ada suatu rumah mewah yang bagus sekali.
semuanya serba matching.
dengan pagar tinggi,
rumah itu tetap terlihat megah walau bersembunyi di belakangnya.
halaman rumput luas dengan tumbuhan berbunga di mana-mana.
hamparan cahaya matahari pun menyempurnakan siluet rumah itu.
indah.
sangat indah.
sempurna.
sangat sempurna.
tapi kemudian,
terlihat satu petak atap disisi kiri rumah itu beda warna.
dan sejujurnya,
jelek.
dan kemudian,
perhatianmu lantas selalu tertuju pada atap jelek itu.
padahal hanya sebagian kecil yang jelek,
padahal hanya secuil dari kesempurnaan itu,
membuat kamu lantas berpikir,
"ini rumah jelek"
apakah harus selalu begitu?
semua orang mendamba kesempurnaan.
itu wajar.
tetapi kemudian karena tidak ada yang sempurna disini,
di dunia ini,
lantas kamu berbalik memaki dunia.
berlari dan terus berlari berharap mendapat suatu yang sempurna.
09 Mei 2009
16 April 2009
last flight
aku akan menceritakan satu cerita,
yang hanya pernah aku berani ceritakan sekali,
pada seseorang ini.
bahwa,
beberapa waktu yang lalu,
aku memutuskan untuk keluar jogja.
keputusan sangat impulsif.
bangun pagi,
dengan perasaan tertekan,
aku memutuskan untuk pulang.
hari itu juga,
dengan pesawat pertama yang bisa aku jangkau,
aku pergi dari jogja.
di adisucipto,
aku iseng ke periplus.
membeli 2 buah buku,
2 buku berbeda,
tentang hal yang sama,
yang oleh manusia kerap disebut 'Tuhan'.
dan mungkin karenanya,
atau karena pesan berisi semangat untuk kembali ceria,
perasaanku jadi lebih enteng..
kadang merasa menyesal,
jika tahu perasaanku akan lebih baik saat matahari muncul,
mungkin tidak seharusnya aku bertindak sangat impulsif,
tapi kemudian,
saat membaca buku kecil berjudul 'what on earth am i here for?',
aku jadi sadar,
kalo bukan karena impulsivitasku,
aku ga mungkin sampai disini,
membaca buku ini,
dan merasakan perasaan ringan ini...
dan,
semakin jauh pesawat membawaku pergi,
semakin ringan perasaanku,
...sampai akhirnya jatuh lagi
aku membiarkan diriku jatuh lagi,
lebih tepatnya.
karena pada akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kota ini,
hari sabtu,
siang,
dengan alasan siang jarang hujan.
aku berangkat dengan berat hati,
dari rumah pukul setengah 10 pagi,
'pesawatku take off jam 1 ma..' begitu alasannya,
sampai di bandara pukul 12,
aku memutuskan untuk menunda makan siang,
'ntar aja di adisucipto lah.'
tapi kemudian,
pukul 12.40 pengumuman delay pesawat karena-alasan-teknis itu berkumandang,
delay selama 1 jam,
dengan perut kosong,
dan seperti-biasanya-kalo-ga-makan aku pasti pusing,
aku memutuskan untuk menunggu saja sambil membaca lagi 2 buku sakti itu.
masuk ke dalam pesawat,
perasaanku aneh.
sumpah aneh.
ada rasa takut akan kematian,
mungkin itu lebih konkretnya.
pikiranku buruk semua,
ketika bapak di depanku berkenalan dan berbincang akrab dengan seorang disebelahnya,
aku malah berpikir,
'yah, bersosialisasi sebelum meninggal'.
sinis,
dan parah sekali.
seumur hidup aku menggunakan jasa udara tidak pernah sekalipun aku berpikir seperti itu.
yang ada di otakku hanya mati, mati, mati.
tetapi perjalanan menunjukkan sebaliknya,
cuaca sangat cerah,
dengan penerbangan yang smooth,
mematahkan pikiran paling gelapku saat itu.
yah,
saat cerah itu,
hanya sampai 20 menit mencapai adisucipto,
setelah pramugari mengatakan,
'sebentar lagi kita akan mendarat di bandara adisucipto yogyakarta,
waktu menunjukkan pukul bla bla bla bla..'
mungkin si pramugari baru selesai menghela napas sekali,
tiba-tiba dari kemudi terdengar suara sang kapten,
'... karena alasan cuaca, untuk sementara waktu bandara adisucipto yogyakarta di tutup baik untuk penerbangan maupun pendaratan.. kita akan berputar beberapa waktu di atas yogyakarta sambil menunggu cuaca membaik...'
