sudah 3 hari saya meninggalkan Jogja. Kota yang dengan mudah membuat saya jatuh cinta padanya. Rasanya sedikit banyak kehilangan, tentu saja. Tapi di sini pun saya sadar, ada kehidupan yang indah buat saya, dan semoga memang masa depan saya melaluinya.
Mungkin ini semacam kilas balik, awal saya di Jogja -sampai sekarang saya meninggalkan Jogja. Saya menyadari bahwa banyak sekali yang saya dapatkan di sana, itu sebabnya saya sangat sayang sekali dengan kota itu.
Sebelumnya, saya ingin berterimakasih kepada teman saya yang membuat saya yakin untuk belajar di Jogja.
Terima kasih sudah mengenalkan saya pada kota indah itu. Tapi saya rasa, peranmu memang hanya itu, teman. :)
Layaknya seorang anak muda ibukota *euuwwhh!* yang tiba-tiba harus pindah ke daerah, saya mengalami cultural shock di awal-awal kepindahan saya. Sesederhana volume suara saya, walau saya tidak menyadarinya, tapi teman-teman SMA saya, katakanlah, banyak yang protes bahwa saya menjadi orang yang pendiam. haha. Cultural shock juga saya rasakan terhadap kata sapaan, "aku-kamu", hehe. Hal lain adalah masalah angkutan umum. Selama saya di Jakarta, saya bukanlah orang yang punya 'supir pribadi' yang bisa mengantar kemana saja. Saya sangat 'angkot-dependent', sehingga agak kaget ketika saya tiba di Jogja, saya bertanya bagaimana mencapai daerah Y, dan orang yang saya tanya dengan gampang menjawab, "wah, ga ada jalurnya mbak." Owcrap! Apa orang di Jogja ga ada yang pernah mengalami ganti-angkot-berkali-kali ya? haha. Masa itu...
Saya pun sempat jengah mendengar teman-teman berbicara 'rahasia' menggunakan bahasa jawa. Menyebalkan ya ketika saya tanya "apa sih?" jawaban mereka hanya "ada dehh!" dan ketawa-ketawa menyebalkan. Yaaa, maklumlah, tidak ada seorang pun di keluarga saya yang berasal dari tanah jawi ;)
Kehidupan kampus pun begitu saja, kuliah-ujian, kinda 'balada senior-junior', dan banyak lagi. Sebenarnya tidak terlalu banyak yang saya dapatkan dari kampus, really, selain banyak pengalaman pertama yang cukup menyenangkan. Dan -oh, gelar S.Psi di belakang nama saya sekarang.
Di Jogja pun tempat saya banyak sekali kemakan omongan. Mulai dari hal-hal sepele, sampai hal-hal besar :D
*ah, stop talking about kemakan omongan ya* ;)
Kehilangan juga saya dapatkan di sini. Saya pernah sampai depresi sangat parah -dan mungkin para asisten ukp yang lebih paham- yang membuat saya cukup lama under-drugs. Juga patah hati yang membuat saya macem-macem, sampai akhirnya menemukan para 'my-mental-defenses'. Alifa Syamantha Putri, Dewi Lestari, Manik Nurlinda, Monika Windriya Satyajati, Nathissa Yona PP, Vella Imaninda, Fadhila, Banu Aji Dibyasakti, dan beberapa lainnya. Terima kasih yaa sudah menemani saya saat menjadi anak-perantauan. :kiss:
Kehilangan juga saya alami di RSUP Dr Sardjito. Yah, sudah berapa banyak kematian di sana, dan mereka adalah teman-teman bermain saya, yang lucu dan bahagia. Masih tetap bisa membuat saya menangis jika mengingat mereka.. Baik-baik kamu di sana yaa..
