Saya lupa atau bahkan tidak tahu mengapa dosen tersebut meminta kami, muridnya, membaca itu. Apakah diminta dirangkum, dianalisis, atau dipresentasikan. Entah. Tapi setelah saya membaca buku tersebut, saya yakin, beliau meminta kami mengilhami. Bahwa pendidikan bukan hanya menjelaskan dan dijelaskan, memberitahu dan diberitahu, nilai dan ipk. Tetapi bahwa pendidikan adalah kesempatan untuk mengilhami satu sama lain. Murid dengan dosen, kakak dengan adik, para pasangan....
Sejak itu, saya selalu mencari buku-buku lainnya karya Mitch Albom. The five people you meet in Heaven, For One More Day, dan terakhir Have a Little Faith. Buku terakhir ini yang ingin saya bagi dengan kalian.
Have a Little Faith versi Indonesia berjudul Have A Little Faith (Sadarlah) - a true story. Covernya sederhana. Menurut pembuatnya, cover ini terinspirasi dari buku doa usang milik salah satu narasumbernya, yang diikatkan dengan karet gelang. Simpel. Saya tertarik. Begitu pula dengan tag-nya : "Sebuah kisah nyata tentang perjalanan iman untuk menemukan tujuan hidup". Touching.
Kalau mau tahu bagaimana isinya, lebih baik cari di toko buku, atau sekedar cari reviewnya di internet, karena saya hanya ingin membagi sepotong kecil dari buku setebal 260an halaman ini. Bagi saya, analogi dalam kisah ini sangat sederhana, tapi akan berkesan sangat dalam, bagi yang berpikir dan dapat merasa.
Enjoy!
Kutipan Khotbah Reb, 1975
"Seorang lelaki mencari pekerjaan di sebuah tanah pertanian. Ia menyerahkan surat rekomendasi kepada bosnya yang baru. Isinya hanyalah, 'Ia tidur pada waktu badai.'
Si pemilik pertanian tengah sangat membutuhkan tenaga kerja, jadi ia mempekerjakan lelaki itu.
Beberapa minggu berlalu, dan tiba-tiba, di tengah malam, badai yang sangat kencang mengamuk di lembah itu.
Terbangun oleh suara hujan deras dan angin yang menderu-deru, si pemilik pertanian melompat bangun dari tempat tidurnya. Ia memanggil pembantu barunya, namun lelaki itu tengah tidur lelap. Maka ia bergegas ke kandang ternak. Ia kaget ketika dilihatnya ternak-ternaknya sudah aman dengan pakan yang cukup banyak.
Ia berlari ke ladang. Dilihatnya rumpun-rumpun gandum telah terikat dan terbungkus dalam kain terpal.
Ia bergegas ke lumbung. Pintu lumbung sudah terpalang, dan biji-bijian yang disimpannya di sana tetap kering.
Dan pahamlah ia. 'Ia tidur pada waktu badai.'
Para sahabat, jika kita mengurusi hal-hal yang penting dalam hidup, jika kita bersikap pantas terhadap orang-orang yang kita cintai, dan bertindak sejalan dengan keyakinan kita, hidup kita tidak akan didera oleh berbagai urusan yang tertunda. Kata-kata kita akan selalu tulus, pelukan kita akan selalu erat. Kita tidak akan pernah berkubang dalam derita penyesalan, 'Mestinya aku bisa, mestinya aku sudah melakukannya.' Sehingga kita bisa tidur pulas sewaktu ada badai.
Dan ketika tiba waktunya, salam perpisahan kita akan tuntas.
2 komentar:
penggalan itu sangat mengena. .mungkin badaiku
sudah datang
Badai pasti berlaluuu.. \('.')/ *joget
Posting Komentar