26 Desember 2010

Lelaki Hujan - A Repost

a repost from the same person,
enjoy!

“tak ada, aku tak punya” itu jawabnya saat dia hendak memakai helm motornya dan kutanya dimana mantelnya sebab hujan turun sangat deras. Dia tak punya mantel, hanya jaket hitam kumal yang seakan akan sudah melekat di badannya karena seringnya dipakai.

Sore itu hujan turun sangat deras, sudah tak ada harapan lagi bagi orang orang bermotor di luar sana untuk tetap kering sekalipun mereka mengenakan mantel yang paling mahal sekalipun. Di seberang jalan, di teras toko yang senantiasa tutup itu, ada sekitar empat atau lima orang yang berteduh mencari atap untuk sekedar beristirahat dari dera hujan yang seakan tak kenal ampun menghajar kota ini.

Dingin sekali, kurapatkan jaketku dan kututup jendela yang membawa percikan air hujan membasahi sofa yang dibelikan ibuku bulan lalu. Akan sangat sayang jika sofa ini harus rusak terkena air hujan terus menerus, sebab sofa terkahir yang kupunya menjadi lapuk juga akibat kesukaanku diam memandang hujan dari balik jendela sambil minum coklat hangat. Memang air hujan akan masuk sedikit sedikit, dan yang sedikit itulah yang kemudian menjadi banyak dan akhirnya membuat sofa ruang tamuku menjadi apak, berjamur dan lapuk. Aku sebenarnya tak peduli dengan sofa itu, aku jarang punya tamu, dan satu satunya orang yang sering duduk disitu juga seakan tak peduli dengan kondisi sofa yang ia duduki. Bahkan dia sering bercanda bahwa bau jaketnya mungkin sebanding dengan bau sofa lapuk itu. Jadilah waktu ibuku datang berkunjung bulan lalu, sewaktu aku pulang mengajar, kutemui orang orang dari toko meubel ada di rumahku sedang mengangkat seprangkat sofa baru untuk ruang tamuku.

“memalukan” kata ibuku.

Aku sendiri tak peduli, aku juga tak pernah duduk disitu. Hanya dia dan jaket kumalnya yang sering duduk disitu, dan aku sendiri lebih suka duduk di kusen jendela yang terbuka sambil memegang segelas coklat panas.

“aku pulang dulu, sudah sore” katanya sambil beranjak dari duduknya.

“sebentar, masih hujan. deras sekali”

“tak apa, lagipula aku ada janji sore ini dengan kawanku. Ada pekerjaan yang harus kami selesaikan” jawabnya sambil melangkah keluar.

“mana mantelmu?”

“tak ada, aku tak punya”

Aku lupa, tiga tahun aku mengenalnya tak pernah sekalipun kulihat dia memakai mantel saat berkendara saat hujan. dia selalu menjawab dengan berbagai alasan saat kuminta dia untuk memakai mantel, tak punyalah, hilang, malas, ribet, atau alasan apapun yang bisa dia berikan padaku saat dia datang basah kuyup ke rumahku tanpa mantel. Alasan terlucu yang pernah kudapat adalah saat dia mengantarku ke bank, kira kira empat bulan yang lalu. Saat itu kami terjebak hujan yang begitu deras, aku baru saja mengurus atm-ku yang terblokir gara gara kecerobohanku lupa mengingat enam digit angka yang menjadi password. Siang itu kami berdiri di depan teras bank sambil menunggu hujan yang membadai untuk mereda. Datanglah seorang pria mengendarai motor Harley-Davidson ke halaman parkir bank tersebut; pria tadi basah kuyup dan menggigil kedinginan sebab ia hanya mengenakan jeans dan t-shirt tipis sebagai penutup badannya. Sekonyong konyong celetukan khas orang yang selalu kurindu senyumnya di tiap sore itu terdengar:

“lihat orang ber-Harley itu. Apakah menurutmu dia akan tetap tampak keren kalau dia memakai mantel saat mengendarai Harley-nya?”

“motor Harley itu adalah simbol cowok yang gagah, akan sangat lucu jika dipadukan dengan mantel hujan cap Gajah” imbuhnya lagi.