Penemuan Tuhan pun saya dapatkan di sini. Banyak teman tukar pikiran yang entah-membuka-atau-menyesatkan pikiran saya, hehe. Tapi saya berterimakasih sekali pada mereka, karena telah mengenalkan saya pada dunia baru, pemikiran baru, cara pandang baru, yang ternyata memang tidak ada yang salah atau benar, lebih salah atau lebih benar. Terima kasih yaaaa, kamu-kamu-yang-pasti-tau-siapa-kamu :)
Juga atas keteguhan hati seorang-teman-yang-beranjak-jadi-sahabat-dan-semoga-Tuhan-mengizinkan-kita-bersama yang mengajarkan saya untuk menetapkan hati dan bahwa hidup ini merupakan komitmen akan suatu pilihan. Terima kasih Johan atas tamparannya yang paling lembut. *hahahaaha. I dont know why I used that phrase*
Well, rasanya akan terlalu panjang sekali postingan kali ini jika saya menuliskan langkah demi langkah yang menciptakan rasa cinta yang cukup mensejajarkan Jogja dengan kota kelahiran saya. Pada akhirnya, saya hanya bisa berterima kasih pada Tuhan dan semua orang yang mengasihi saya, atas semua kesempatan untuk belajar dewasa. It's hard, yes, but we'll through these. Ada rasa sakit sedikit yang membuat saya meneteskan air mata jika mengingat kota itu. Entah apa yang dia punya, tapi saya suka sekali.
And now, I'm facing my next level of life, berjuang untuk sesuatu yang saya tau saya cintai, berjuang untuk sesuatu yang orang lain sebut masa depan, apapunlah. Yang pasti saya berjuang di sini, dan suatu saat nanti, saya pasti kembali menapaki langkah demi langkah yang akan menciptakan rasa haru dan syukur pada Yang Kuasa.
See you later, Jogja.
7 komentar:
naaaadh,,sumpah nangis lagii..
mungkin gw jd sdh mencintai kota ini sama spt jakarta..
dan masih belum ngerti bagaimana bila sdh tdk di kota ini lg..
tapi gw mempersiapkan..
mempersiapkan diri gw mengalami cultural-shock yg lo jelaskan..
mempersiapkan diri utk merasakan kangen sm kota ini..
btw,terimakasi utk penyebutan nama ku d postingan ini..
i really appreciate it! :)
kmu juga berarti bnyk dlm satu masa kehidupan aku..
lufyu, dear nadh..
Huhu. Iyaaaa- can't believe I don't have any reason to go there, anymore :(
Kangeeeennnn! Sumpaaahh. Even perempatan ringroad can be sooooooooooooo amazingly beautiful. Hehe.
Yaaaa, sepertinya memang kita semua akan melaluinya.. Hukkss.
*never get enough of jogja's talking ;)
hmm
dah lulus ya??
slamat dah..
pasti pergi utk kembali :D
will miss u a lot dear,, :hug
@dwi wahyu arif nugroho
iyaa, alhamdulillah udah lulus.
semoga bisa kembali ke kota itu dehh. :)
@alips
i miss you too.
oh dear,
mau kesana aja gimanaaaa-
hope it can wipe away my tears..
Jogja yah. Memang banyak kenangan disana :) Kota indah yang sealu saya rindukan. Bukan, bukan di tengah kota besar itu. Tapi di puncak sana. dimana saya amsih bisa mendengar suara jangkrik, menghirup udara segar. Ah, senangnya jika bisa tinggal disana :)
assalamu'allaikum,
klo sedih meninggalkan jogja, sering.2x maen ke sono lagi dong.. klo perlu pemandu hubungin acounting 223 "aku yg autis"..hehehe.., klo perlu kursus bahasa balikan di 223 bisa jadi gurunya kok... gratis.. hehehe..
sorry ya krn ga pakek kacamata jadi sering namatin, buat meyakinkan aja ini bening apa burem..qiqiqiq..
*santai aja.. si autis ini bukan pengganggu kok.. paling.. cuma biasanya godain doang..qiqiqiq.. krn aku anak yg baik hati dan tidak sombong.. makanya aku menghindari ini :
QS. al-Isra' (17) : 83
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.
copas aja link ini klo kangen jogja biartambah kangen,
http://www.youtube.com/watch?v=BBPs3Tkg0JA
wassalamu'allaikum..
Posting Komentar