persis seminggu yang lalu, di jam yang hampir sama, saya memulai pembicaraan haha-hihi dengan seorang partner kerja, yang berakhir pada obrolan penuh inspirasi.
Saya tidak akan memberikan clue tentang dia karena kalo salah-guna, bisa dijadikan skandal di kantor *berasa eksis gitu ceritanya*. Yang jelas, saya selalu suka berdiskusi dengannya, walau selama hampir 2 tahun saya di kawasaki, kesempatan itu hanya datang sekali atau dua. Pandangannya tentang keyakinannya yang membuat saya senang bertanya dan belajar dari beliau.
Saya tertarik dengan kisahnya saat menceritakan betapa dia sedih karena anaknya belum bisa mengaji.
14 April 2012
04 Maret 2012
di minggu pagi ini...
Saya buka jendela untuk menyapa embun, udara yang ramah.
Banyak yang olahraga pastinya pagi ini.
Menghirup harapan itu melegakan.
Seakan saya hidup hanya tinggal bergantung padanya.
Langit cerah, biru dan awan putih,
waktu yang sangat sempurna untuk merasa bahagia.
Namun entah darimana,
perasaan itu datang tiba-tiba.
menusuk sampai menyakitkan,
aku merindumu,
yang teramat sangat.
Banyak yang olahraga pastinya pagi ini.
Menghirup harapan itu melegakan.
Seakan saya hidup hanya tinggal bergantung padanya.
Langit cerah, biru dan awan putih,
waktu yang sangat sempurna untuk merasa bahagia.
Namun entah darimana,
perasaan itu datang tiba-tiba.
menusuk sampai menyakitkan,
aku merindumu,
yang teramat sangat.
13 Februari 2012
mengerti
Obrolan terakhir kita mendingin,
Basa-basi, we both knew it..
Pertanyaanku pun menggantung di udara,
"kenapa kamu menjauh?"
Perasaan itu masih sama,
Hanya reaksinya yang berbeda.
Aku setengah mati berusaha membencimu,
Nyinyir dengan segala darimu..
Tapi masih lekat aku perhatikan,
Langkahmu lewat jendela,
Caramu tersenyum pada mereka,
bukan aku..
Bahkan sekarang aku mulai hafal,
Rautmu yang mengabaikanku.
Aku paham.
Setidaknya aku berusaha paham.
Memahami wajahmu dan menantinya bersemu lagi, saat menyapaku.
Basa-basi, we both knew it..
Pertanyaanku pun menggantung di udara,
"kenapa kamu menjauh?"
Perasaan itu masih sama,
Hanya reaksinya yang berbeda.
Aku setengah mati berusaha membencimu,
Nyinyir dengan segala darimu..
Tapi masih lekat aku perhatikan,
Langkahmu lewat jendela,
Caramu tersenyum pada mereka,
bukan aku..
Bahkan sekarang aku mulai hafal,
Rautmu yang mengabaikanku.
Aku paham.
Setidaknya aku berusaha paham.
Memahami wajahmu dan menantinya bersemu lagi, saat menyapaku.
Published with Blogger-droid v1.7.4
09 Januari 2012
one reason
"apa yang kamu lihat darinya?" suatu ketika, seseorang bertanya.
"menurutmu?" kataku, berbalik tanya padanya.
"have no idea." tandasnya.
"apa yang kamu lihat darinya?"
"hmmm.. biasa aja. kamu bisa mendapat yang jauh lebih baik dari dia. I mean, seriously, there's nothing special about this guy.. in my opinion." katanya.
"ok..." pikiranku penuh dengan jawaban apa yang akan ku berikan untuknya.
"menurutmu?" kataku, berbalik tanya padanya.
"have no idea." tandasnya.
"apa yang kamu lihat darinya?"
"hmmm.. biasa aja. kamu bisa mendapat yang jauh lebih baik dari dia. I mean, seriously, there's nothing special about this guy.. in my opinion." katanya.
"ok..." pikiranku penuh dengan jawaban apa yang akan ku berikan untuknya.
26 Desember 2011
LANGKAH PERTAMA : Panti Sosial Asuhan Anak Balita Tunas Bangsa
Ini berawal dari ob
rolan warung kopi untuk berbagi. Cari sana sini, awalnya dead-end karena tidak menemukan panti yang dekat dengan rumah. Tiba-tiba dapat Broadcast Message dari seorang teman tentang panti asuhan ini. Saya yakin beberapa dari teman-teman juga pernah mendapat BM seperti itu. Bedanya, tiba-tiba teman saya lainnya berkomentar bahwa salah satu contact person dalam BM itu adalah tantenya. WAW! Akhirnya memutuskan untuk menjadikan panti asuhan ini langkah pertama dari obrolan warung kopi tadi.
Namanya Ibu Tarsih. Nomor telepon pribadinya tidak bisa saya share di sini, karena ternyata setelah ngobrol dengan beliau, beliau sudah tidak lagi bekerja di sana.
rolan warung kopi untuk berbagi. Cari sana sini, awalnya dead-end karena tidak menemukan panti yang dekat dengan rumah. Tiba-tiba dapat Broadcast Message dari seorang teman tentang panti asuhan ini. Saya yakin beberapa dari teman-teman juga pernah mendapat BM seperti itu. Bedanya, tiba-tiba teman saya lainnya berkomentar bahwa salah satu contact person dalam BM itu adalah tantenya. WAW! Akhirnya memutuskan untuk menjadikan panti asuhan ini langkah pertama dari obrolan warung kopi tadi.Namanya Ibu Tarsih. Nomor telepon pribadinya tidak bisa saya share di sini, karena ternyata setelah ngobrol dengan beliau, beliau sudah tidak lagi bekerja di sana.
Langganan:
Postingan (Atom)