dan terlihat memang,
pesawat berputar beberapa kali,
*cukup-lama-sampai-aku-mulai-berpikir-buruk-lagi*
lalu setelah 15 menit berputar tanpa tujuan,
sang kapten menyapa para penumpang lagi,
'karena cuaca di yogyakarta semakin memburuk, maka kita akan mendarat darurat di bandara adi sumarmo solo.'
dan perjalanan dari yogyakarta ke solo yang memakan waktu sekitar 20 menit itu berisi turbulensi terhebat yang pernah aku rasakan,
well,
you may call me lebay,
tapi apa gambaran paling jelas untuk memberitahukan bahwa seisi pesawat berteriak 'allahu akbar' saat pesawat bergoncang ke kanan kiri atas bawah itu?
dan aku pun mulai ketakutan lagi,
20 menit dalam kondisi naik turun dan teriakan 'allahu akbar' membuat aku makin ketakutan,
dan hanya bisa memeluk tas yang aku bawa ke dalam kabin.
di adisumarmo,
yang pertama ku hubungi jelas keluargaku,
jam setengah 10 aku sudah pergi dari rumah,
tetapi sampai jam 4 lebih belum sampai ke jogja,
bahkan ada berita mendarat darurat di solo,
siapa orang tua yang tidak panik?
aku pun menghubungi dia,
yang lantas serta merta membalas dengan reaksi negatif yang ku dapat,
'biarlah...' pikirku.
30 menit menunggu di dalam kabin tanpa ac itu serasa berada di bis salemba-kampung rambutan saat jam pulang kantor.
kelaparan,
panas,
pengap,
dan parahnya,
ga bisa buka jendela.
banyak penumpang yang meminta turun di solo saja,
aku salah satunya,
rasanya lebih aman jika kakiku menjejak di tanah.
tapi ternyata tidak bisa.
sial.
saat ingin take off pun,
entah mengapa mengalami delay lagi sekitar 20 menit,
semua penumpang mulai kecewa, resah, dan takut *jelaslah*,
dan saat akhirnya pesawat siap untuk terbang,
serta merta solo menjadi sangat gelap,
dengan awan hujan hitam menyebalkan itu,
dan ya,
sang kapten tidak bisa men-delay untuk kesekian kalinya,
akhirnya kami take off di tengah hujan lebat sekali.
turbulensi parah itu dimulai lagi,
teriakan itu muncul lagi,
dengan tangisan bayi yang tidak putus-putusnya,
sampai muak aku berada disitu,
dan akhirnya berpikir,
'ya sudahlah,
jika memang aku harus mati sekarang,
matilah..
mungkin ini alasannya dia memutuskan aku minggu lalu,
mungkin ini alasannya aku sangat impulsif untuk bertemu keluargaku,
mungkin sebagai salam perpisahan..
terjadilah apa yang harus terjadi..'
aku tidak lagi berpikir harus bagaimana jika pesawat jatuh di laut,
aku tidak lagi berpikir apakah pelampung itu benar ada di tempatnya,
aku tidak harus berpikir apakah saat pesawat ini jatuh,
aku hidup dengan luka parah atau langsung mati,
aku tidak lagi berpikir itu...
aku nikmati goncangan hebat itu layaknya menikmati rollercoaster,
ikut bergoyang saat pesawat bergoncang hebat,
memegang lengan kursi lebih erat saat pesawat naik dan turun seenaknya,
hanya memikirkan itu sebagai saat-saat terakhir.
rasanya lebih lega.
aku tidak muak lagi.
tapi saat pesawat mendarat di yogyakarta,
dengan mulus disertai seruan 'alhamdulillah' dari tiap kursi,
aku mulai ketakutan...
yang hanya pernah aku berani ceritakan sekali,
pada seseorang ini.
bahwa,
beberapa waktu yang lalu,
aku memutuskan untuk keluar jogja.
keputusan sangat impulsif.
bangun pagi,
dengan perasaan tertekan,
aku memutuskan untuk pulang.
hari itu juga,
dengan pesawat pertama yang bisa aku jangkau,
aku pergi dari jogja.
di adisucipto,
aku iseng ke periplus.
membeli 2 buah buku,
2 buku berbeda,
tentang hal yang sama,
yang oleh manusia kerap disebut 'Tuhan'.