Aku tertawa mendengar celetuknya, memang akan sangat lucu jika mengendarai motor besar itu dengan mantel ‘batman’ yang akan berkibar kibar jika kita melaju kencang. Apalagi aku juga tak pernah tahu ada konvoi motor besar yang terhalang hujan lalu mereka mengenakan mantel. Mungkin ada, tapi aku tak tahu seperti apa rupanya. Yang jelas, pada siang hari di teras bank itu, dia memberikan contoh yang tepat untuk alasannya tidak mengenakan mantel jika berkendara saat hujan, bahwa mengenakan mantel itu sangatlah tidak laki laki.

Celetukan siang hari di teras bank itu sebenarnya cukup menjelaskan alasan mengapa dia selalu menolak memakai mantel saat hujan turun, namun aku tahu bahwa sebenarnya pasti ada alasan mengapa dia tak mau mengenakannya; alasan yang kemudian aku bersyukur telah mengetahuinya.

Sebuah alasan yang akan menjauhkanku dari jendela yang telah menjadi tempat pelarian dari semua masalahku selama bertahun tahun. Sebab sejak aku mengetahui alasan yang sebenarnya, aku jadi tak lagi punya alasan untuk duduk di tepi jendela, sekadar bertelekan siku memandang hujan yang merinai basah di ujung hari, karena jika aku sedih, dan hujan turun, maka berjalanlah aku di bawahnya; menikmati gemericiknya di wajahku.

Sebuah alasan yang membuatnya tabah berjalan di bawah hujan yang terkadang terasa begitu dingin dan ngilu sampai jauh ke dalam hati. Sebuah alasan yang mebuatnya menikmati setiap tetesan air hujan pada tubuh rapuhnya itu.

Alasan itu adalah sebuah sore, sebuah sore yang basah sepuluh tahun yang lalu. Saat ia berjalan pelan menyusuri trotoar seusai hujan yang membadai seharian. Dengan malam yang segera turun, dan jerit klakson di perempatan jalan utama kota itu. Sendiri saja ia berjalan, saat ia bertemu dengan seseorang, seseorang yang ia tahu bahwa tak akan ditemuinya lagi orang itu. Seorang wanita setengah baya yang berdiri di depan sebuah kios yang senantiasa tutup, berdiri basah kuyup tanpa payung atau mantel. Kemudian dia menawarkan payung-nya pada wanita itu, dan wanita itu menjawab:

“tak usah. Aku tak pernah mempunyai payung, dan aku juga tidak berpikir untuk membelinya. Suamiku yang meninggal setahun yang lalu juga tak pernah memakai payung seumur hidupnya. Kami pertama kali bertemu disini bertahun tahun yang lalu, pada satu sore saat hujan membadai, kami berdua sama sama tak memakai payung waktu itu. Dia adalah lelaki hujan, baginya setiap tetes air hujan adalah pembasuh lelahnya, peluruh semua dukanya. Dia datang padaku saat hujan membadai, dan pergi setahun yang lalu dalam pelukanku di rumah sakit saat gerimis tipis mengambang di atas kota ini. Tak perlu payungmu itu kau tawarkan padaku, hidupku datang bersama hujan ini, dan pada aliran airnya pula akan akan pergi nanti”

Wanita setengah baya itu meninggal beberapa hari kemudian di rumah sakit tempatnya bekerja sebagai dokter di ruang gawat darurat, wanita itu mengidap gangguan pernafasan akut yang diperparah oleh kesukaannya berjalan di bawa hujan.

“sejak kematian wanita itu, aku lalu sadar, bahwa kita semua tak ubahnya seperti tetes hujan. kita jatuh ke bumi tanpa tahu akan jatuh kemana, dengan keyakinan penuh bahwa kita akan sampai pada tujuan masing masing. Ada banyak dari tetes hujan itu yang terhempas, ditolak oleh payung dan mantel; namun alangkah beruntungnya mereka yang diterima dengan tangan terbuka. Oleh mereka yang ikhlas berjalan di bawah hujan, menikmati setiap bulir airnya, menikmati dingin yang terkadang mengiris hati. Kita datang sendiri di dunia ini, berharap akan diterima dengan lapang dada oleh tujuan kita. Namun entah pada akhirnya kita akan ditolak atau diterima, pada akhirnya juga kita akan bermuara pada laut yang sama”

Pada sore yang basah, aku berbicara pada langit yang agung

“sudikah kau lepas simpul simpul anginmu? Sudikah kau urai ikatan ikatan anginmu?”

