06 Desember 2008

surat untuk seorang teman

dear teman,

apa kabar? terakhir kali mendengar kabarmu, kabar buruk yang aku terima. seburuk apa pun aku bahkan tidak tahu. yang aku tahu, bahwa kamu sedang mengalami sesuatu yang menyedihkan di sana, sesuatu yang mengganggu dan membuatmu selalu menangis.

entah ada apa sampai kamu tidak pernah menceritakan hal tersebut padaku. entah kenapa. tapi sampai saat ku menulis surat, ku masih yakin bahwa suatu hari kamu akan menceritakan hal tersebut. entah kapan, entah bagaimana. karena kamu masih memanggilku teman. masih mau berbagi tawa dan cerita padaku. atau setidaknya, masih memanggilku dengan sapaan itu.

aku ingin sekali mengerti apa yang kamu rasakan. aku ingin sekali mengetahui apakah aku bisa melakukan sesuatu untuk meringankan penderitaanmu. karena, kadang sesuatu yang terlambat akan menciptakan penyesalan sepanjang hidup.

aku terlalu letih menyesal. terlalu banyak air mata yang ku curahkan untuk menangisi kesesalan. sebuah penyesalan. dan aku sudah muak karenanya. untuk itu, aku akan melakukan segala hal supaya aku tidak lagi menyesal.

termasuk berusaha memasuki duniamu. memasuki alam pikiranmu. memasuki perasaanmu.

tetapi entah mengapa kamu masih enggan. kamu selalu menjanjikan nanti. nanti entah kapan. penantian yang membuatku penasaran. penasaran tentang sebesar apa hal itu sampai kamu keberatan untuk langsung menceritakannya padaku.

semoga keenggananmu bukan semata karena kamu merasa asing denganku. semoga keenggananmu bukan semata karena kamu tidak merasa aman untuk membaginya denganku.

semoga karena hal lain.

-nadira

Sambisari, 11 Mei 2008

hari ini adalah hari minggu dimana saya tidak macaal dengan sang pacar. hehe.

besides,
hari ini gw dan anak-anak (baca: Momon, Peli, Tisyah, Alipul) plus papanya aliip mau jalan-jalaaan!

yeeyy!

senang syalalala!

rencananya adalah jalan-jalan ke Candi Sambisari di daerah deket bandara sanaa. tepatnya, masuk gang di seberangnya AAU, jalan terus ke utara sampe mentok, disanalah terpendam Candi Sambisari.

kebayang kan?

dan kami akhirnya memutuskan rute yang akan dilalui adalah:
kosan - makan di burjo - jalan ke Kopma UGM - trans jogja - bandara Adisucipto - jalan sampe jalan solo - naik bis - turun di depan gerbang Candi Sambisari.

semuanya terlihat lancar dan stick with the plan *kecuali bagian ngaret-ngaretnya. haha* sampe bandara Adisucipto.

di bandara, sempet numpang ke toilet *gaya ahh! ke toilet ajaa mesti di bandara. haahaa!* baru meneruskan berjalan ke jalan solo.

insert: cuaca Yogyakarta pada saat itu panas terik

sampe di jalan solo lampu merah pertigaan bandara, nunggu agak lama sampe dideketin supir taksi yang melancarkan bujuk rayunya.

dia bilang gaada angkutan ke arah Sambisari, jadi 'mari ikut taksi saya dan membayar 30 ribu'.

berhubung di buku putih acara jalan-jalan kami peraturan nomer satunya adalah anti taksi, jadilah si taksi itu kami tolak mentah-mentah,

dan kami jalan ajaa sampe jalan masuk di depan AAU itu.

cukup jauh *sekitar setengah kiloan lebiih dehh!* akirnya nyampe lah di mulut jalan, dan ada pasar kecil di sana.
*amaaan. masih tetap berpikir tinggal nunggu angkutan aja di pasar dan sampailah ke Sambisari*

nanya ke bapak-bapak,
katanya Sambisari tuu sekitar 2 kiloan lagi.
yaudah,
secaraaaa tu angkutan ga dateng-dateng,
maka kami berpikir untuk jalan ajaa sambil sekalian nunggu tu angkutan.

500 meter jalan di tengah terik mentari yang merajai dunia *haha. lebaaay!* lalu menengoklah kami ke belakang,
dan ada angkutan ituuu!

yey!

kami pun berhenti sejenak sambil nunggu tu angkutan mendekat. makan-makan, ngobrol, ngemper-ngemper *asal kata emper lalu menjadi kata kerja mengemper, dan disingkat jadi ngemper. ngerti kan?*

sampe sekitar 20-30 menit ga jelas,
dan kita berpikir 'wajar laah kalo bis ngetem lama di pasar'
jadi, kita dengan ikhlas dan bergembira menanti tu bis.

tiba-tiba,
bis itu puter balik!

ngakak-ngakak ga jelas dehh melihat kemirisan pertama ituu!

haha.

yaudah,
berjalanlah 2 kilo yang ternyata *kayaknya* sampe 3 kiloan dehh.

panas.
terik.
buka payung.
sinus kambuh.

rada sejuk dikit,
payung ditutup,

meanwhile,
tetep jalan!

tu..wa.. kanan... kiri!

fiuh.

sampe jarak yang kami anggap 2 kiloan,
bertanya lagi sama seorang bapak pencabut rumput,

'pak, sambisari dimana ya?'