dan mungkin karenanya,
atau karena pesan berisi semangat untuk kembali ceria,
perasaanku jadi lebih enteng..
kadang merasa menyesal,
jika tahu perasaanku akan lebih baik saat matahari muncul,
mungkin tidak seharusnya aku bertindak sangat impulsif,
tapi kemudian,
saat membaca buku kecil berjudul 'what on earth am i here for?',
aku jadi sadar,
kalo bukan karena impulsivitasku,
aku ga mungkin sampai disini,
membaca buku ini,
dan merasakan perasaan ringan ini...
dan,
semakin jauh pesawat membawaku pergi,
semakin ringan perasaanku,
...sampai akhirnya jatuh lagi
aku membiarkan diriku jatuh lagi,
lebih tepatnya.
karena pada akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kota ini,
hari sabtu,
siang,
dengan alasan siang jarang hujan.
aku berangkat dengan berat hati,
dari rumah pukul setengah 10 pagi,
'pesawatku take off jam 1 ma..' begitu alasannya,
sampai di bandara pukul 12,
aku memutuskan untuk menunda makan siang,
'ntar aja di adisucipto lah.'
tapi kemudian,
pukul 12.40 pengumuman delay pesawat karena-alasan-teknis itu berkumandang,
delay selama 1 jam,
dengan perut kosong,
dan seperti-biasanya-kalo-ga-makan aku pasti pusing,
aku memutuskan untuk menunggu saja sambil membaca lagi 2 buku sakti itu.
masuk ke dalam pesawat,
perasaanku aneh.
sumpah aneh.
ada rasa takut akan kematian,
mungkin itu lebih konkretnya.
pikiranku buruk semua,
ketika bapak di depanku berkenalan dan berbincang akrab dengan seorang disebelahnya,
aku malah berpikir,
'yah, bersosialisasi sebelum meninggal'.
sinis,
dan parah sekali.
seumur hidup aku menggunakan jasa udara tidak pernah sekalipun aku berpikir seperti itu.
yang ada di otakku hanya mati, mati, mati.
tetapi perjalanan menunjukkan sebaliknya,
cuaca sangat cerah,
dengan penerbangan yang smooth,
mematahkan pikiran paling gelapku saat itu.
yah,
saat cerah itu,
hanya sampai 20 menit mencapai adisucipto,
setelah pramugari mengatakan,
'sebentar lagi kita akan mendarat di bandara adisucipto yogyakarta,
waktu menunjukkan pukul bla bla bla bla..'
mungkin si pramugari baru selesai menghela napas sekali,
tiba-tiba dari kemudi terdengar suara sang kapten,
'... karena alasan cuaca, untuk sementara waktu bandara adisucipto yogyakarta di tutup baik untuk penerbangan maupun pendaratan.. kita akan berputar beberapa waktu di atas yogyakarta sambil menunggu cuaca membaik...'
dan terlihat memang,
pesawat berputar beberapa kali,
*cukup-lama-sampai-aku-mulai-berpikir-buruk-lagi*
lalu setelah 15 menit berputar tanpa tujuan,
sang kapten menyapa para penumpang lagi,
'karena cuaca di yogyakarta semakin memburuk, maka kita akan mendarat darurat di bandara adi sumarmo solo.'
dan perjalanan dari yogyakarta ke solo yang memakan waktu sekitar 20 menit itu berisi turbulensi terhebat yang pernah aku rasakan,
well,
you may call me lebay,
tapi apa gambaran paling jelas untuk memberitahukan bahwa seisi pesawat berteriak 'allahu akbar' saat pesawat bergoncang ke kanan kiri atas bawah itu?
dan aku pun mulai ketakutan lagi,
20 menit dalam kondisi naik turun dan teriakan 'allahu akbar' membuat aku makin ketakutan,
dan hanya bisa memeluk tas yang aku bawa ke dalam kabin.
di adisumarmo,
yang pertama ku hubungi jelas keluargaku,
jam setengah 10 aku sudah pergi dari rumah,
tetapi sampai jam 4 lebih belum sampai ke jogja,
bahkan ada berita mendarat darurat di solo,
siapa orang tua yang tidak panik?
aku pun menghubungi dia,
yang lantas serta merta membalas dengan reaksi negatif yang ku dapat,
'biarlah...' pikirku.
