16 April 2009

last flight

aku akan menceritakan satu cerita,
yang hanya pernah aku berani ceritakan sekali,
pada seseorang ini.

bahwa,
beberapa waktu yang lalu,
aku memutuskan untuk keluar jogja.
keputusan sangat impulsif.

bangun pagi,
dengan perasaan tertekan,
aku memutuskan untuk pulang.
hari itu juga,
dengan pesawat pertama yang bisa aku jangkau,
aku pergi dari jogja.

di adisucipto,
aku iseng ke periplus.
membeli 2 buah buku,
2 buku berbeda,
tentang hal yang sama,
yang oleh manusia kerap disebut 'Tuhan'.

dan mungkin karenanya,
atau karena pesan berisi semangat untuk kembali ceria,
perasaanku jadi lebih enteng..

kadang merasa menyesal,
jika tahu perasaanku akan lebih baik saat matahari muncul,
mungkin tidak seharusnya aku bertindak sangat impulsif,
tapi kemudian,
saat membaca buku kecil berjudul 'what on earth am i here for?',
aku jadi sadar,
kalo bukan karena impulsivitasku,
aku ga mungkin sampai disini,
membaca buku ini,
dan merasakan perasaan ringan ini...

dan,
semakin jauh pesawat membawaku pergi,
semakin ringan perasaanku,



...sampai akhirnya jatuh lagi



aku membiarkan diriku jatuh lagi,
lebih tepatnya.

karena pada akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kota ini,
hari sabtu,
siang,
dengan alasan siang jarang hujan.

aku berangkat dengan berat hati,
dari rumah pukul setengah 10 pagi,
'pesawatku take off jam 1 ma..' begitu alasannya,

sampai di bandara pukul 12,
aku memutuskan untuk menunda makan siang,
'ntar aja di adisucipto lah.'

tapi kemudian,
pukul 12.40 pengumuman delay pesawat karena-alasan-teknis itu berkumandang,
delay selama 1 jam,
dengan perut kosong,
dan seperti-biasanya-kalo-ga-makan aku pasti pusing,
aku memutuskan untuk menunggu saja sambil membaca lagi 2 buku sakti itu.

masuk ke dalam pesawat,
perasaanku aneh.
sumpah aneh.

ada rasa takut akan kematian,
mungkin itu lebih konkretnya.

pikiranku buruk semua,
ketika bapak di depanku berkenalan dan berbincang akrab dengan seorang disebelahnya,
aku malah berpikir,
'yah, bersosialisasi sebelum meninggal'.

sinis,
dan parah sekali.

seumur hidup aku menggunakan jasa udara tidak pernah sekalipun aku berpikir seperti itu.
yang ada di otakku hanya mati, mati, mati.

tetapi perjalanan menunjukkan sebaliknya,
cuaca sangat cerah,
dengan penerbangan yang smooth,
mematahkan pikiran paling gelapku saat itu.

yah,
saat cerah itu,
hanya sampai 20 menit mencapai adisucipto,
setelah pramugari mengatakan,
'sebentar lagi kita akan mendarat di bandara adisucipto yogyakarta,
waktu menunjukkan pukul bla bla bla bla..'

mungkin si pramugari baru selesai menghela napas sekali,
tiba-tiba dari kemudi terdengar suara sang kapten,
'... karena alasan cuaca, untuk sementara waktu bandara adisucipto yogyakarta di tutup baik untuk penerbangan maupun pendaratan.. kita akan berputar beberapa waktu di atas yogyakarta sambil menunggu cuaca membaik...'

dan terlihat memang,
pesawat berputar beberapa kali,
*cukup-lama-sampai-aku-mulai-berpikir-buruk-lagi*

lalu setelah 15 menit berputar tanpa tujuan,
sang kapten menyapa para penumpang lagi,
'karena cuaca di yogyakarta semakin memburuk, maka kita akan mendarat darurat di bandara adi sumarmo solo.'

dan perjalanan dari yogyakarta ke solo yang memakan waktu sekitar 20 menit itu berisi turbulensi terhebat yang pernah aku rasakan,
well,
you may call me lebay,
tapi apa gambaran paling jelas untuk memberitahukan bahwa seisi pesawat berteriak 'allahu akbar' saat pesawat bergoncang ke kanan kiri atas bawah itu?

dan aku pun mulai ketakutan lagi,
20 menit dalam kondisi naik turun dan teriakan 'allahu akbar' membuat aku makin ketakutan,
dan hanya bisa memeluk tas yang aku bawa ke dalam kabin.

di adisumarmo,
yang pertama ku hubungi jelas keluargaku,

jam setengah 10 aku sudah pergi dari rumah,
tetapi sampai jam 4 lebih belum sampai ke jogja,
bahkan ada berita mendarat darurat di solo,
siapa orang tua yang tidak panik?

aku pun menghubungi dia,
yang lantas serta merta membalas dengan reaksi negatif yang ku dapat,
'biarlah...' pikirku.

30 menit menunggu di dalam kabin tanpa ac itu serasa berada di bis salemba-kampung rambutan saat jam pulang kantor.
kelaparan,
panas,
pengap,
dan parahnya,
ga bisa buka jendela.

banyak penumpang yang meminta turun di solo saja,
aku salah satunya,
rasanya lebih aman jika kakiku menjejak di tanah.
tapi ternyata tidak bisa.
sial.

saat ingin take off pun,
entah mengapa mengalami delay lagi sekitar 20 menit,
semua penumpang mulai kecewa, resah, dan takut *jelaslah*,

dan saat akhirnya pesawat siap untuk terbang,
serta merta solo menjadi sangat gelap,
dengan awan hujan hitam menyebalkan itu,
dan ya,
sang kapten tidak bisa men-delay untuk kesekian kalinya,
akhirnya kami take off di tengah hujan lebat sekali.

turbulensi parah itu dimulai lagi,
teriakan itu muncul lagi,
dengan tangisan bayi yang tidak putus-putusnya,
sampai muak aku berada disitu,

dan akhirnya berpikir,
'ya sudahlah,
jika memang aku harus mati sekarang,
matilah..

mungkin ini alasannya dia memutuskan aku minggu lalu,
mungkin ini alasannya aku sangat impulsif untuk bertemu keluargaku,
mungkin sebagai salam perpisahan..

terjadilah apa yang harus terjadi..'

aku tidak lagi berpikir harus bagaimana jika pesawat jatuh di laut,
aku tidak lagi berpikir apakah pelampung itu benar ada di tempatnya,
aku tidak harus berpikir apakah saat pesawat ini jatuh,
aku hidup dengan luka parah atau langsung mati,
aku tidak lagi berpikir itu...

aku nikmati goncangan hebat itu layaknya menikmati rollercoaster,
ikut bergoyang saat pesawat bergoncang hebat,
memegang lengan kursi lebih erat saat pesawat naik dan turun seenaknya,
hanya memikirkan itu sebagai saat-saat terakhir.

rasanya lebih lega.
aku tidak muak lagi.

tapi saat pesawat mendarat di yogyakarta,
dengan mulus disertai seruan 'alhamdulillah' dari tiap kursi,
aku mulai ketakutan...

2 komentar:

unknown mengatakan...

eh postingan lo serem amet nadh. dah tau klo gw mau ketemu lo mesti terbang 20 jem dulu...

nadira mengatakan...

@bono

setuju.
there's more to life than this.
:-SS

@dikaf
bukan sereeemm.
tapi bener tauu.
lo sii jarang menggunakan pesawat lokal :D