'Oh. ini lurus ajaa.'

'masih jauh pak?'

'sekitar setengah kiloan lagi'

semangat doong kita jalan setengah kilo lagii!

dan kami pun memutuskan untukk,
'hajaaar ajaaa jalan kakii!'

eh tiba-tiba,
si alip dan papanya yang notabene ada di paling belakang barisan,
menghentikan angkutan dan naik.

berhubung kita udah males *dan merasa tinggal setengah kilo lagi* akirnya kita merelakan angkutan itu mengantar alip dan papanya,

sementara,
kita sampe salah-salahan,
'jangan-jangan salah denger tuuu veel. mungkin dua setengah kilo lagiii'

haha.

dan akirnya,
nyampee!!

PEGEEEL!!!

di Sambisari sii asik-asik.
foto-foto.
ngemil-ngemil.
sharing-lunch bersama.

senang-senang.

pas pulang,
kami udah sepenuh hati seteguh karang menunggu bis angkutan itu berapa lamapun.

sementara itu,
kami ngemper lagi di pinggir jalan,
sambil makan es krim,
dan nyanyi-nyanyi dari mp3 gw.

haha.

datenglah tu bis.
berasa dapet durian runtuh
*ihh, engga deh! gw ga doyan durian! hehe.

di bis,
nanya donngs kita layaknya turis berpengalaman,

'bis ini sampe bandara ga pak?'

*karena kami mikir di bandara nanti kita akan naik trans jogja lagi.

bapaknya menjawab,

'emang mau kemana, mbak?'

'ke ugm pak.'

'lohh. bis ini kan langsung ke bunderan ugm, mbak.'

*heh???? maksud looo?????

'langsung ke ugm, pak?'

'iyaa. dari bunderan juga ada. bilang aja A satu gtuu!'

*haha. gw cuma bisa ketawa miriss!!

perjalanan yang sangat jauh dari bandara,
dan sangat dekat sekali sepertinya dari bunderan UGM.

haha.

miris.
kebodohan inilah cerita kami.

ohiya,
sambisari bagus koo.
viewnya bagus *kalo lagi cerah*
ada backsound lenguhan sapi.

haha.

pria dan wanita itu

pria dan wanita itu sudah mengenal sejak lama. cukup lama dan dekat sampai mereka saling memahami satu sama lain. pria itu telah menemani wanita di kala sang wanita sedih, kecewa, takut, dan bahagia. begitu pula sang wanita. ia telah menemani pria itu melalui masa-masa di 'atas' dan di 'bawah'.

kehidupan pria dan wanita itu terlalu indah sampai terasa seperti mimpi. dan layaknya semua mimpi, itu harus berakhir.

pria dan wanita itu masih terlalu muda untuk belajar dan mengerti bahwa memang mimpi itu harus berakhir. mereka masih sekuat tenaga berusaha menjalin mimpi. berusaha untuk tetap tidur agar mimpi itu tidak hancur.

tetapi,
memaksakan sesuatu yang bukan seharusnya seperti itu tidak akan mengubah apapun. tidak juga untuk mimpi. seberapa keraspun jalinan yang dibuat, seberapa kuatpun mereka mengatupkan mata, mimpi itu tetap berakhir.

saat itulah mereka baru menyadari,
tidak ada yang harus disesali untuk itu.
mimpi memang senyatanya harus berakhir.
agar orang terbangun,
dan melihat kenyataan.

butuh beberapa waktu untuk memaknai berakhirnya mimpi itu.
butuh beberapa masa untuk merelakannya.

ketika kenyataan menyatukan mereka lagi,
rindu akan mimpi itu masih terasa.
walau terasa tipis, ringan, tidak terlihat, tetapi ada rasa yang disadari di sana.

keinginan untuk menjalin rajutan mimpi.
keinginan untuk tidur kembali.
keinginan akan kesempurnaan secercah kehidupan.

namun,
waktu adalah obat terbaik.
waktu adalah guru terbaik.
dan layaknya guru terbaik, juga menghasilkan murid terbaik.

murid yang mampu memaknai suatu akhir.
yang mampu merelakan suatu kepergian.
yang mampu mendewasakan diri dengan kesendirian.

mereka adalah murid terbaik.
jadi,
pria itu berusaha mendewasakan diri dengan tidak menanyakan apapun tentang mimpi masa itu.

sedang wanita itu pun berusaha mendewasakan diri dengan,
"Maaf. ada pria lain yang harus ku jaga dan ku hormati perasaannya."

mari main! :)

akhirnya punya waktu lebih disela-sela laporan grafis untuk menuliskan tentang ruang bermain.

hidup gw berikutnya setelah kampus-kosan-macal. haha.



ruang bermain di sardjito ituu yaaaa... uumm... apa yaa??