30 menit menunggu di dalam kabin tanpa ac itu serasa berada di bis salemba-kampung rambutan saat jam pulang kantor.
kelaparan,
panas,
pengap,
dan parahnya,
ga bisa buka jendela.
banyak penumpang yang meminta turun di solo saja,
aku salah satunya,
rasanya lebih aman jika kakiku menjejak di tanah.
tapi ternyata tidak bisa.
sial.
saat ingin take off pun,
entah mengapa mengalami delay lagi sekitar 20 menit,
semua penumpang mulai kecewa, resah, dan takut *jelaslah*,
dan saat akhirnya pesawat siap untuk terbang,
serta merta solo menjadi sangat gelap,
dengan awan hujan hitam menyebalkan itu,
dan ya,
sang kapten tidak bisa men-delay untuk kesekian kalinya,
akhirnya kami take off di tengah hujan lebat sekali.
turbulensi parah itu dimulai lagi,
teriakan itu muncul lagi,
dengan tangisan bayi yang tidak putus-putusnya,
sampai muak aku berada disitu,
dan akhirnya berpikir,
'ya sudahlah,
jika memang aku harus mati sekarang,
matilah..
mungkin ini alasannya dia memutuskan aku minggu lalu,
mungkin ini alasannya aku sangat impulsif untuk bertemu keluargaku,
mungkin sebagai salam perpisahan..
terjadilah apa yang harus terjadi..'
aku tidak lagi berpikir harus bagaimana jika pesawat jatuh di laut,
aku tidak lagi berpikir apakah pelampung itu benar ada di tempatnya,
aku tidak harus berpikir apakah saat pesawat ini jatuh,
aku hidup dengan luka parah atau langsung mati,
aku tidak lagi berpikir itu...
aku nikmati goncangan hebat itu layaknya menikmati rollercoaster,
ikut bergoyang saat pesawat bergoncang hebat,
memegang lengan kursi lebih erat saat pesawat naik dan turun seenaknya,
hanya memikirkan itu sebagai saat-saat terakhir.
rasanya lebih lega.
aku tidak muak lagi.
tapi saat pesawat mendarat di yogyakarta,
dengan mulus disertai seruan 'alhamdulillah' dari tiap kursi,
aku mulai ketakutan...
30 Maret 2009
saat hujan turun malam itu,
saat hujan turun malam itu,
aku berencana untuk mengkisahkannya pada seseorang,
dan bersyukur karena dia ada..
ya,
aku kembali pulang..
setelah sekian lama berkeras hati menganggap aku bisa hidup mandiri tanpa mereka,
akhirnya aku menyerah,
aku pulang.
melepaskan tangisanku kepadanya,
kembali seperti semula,
seakan sedang duduk bersama dan bercengkrama,
walau terbentang jarak yang cukup memakan biaya.
aku tidak canggung mengatakan aku sedih,
aku menangis,
dan segala lainnya.
dan layaknya seorang guru,
dia mencoba memahami bagian itu,
dia akan selalu begitu,
bukan dengan gaya serius layaknya konselor dengan kliennya,
namun dengan gayanya yang cukup menghapus air mata.
dia berkata banyak,
berteori banyak,
walau memang teori itu sudah terbukti keabsahannya,
tetapi ada sesuatu dalam sini yang ingin mendobrak,
keras kepala, katanya.
ya, sepertinya begitu..
apa yang ku genggam,
tak mudah untuk aku lepaskan.
ya, papa mengerti,
begitu jawabnya.
tetapi layaknya seorang yang mencintai anaknya,
dia pun tidak ingin aku terlalu lama berkubang luka.
saat hujan turun malam itu,
aku ingin segera pergi,
kembali pada semua saat aku memulainya,
saat aku bisa membenahinya,
saat aku bisa memutuskan yang benar dan yang salah,
dan semua diantaranya.
no regret,
he said.
so do i,
but sometimes i feel like i have to fight,
i want to win,
at least once in my life,
i have a gut to choose my own path,
maybe it's wrong,
maybe it's right,
but at least,
that's what i want.
i said.
please God,
did I ask too much?
saat hujan turun malam itu,
air mataku sudah mengering karenanya,
walau aku tahu,
saat hubungan terputus,
saat aku merebahkan diri,
merasa sendiri,
aku akan jatuh lagi.
terus seperti itu.
entah sampai kapan,
sampai Tuhan mengizinkan yang jelas.
saat hujan turun malam itu,
aku berhenti berharap,
walau ingin sekali ku meratap,
sekali saja pintaku.