Dan bebaslah hujan, membadai mengisi senja

Yang tak pernah jingga

Dan biarlah ia menutup hari yang dingin ini dengan gigil

Dan kemudian tutuplah jiwa ini dengan kelambu kabut

Yang kau rajut dari benang benang rindu.

Simpanlah cinta yang berbedak harap dan keinginan

Lindungi dia dari jari jari malam

Tambatkanlah perahunya pada dermaga tersunyi

Biarkan menepi di ujung kota ini

Dan bukakan pintu selalu untuknya

Yang terkadang lupa memanjatkan sembahyang

Karena hati tahu apa yang tak terucap oleh kata

Dan hati melihat lebih baik dari apa yang ada dalam pandangan

Maka biar rinai badai meluruhkan senja yang tak pernah jingga ini

Biar jingga kembali merekah

Biar hati ini basah

Biar mata ini serupa tangis

Sebab kering sudah hati ini, sejak kau renggut jingga dari senja

Maka tak akan kutolak badai ini

Tak usahlah mantel atau payung

Sebab siapa pula yang menginginkan kering?

Jika nantinya basahlah yang akan membawa damai pada

Senja seusai badai.

Yogyakarta, 11 Desember 2010


27 November 2010

a little clue

here's a little clue for you,
maybe we can't mend together,
maybe it's much better for you to leave,

but you know,
at the end,
it's always me the one who stay,

so when you have a time,
let yourself turn around a bit and see me here,
you know exactly where I stand.

aku perempuan yang tetap menunggumu,
di garis tepi yang sama,
tidak bergeser,
tidak tergeser.

16 November 2010

kerang

Hari ini saya bertemu dengan seseorang yang menceritakan kisahnya pada saya. Tanpa sengaja dia bercerita tentang seorang anak kerang.

Katanya, pada suatu ketika seorang anak kerang berkeluh pada ibunya, anak itu merasa tidak mampu apa-apa karena tidak memiliki kaki dan tangan seperti hewan laut lainnya. Ia kesal karena tidak bisa bergerak bebas dengan anggota gerak itu. Ibunya berkata, "Sabarlah nak, nanti kamu akan tahu kenapa kamu tidak memiliki tangan dan kaki seperti mereka". Tidak lama, secara otomatis, pasir terperangkap di dalamnya dan jadilah mutiara. Anak kerang pun menjadi hewan yang lebih berharga dari yang lain.

13 November 2010

lesson learned

satu kalimat yang masih sangat saya ingat dari seorang dosen favorit. One of the most brilliant and amazing professor I've ever met. Dua kali saya mengambil mata kuliah yang diampunya, Psikologi Emosi dan Psikoterapi, dan beliau selalu bertanya di penghujung hari,


"What's lesson learned? Apa yang bisa dipelajari dari situ?"



Dulu saya kerap mendengar suaranya tiap sore,
sekitar jam lima sore,
dari saya masih mengenakan seragam putih merah,
sampai sekarang,


namun itu hal yang hampir tidak pernah lagi terjadi belakangan,
jam lima saya masih duduk di ruangan itu.



Awalnya saya anggap biasa saja,
maksudnya,
yah, semua orang pada dasarnya sedang berjuang demi sesuatu,
entah terlihat atau tidak,
jadi saya tekan perasaan,
berusaha mengabaikannya.

eight meter square imagination

aku mulai membangunnya saat itu,
saat aku melihat punggungmu menjauh,
terlihat lelah dari belakang sini,
aku membayangkan bagaimana rautmu ketika itu.

aku membangunnya saat melihat kamu terluka,
dengan tawamu,
aku mencampurkan warna.

aku terus membangunnya dengan sisa-sisamu yang ku punya,
sisa-sisa yang aku aduk jadi satu,
berharap suatu masa bisa aku tunjukkan padamu,
suatu tempat aku menyimpanmu,
dan hanya aku yang tahu.