ya ruang bermain.

tempat anak-anak main.
tempat anak-anak yang dirawat di sardjito main lebih tepatnya.



disini, gw jadi sukarelawan.


nemenin mereka main.
baca dongeng.
ngunjungin siapaa gtu di bangsal.


membuat mereka lebih senang
*halah*


sangat menyenangkan jadi volunteer di sini.
soalnya isinya main,
dan tiap gw jaga,
gw sekalian latian ngewarnai.
haha.


kembali ke masa anak-anak,
berusaha berbicara dan mengerti bahasa anak-anak,
berusaha mengenali pola pikir mereka,
buat gw itu seperti hiburan,
sekaligus pelajaran masa depan.
hahay.


dan dengan bermain sama anak-anak,
atmosfernya jadi atmosfer anak-anak,
yang ceria,
yang tanpa beban,
yang sederhana.


yang membuat gw jadi lebih muda hari demi hari
*jijik ahh, ko lebay sii! hihi


tapi karena disini,
gw jadi merasa sangat akrab dengan kematian,
lalu tercetus pikiran seperti yang pernah gw tulis di shoutout,
'apa karena makin akrab dengan kematian kita jadi lebih tidak berperasaan?'


karena yaa gw ngerasa aja,
ngedenger anak sakit leukemia,
emosinya datar banget.


trus waktu denger cerita seorang temen,
tadinya sodaranya cuma didiagnosis DBD, cuma jadi malfungsi otak,
komennya *selain istighfar,
'oohh.. ya ampun'
dengan nada datar.


karena hal itu adalah hal yang biasa di sini.


tragisnya,
waktu denger seorang anak di sini meninggal,
selain innalillahi,
yaa,
datar.


gaada gejolak emosi yang terlalu dalam.
datar.


apa iya ada kausalitas antara keduanya?


yah,
diatas semua itu,
di sini gw belajar lebih bersyukur,
dan berharap keluarga gw,
sodara gw,
bahkan anak gw nanti *nanti wiii! ga skarang. haha!*
ga ada yang kena penyakit separah anak-anak disini.


dan sepertinya,
gw belajar untuk kehilangan.
belajar untuk menerima kehilangan.
dan bahwa,
kematian bukanlah sesuatu yang memutuskan ikatan cinta.
*dari If Only looh!*.


yasudah,
mari menjaga ruang bermain dengan semangat!
:)

untuk mereka

jadi gini ceritanya,
hari ini sebenernya mesti kuliah Hambatan Perkembangan Anak,
cuma karena gw semalem sampe jam 8.30an ngubek-ngubek kampus demi menyelesaikan makalah HPA ini, gw jadi mabok dan memutuskan buat ga kuliah.
haha.


nah,
dimakalah itu gw dan kelompok ngebahas tentang school problem pada anak SD, jadi mesti dooong ada wawancara ke sebuah sd.
dan SD yang terpilih dari sekian banyak sd di DIY ini adalah Tamansiswa.
*apa yaa nama SDnya? Taman Muda atau apaa gtuu.


yang menjadi delegasi kelompok gw ke Tamsis adalah gw dan momonche.
*emang ga penting sii. hehe*


sesampainya di sd ituu, kami sempet nunggu beberapa saat sampe si bu guru selesai ngajar,
dan proses yang terjadi selama gw nunggu adalaaahh...


jadi inget waktu jaman gw sd


ihhh. kangen banget ternyataa!!
udah lama aja gtu gw ga ke sd,
hehe.


**jadi mellow ahh!
cuih. hihi.


"Kita jadi bisa menulis dan membaca,
karena siapa?

kita bisa tau beraneka bidang ilmu,
karena siapa?

guru lah pelita,
penerang dalam gulita,
jasamu tiada taraa!"


yah,
marilah kita kembali ke titik awal itu.
berusaha berterima kasih atas semua yang dilakukan beliau-beliau disana.


dan gw yakin,
kita sebagai anak muridnya udah kemana-mana,
pak guru sama bu guru tetep aja stuck di sd itu,
mulia sekali mereka.
*cup cup muah buat mereka. haha



'
kadang kita harus berhenti di satu titik dalam kehidupan,
kemudian menengok ke belakang.
melihat kembali jalan yang pernah kita lewati,
tangis haru tawa bahagia gagal sukses dan semuanya yang telah terramu menjadi suatu yang dikenal sebagai 'masa lalu'.
kita cermati lagi betapa jauh perjalanan yang telah kita tempuh,
dan semua orang yang telah menuntun kita berjalan,
mulai dari menemani tertatih-tatih berdiri,
sampai saat ini memandangi kita berlari.

terima kasih menjadi kata yang masih belum cukup,
mewakili semua rasa syukur ini,
jika ada cara lain untuk mengucapkan terima kasih,
lebih dari sekedar ucapan terima kasih,
mungkin hal itulah yang sesuai untuk disampaikan pada mereka,

karena tanpa mereka,
kita bukan siapa-siapa'


-special dedication buat pak guru, dan bu guru saya. :)