mimpi ini tidak pernah bercerita bohong,
bahwa aku memang masih ingin berharap,
secuil harapan ini menggodaku untuk bermimpi,
dan kadang,
aku berpikir sudah sampai batas dimana aku terlalu lewat bermimpi,
yang bahayanya membuat aku gila.
saat hujan turun malam itu,
aku mencoba ikhlas dan sabar,
dua hal yang sulit aku lakukan,
dua hal yang akan selalu sulit aku lakukan,
mencoba menerbitkan sebuah harapan,
walau selalu merasa tidak berdaya bahkan untuk sekedar berharap.
aku berencana untuk mengkisahkannya pada seseorang,
dan bersyukur karena dia ada..
ya,
aku kembali pulang..
setelah sekian lama berkeras hati menganggap aku bisa hidup mandiri tanpa mereka,
akhirnya aku menyerah,
aku pulang.
melepaskan tangisanku kepadanya,
kembali seperti semula,
seakan sedang duduk bersama dan bercengkrama,
walau terbentang jarak yang cukup memakan biaya.
aku tidak canggung mengatakan aku sedih,
aku menangis,
dan segala lainnya.
dan layaknya seorang guru,
dia mencoba memahami bagian itu,
dia akan selalu begitu,
bukan dengan gaya serius layaknya konselor dengan kliennya,
namun dengan gayanya yang cukup menghapus air mata.
dia berkata banyak,
berteori banyak,
walau memang teori itu sudah terbukti keabsahannya,
tetapi ada sesuatu dalam sini yang ingin mendobrak,
keras kepala, katanya.
ya, sepertinya begitu..
apa yang ku genggam,
tak mudah untuk aku lepaskan.
ya, papa mengerti,
begitu jawabnya.
tetapi layaknya seorang yang mencintai anaknya,
dia pun tidak ingin aku terlalu lama berkubang luka.
saat hujan turun malam itu,
aku ingin segera pergi,
kembali pada semua saat aku memulainya,
saat aku bisa membenahinya,
saat aku bisa memutuskan yang benar dan yang salah,
dan semua diantaranya.
no regret,
he said.
so do i,
but sometimes i feel like i have to fight,
i want to win,
at least once in my life,
i have a gut to choose my own path,
maybe it's wrong,
maybe it's right,
but at least,
that's what i want.
i said.
please God,
did I ask too much?
saat hujan turun malam itu,
air mataku sudah mengering karenanya,
walau aku tahu,
saat hubungan terputus,
saat aku merebahkan diri,
merasa sendiri,
aku akan jatuh lagi.
terus seperti itu.
entah sampai kapan,
sampai Tuhan mengizinkan yang jelas.
saat hujan turun malam itu,
aku berhenti berharap,
walau ingin sekali ku meratap,
sekali saja pintaku.
mimpi ini tidak pernah bercerita bohong,
bahwa aku memang masih ingin berharap,
secuil harapan ini menggodaku untuk bermimpi,
dan kadang,
aku berpikir sudah sampai batas dimana aku terlalu lewat bermimpi,
yang bahayanya membuat aku gila.
saat hujan turun malam itu,
aku mencoba ikhlas dan sabar,
dua hal yang sulit aku lakukan,
dua hal yang akan selalu sulit aku lakukan,
mencoba menerbitkan sebuah harapan,
walau selalu merasa tidak berdaya bahkan untuk sekedar berharap.
23 Maret 2009
everybody's boyfriend
kamu suka dia karena dia sangat perhatian sama kamu,
terlalu manis untuk dilupakan ;)
dia menjadi pahlawan yang akan ada waktu kamu butuh,
bersikap layaknya a true gentleman,
bisa melakukan apa saja,
too damn impressive for you.
kamu suka dia karena kamu selalu nyambung waktu ngobrol sama dia,
dan dia adalah orang yang sangat seru diajak diskusi.
why not, then you think.
mengagumkan,
itu kesanmu terhadapnya.
tapi kemudian,
kamu baru sadar,
dia juga perhatian pada yang lain,
dia juga menjadi pahlawan bagi orang lain,
dia bersikap gentle dan mampu melakukan apa saja buat orang lain,
mengagumkan orang lain..
dia juga nyambung ngobrol sama orang lain,
dia juga teman diskusi yang asik bagi orang lain,
just like...
pacar semua orang.
itu dia.
kadang iri,
'kenapa dia memperlakukan orang lain sama seperti dia memperlakukanmu?'
cemburu,
'menyebalkan melihatnya bercengkrama dengan yang lain di depanmu..'
