimulai jam 3.15 pagi hari ini. Saya terbangun kaget dan buru-buru mandi. Maklum, seharusnya saya berangkat jam 3.30 pagi ini ke bandara, tapi apa daya, semua baru siap jam 4 pagi.

Kepergian ini saya diantar oleh hampir semua keluarga (yang tersisa di sini), saya diantar Astrid, Mahmud, Ibu Mahmud, Bapak Mahmud, dan Mba Pon.
Adik saya yang bungsu, saat saya bilang, "Bing, aku pergi ya!" jam 4 pagi tadi, dia hanya komentar, "Ok!"

Dasar.

16 Hari Menujumu

Hari ke-1, Sabtu, 29 November 2014
Hari pertama tidak ada kamu. Ah, biasa. Perpisahan kita semenjak Februari rasa rasanya melatih saya menjadi lebih tidak-bergantung pada kehadiranmu.
Kamu masih meraba jalur komunikasi dengan saya sepertinya, buktinya belum ada kabar apapun darimu semenjak sms terakhir semalam dari nomor HP rekan kerjamu di sana yang mengatakan bahwa kamu sudah tiba.
Saya asyik bermain dengan keluarga saya. Mereka tetap menjadi penghiburan terbesar dalam diri saya, selain kamu tentunya. Sambil belajar mempersiapkan UAS perkuliahan saya minggu depan.


Hari ke-2, Minggu, 30 November 2014
Masih belajar untuk UAS. Komunikasi denganmu sudah settled. Whatsapp kita sudah lancar, bahkan kita mencoba Skype, suatu bentuk komunikasi yang bahkan sengaja saya daftar hanya karena kamu pergi ini. Menatap mukamu lagi melalui Skype, membuat saya nyengir sendiri. Saya kangen juga ternyata.
Oh iya, saya batuk tidak berhenti malam ini. Akhirnya meminta dikerok oleh Mba Pon, dan saya terlelap.


Prolog

Kabar itu datang tiba-tiba.
Hari Selasa, 25 November 2014 dan kamu harus berangkat tanggal 28 November 2014.
Tidak! Hubungan jangka panjang ini menyulitkan. Saya harus berpisah dari kamu semenjak Februari 2014 yang lalu, dan sampai sekarang masih harus terpisah lagi?
Bahkan, terpisah negara?

Seperti biasa, pekerjaan ini adalah pekerjaan no compromise.
Saya harus terbiasa dengan ritme dan perpisahannya.
Yah, namanya Kementrian Luar Negeri, berpisahnya juga harus antar negara. Zzzz..

Saya sengaja cuti untuk membantumu packing.
Sebulan adalah waktu yang cukup lama untuk dimasukkan ke dalam koper, rasanya.
Dan cuti sehari lagi untuk mengantarmu pergi ke bandara.

06 Oktober 2014

Pencairan Dana JHT dari Jamsostek (sekarang : BPJS Tenaga Kerja)

Sehubungan dengan suami saya yang *alhamdulillah* keterima PNS, dan dia mulai aware dengan 'benefit yang didapat', akhirnya dimulailah kerewelan dia tentang compensation dan benefit yang dia dapat selama ini.

Untung kaan, saya kerjanya jadi HRD, jadi bisa sotoy sotoy dikit gitu ngasih tau ini itu haha. Dan sampailah kerewelan itu pada pencairan dana JHT Jamsostek, yang notabene, kartunya hilang.

Jadi buat semua pegawai swasta (kayaknya sih semua wajib ya), gaji kita itu juga dipotong sekitar 2%-an buat dana jamsostek (biasanya sih kalau karyawan swasta dananya Jamsostek yang Hari Tua itu, sama paling Kecelakaan Kerja). Kalau sekarang namanya udah ganti, jadi BPJS Ketenagakerjaan.

Tiap tahun kita juga dapat slip Jamsostek selama setahun, disitu akan keliatan nominal 'tabungan hari tua kita' di Jamsostek selama setahun itu, eh bisa juga si selama terdaftar, tergantung ngeprint-nya lah.

22 April 2014

Seluas langit, katamu.

Ini kisah sederhana tentang saya dan sahabat saya,
Dulu kala, ketika kami masih berjibaku di Jogja.

