26 April 2011

dear twilight

jangan singgah terlalu lama, senja,
kamu tahu betapa mudah aku terpesona.


jangan sempurnakan pancaranmu, senja,
silaunya membuatku buta.


kamu terlalu cepat datang,
aku masih menikmati mentari,
yang sejak pagi setia mengiringi,
dan akan kembali lagi esok hari.

ya,
mentari akan datang lagi besok.
dan itu sudah pasti.

tidak sepertimu,
yang datang dan pergi sesuka hati.
kadang lama,
kadang sekejap,
lalu tidak datang lagi.
hanya buat pesona,
namun tidak sepenuh diri.


ribuan mata memujamu, senja.
aku tidak lagi kebagian tempat untuk mengagumimu.
jadi,
biarkan aku menikmati mentariku lebih lama,
lebih hangat,
lebih cerah.


kamu akan tetap aku nantikan,
untuk membiarkan diriku kagum setengah mati,
lalu pergilah,
karena aku tidak menyimpan harap melihatmu esok lagi,
biarlah kehadianmu datang dan pergi,
tanpa kendali,
layaknya ombak senja ini.

13 April 2011

terima kasih, hujan.

mungkin kamu harus berterima kasih pada hujan,
karenanya aku mengingatmu lagi malam ini,
seorang yang hadir hanya semusim,
yang membuatku sering sekali kehujanan.
yang datang dalam diam,
dan pergi dalam hujan.


mungkin aku harus berterima kasih pada hujan,
karenanya kita dapat berbincang panjang lebar,
tentang dirimu yang ingin kamu sembunyikan,
tentang diriku yang hanya kamu yang tau.


mungkin kita harus berterima kasih pada hujan,

karenanya aku tau,
kamu akan selalu membiarkanku memakai helmmu,
saat helmku basah layaknya bak kamar mandi,
dan ucapan sayangmu yang terhenti saat hujan menderas lagi.

dan karenanya kamu tau,
ada sebersit cinta yang aku larungkan bersama harapan dan hujan malam itu,
sebuah cinta yang ikut pergi bersamamu saat musim berlalu.

10 April 2011

sakitmu

membayangkan diri memelukmu,
merasakan tiap sakit yang kamu rasakan,
membiarkan mengalir pergi dari tubuhmu,
tubuh yang membungkus jiwa yang tanpa sadar
telah tumbuh begitu besar
dalam diriku,
yang telah begitu menguatkan dalam tiap perjalananku.


membayangkan aku menemani lelapmu,
menghitung tiap nafas yang membuai dalam tenangmu,
tersenyum dalam gelap karena enggan membangunkanmu,
tidak ingin melepas tiap detik tanpa memandangimu,
memandang wajah lelahmu yang damai dalam tidur.


membayangkan diri membelaimu,
meyakinkanmu bahwa esok akan membawa pergi sakitmu,
esok akan membawa pergi keluhmu,



dan berdoa padaNya,
"Tuhan,
ringankan sakitnya,
kuatkan dirinya,
peluk jiwanya,
saat pelukanku hanya mampu menghangatkan tangannya,
cintai dia,
karena cintaku tidak mampu melepaskan,
simpul lelah dalam hatinya."

07 April 2011

cinta, yang sebenarnya.

masih mudah menghitung dengan jari,
jumlah pertemuan aku denganmu.

masih mudah mengingat,
saat pertama engkau tersenyum padaku di waktu lalu,
juga tentang pembicaraan pertama kita.

masih muda sekali dalam ingatan,
bagaimana engkau berkisah, bercerita, berkelakar.
bagaimana engkau mengajarkan banyak hal,
bagaimana engkau berbicara seakan telah mengenalku lama.

tidak banyak yang bisa aku gambarkan,
mengenai sosokmu yang mengagumkan,
terbentur kenangan yang terbatas,
sebut saja begitu..

namun satu aku sadar,
tidak perlu banyak,
untuk membuatku yakin,
engkau terlalu mudah dicintai,
engkau terlalu mudah membuatku mencintaimu.

yang terjalin

aku pun merindukanmu,
di balik kekuatanku,

aku masih menangis malam ini.



rindu itu indah,

hanya mendoakan dari jauh,

berbincang lewat mimpi,

bertukar cerita dalam hati.



jika hari tidak lagi mempertemukan kita,

biarkan asa yang berbicara,

jika asa terlalu kuat menyiksa,

biarlah kepada Tuhan kita kembalikan segala.