bahkan sirik,
'bahkan temannya saja mendapat perlakuan yang sama seperti pacar? kalau begitu, lebih baik jadi temannya saja, dan bisa mencari pacar lain, diperlakukan spesial dua kali kan?'
dilema.
itu yang kemudian kamu rasakan.
dia baik.
baik sekali terhadapmu.
tidak ada masalah yang terlalu sehingga kamu bisa yakin melepaskannya,
namun ini seperti penyakit akut dan menahun.
tidak pernah lebih parah,
namun pun tidak tersembuhkan.
masalahnya,
jika kamu mempertahankan dia,
selamanya kamu akan letih dan muak
dengan status dia sebagai 'pacar semua orang'.
kamu pun mulai berharap,
punya pacar yang bisa membuatmu merasa spesial.
bukan harus memujamu layaknya ratu,
namun setidaknya,
tidak begitu..
terlalu manis untuk dilupakan ;)
dia menjadi pahlawan yang akan ada waktu kamu butuh,
bersikap layaknya a true gentleman,
bisa melakukan apa saja,
too damn impressive for you.
kamu suka dia karena kamu selalu nyambung waktu ngobrol sama dia,
dan dia adalah orang yang sangat seru diajak diskusi.
why not, then you think.
mengagumkan,
itu kesanmu terhadapnya.
tapi kemudian,
kamu baru sadar,
dia juga perhatian pada yang lain,
dia juga menjadi pahlawan bagi orang lain,
dia bersikap gentle dan mampu melakukan apa saja buat orang lain,
mengagumkan orang lain..
dia juga nyambung ngobrol sama orang lain,
dia juga teman diskusi yang asik bagi orang lain,
just like...
.... everybody's boyfriend.
pacar semua orang.
itu dia.
kadang iri,
'kenapa dia memperlakukan orang lain sama seperti dia memperlakukanmu?'
cemburu,
'menyebalkan melihatnya bercengkrama dengan yang lain di depanmu..'
bahkan sirik,
'bahkan temannya saja mendapat perlakuan yang sama seperti pacar? kalau begitu, lebih baik jadi temannya saja, dan bisa mencari pacar lain, diperlakukan spesial dua kali kan?'
dilema.
itu yang kemudian kamu rasakan.
dia baik.
baik sekali terhadapmu.
tidak ada masalah yang terlalu sehingga kamu bisa yakin melepaskannya,
namun ini seperti penyakit akut dan menahun.
tidak pernah lebih parah,
namun pun tidak tersembuhkan.
masalahnya,
jika kamu mempertahankan dia,
selamanya kamu akan letih dan muak
dengan status dia sebagai 'pacar semua orang'.
kamu pun mulai berharap,
punya pacar yang bisa membuatmu merasa spesial.
bukan harus memujamu layaknya ratu,
namun setidaknya,
tidak begitu..
15 Maret 2009
mustahil
ternyata ada beberapa postingan tentang Tuhan.
mungkin sebagai bentuk saya benar-benar mencintai Tuhan :D
tapi sekarang,
saya sedang jenuh.
Tuhan pasti tau.
karena tadi pagi,
saya mengadu.
mungkin sebagai bentuk saya benar-benar mencintai Tuhan :D
tapi sekarang,
saya sedang jenuh.
Tuhan pasti tau.
karena tadi pagi,
saya mengadu.
"Tuhan, saya sedang jenuh.
entah kenapa..
bukan.. bukan..
saya bukan jenuh kepadaMu.
tidaakk..
tidak akan pernah saya jenuh padaMu..
tapi saya lelah,
lelah sekali..
saya tau saya bukanlah orang yang pantas mengeluh,
apa yang saya lakukan tidak sebanding dengan yang orang banyak lakukan,
mereka-mereka yang pantas mengeluh.
tapi saya lelah Tuhanku,
walaupun saya tidak pantas untuk lelah.
saya capek sekali.
saya bosan mengucapkan doa yang sama berkali-kali.
makin sering saya ucapkan,
makin sedih saya jadinya..
makin sering saya ucapkan padaMu,
makin sering saya ingat,
bahwa itu hampir mustahil.
seperti berharap matahari tidak terbit lagi.
seperti berharap kalau sehari bisa menjadi 25 jam.
mustahil.
tapi Tuhanku,
Tuhan semua orang,
saya sangat cinta dengan yang mustahil itu.
saya berharap bisa hidup dengan kemustahilan itu.
saya mohon Tuhan."
Langganan:
Postingan (Atom)