Suatu hari, saya sms dia,
Maklum, BBM dan Whatsapp belum eksis pada jaman itu.

Kamu dimana?

Tidak lama, dia membalas.

15 April 2014

15 April 2014

Selamat ulang tahun,
Baskoro Pramadani.
Semoga Tuhan senantiasa merahmati kamu.
Semoga Tuhan senantiasa memberikan cahaya saat kamu merasa gelap,
Memberikan jalan saat kamu merasa buntu,
Memberikan keringanan saat kamu merasa berat.
Semoga Tuhan senantiasa membimbingmu.
Senantiasa menghapus peluhmu saat kamu merasa tidak mampu,
Senantiasa menyeka air matamu saat kamu merasa jatuh,
Senantiasa mendorongmu saat kamu merasa tidak yakin.
Semoga Tuhan senantiasa menemanimu,
Memberikan kamu teman terbaik yang tidak akan menjatuhkanmu,
Memberikan penjelasan akan setiap pertanyaanmu,
Memberikan keyakinan saat kamu tidak ada pijakan.
Percaya saja,
Sayangku..
Selalu aku doakan kamu yang terbaik selamanya.
Selamat ulang tahun,
Suamiku,
Matahariku,
Imamku,
Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali di surga-Nya.

One fine day

Ketika bangun tidur,
Hal pertama yang dia lakukan adalah memeluk saya.
Lalu dia akan mencari gelas oranye isi air putih,
Dan duduk malas di depan TV.
Tidak sampai setengah jam nonton TV,
Dia akan mulai rewel mencari sarapan pertamanya.
Sereal dengan susu atau oatmeal.
Setelah itu, barulah harinya dimulai.

05 Januari 2014

Sebelum hari Kamis

Akhirnya memberanikan diri menulis tentangnya setelah sekian lama.
Saya adalah orang yang mungkin bagi sebagian orang disebut 'punya indera ke enam'. Tapi saya lebih senang mengakuinya sebagai bentuk 'kesadaran yang lebih tinggi akan kehadiran Tuhan'. Ya, saya lebih banyak mendengar dan melihat dibanding yang lain.

Pertama,
Hari Senin malam, 3 hari sebelum hari Kamis itu. Saya sedang shalat maghrib setelah berbuka puasa. Alhamdulillah hari itu saya bisa pulang sangat cepat dari kantor.
Shalat maghrib saya berisi tangisan, bahkan ratapan tanpa saya tahu tentang apa. Semua rasanya sedih. Selama shalat, mulai dari niat sampai salam, tidak putus saya menangis tersedu-sedu.
Apakah ini Tuhan?

Kedua,
Di saat yang sama, setelah saya shalat isya, saya melanjutkan dengan shalat tarawih. Sangat biasa saat saya shalat di mushola rumah, merasakan 'ditonton' dari belakang. Namun sekarang, rasanya 'dia' mendekat, bahkan menutupi cahaya lampu tengah di ruang atas, mendekati saya. Sampai titik sangat takut saya, dan tidak bisa menyelesaikan rakaat kedua shalat saya itu.

04 Januari 2014

Nadh, Pake Jilbab Sekarang?

Sebagian dari mimpi itu tidak aku ingat. Kapan tepatnya pun terlupa. Hanya beberapa hari setelah ijab kabul. Yang aku ingat hanya seseorang memberikan kain panjang sekali buatku.
Aku biarkan semua mengendap. Aku pikirkan. Aku amati. Aku rasakan. Benarkah?

Ada sekelumit ragu. Tapi ragu seperti apa aku belum bisa mengurainya. Sampai akhirnya aku membaca sebuah blog tentang trend hijab jaman sekarang.

Ada sebuah pertanyaan terbuka yang tertera, "bukankah dengan memutuskan memakai jilbab berarti menurut aurat? Berarti tidak menunjukkan lekuk tubuh? Di samping itu, di atas semuanya, bukankah berhijab berarti menutup semua baik kelebihan diri, kemewahan, kecantikan dsb, dan siap hidup dalam kesederhanaan?"

Saat membaca itu, seperti menjawab pertanyaan akan rasa ragu tanpa tuan yang menghimpit ini. "oh... Aku masih ragu karena itu..."

Tuhan sudah sedikit-sedikit memberikan jawaban atas harapanku.