10 Oktober 2012

angin dan hujan

Dulu saya pernah terjatuh dalam,
Rasanya, masa itu masa terakhir saya kuliah.
Saya meragukan diri saya sendiri.

Saya stress.
Saya kehilangan keyakinan.
Saya kehilangan kepasrahan pada Tuhan.

Saya bukan orang yang mudah terkubur,
saya bukan orang yang dengan mudah mengizinkan hal sederhana menghancurkan saya.

Tapi malam ini, saya kembali ragu.
Pada semua hal.
Pada semua pertanda.
Pada semua rencana.

Lagi,
Saya mendebat Tuhan.

Dan saya tetap terjatuh.

Dalam.

Lagi-lagi saya mencari angin dan sejumput hujan,
Untuk membawa saya terbang,
Sejauh Merapi di puncaknya,
Sejauh Parangtritis di ujungnya,
Sejauh ketenangan yang makin mahal,
Sejauh semua kemenangan yang pernah di tangan.

14 September 2012

Sejam bersamamu


Saat itu kamu baru saja tiba dari negara tetangga. Kita berjanji bertemu pukul enam sore.

Jam enam kurang tiga lima, aku sudah tiba. Katamu kamu sudah disana.

Kita berbincang cukup lama sebelum kita menyadari bahwa kita berada di zona yang berbeda.

Jam mu masih terlalu cepat satu jam. Sepertinya kamu lupa mengembalikan saat tiba di sini.

"haha. Berarti aku dapat extra satu jam lagi untuk bersamamu! Haha."

Jakarta, duaribuduabelas.
Tentang kamu yang kadang mengintip dari masa lalu.
Published with Blogger-droid v1.7.4

10 September 2012

candu?

Aku jenuh merangkai kata tentangmu.
Tapi tangan ini tak henti merajutnya.

Masih ada sekotak penuh harapan yang ingin ku jejerkan hingga sampai padamu.

Kamu dimana? Sudah bahagiakah?

Masih ingatkah kamu tentang suatu sabtu saat kamu bilang,
"I'll take care of you.. I've got you, dont worry..."

Lagi-lagi malam saat aku mencandumu.
Published with Blogger-droid v1.7.4

11 Agustus 2012

Yang terakhir darimu

Saya memulai tulisan ini dengan air mata yang masih menggenang. Membutuhkan keberanian untuk akhirnya menulis tentangmu. Karena berbeda dengan ingatan, tulisan mencatat jelas emosi yang ada.


Ini hari ke sepuluh semenjak Tuhan memintamu pulang. Malam itu, Kamis, 2 Agustus 2012. Saya ingat jelas ruangan tempatmu berada, ingat jelas wangi menusuk semenjak saya menginjakkan kaki diruangan tempatmu terbaring, kesakitan. Saat itu, Ramadhan. The blissful month of Ramadhan. Tapi saya tidak pernah tahu Tuhan menyimpan ribuan kejutan untuk saya di Ramadhan ini. Termasuk kepergianmu.


Kamu mengeluh sakit pagi kemarin, tapi saya abaikan. Saya juga sedang sakit saat itu. Sakit yang sama seperti yang kamu rasakan. Sakit perut teramat sangat. Tapi saya tetap memaksakan diri berangkat ke kantor. Saya sampai sekarang masih dihantui pertanyaan, "seandainya saat itu saya tidak pergi ke kantor.....". Tapi cukuplah sudah. Saya teramat lelah dengan berfikir betapa durhakanya saya selama ini.



Malam saat saya pulang kantor, kamu memohon untuk dibawa ke rumah sakit.

20 Juli 2012

Langkah Pertama : #SenyumJakarta Yayasan Panti Asuhan Kampung Melayu

"Bukankah semua orang pada dasarnya senang berbagi kebaikan?"


Ini bermula dari keinginan kami untuk berbagi, dengan sedikit ego, ingin berbagi secara langsung, ga mau lewat yayasan atau badan amilzakat yang ada. Karena itu kami membangun jalan sendiri untuk menyentuh langsung ke pihak yang membutuhkan.

Karena terkesan dengan misinya SenyumKita.com yang ingin berbagi melalui pendidikan, maka kami buat 'subsidiary'nya di Jakarta. That's why we named it #senyumJakarta :)

Intinya sederhana. Kami berbagi lewat pendidikan. Kami berusaha untuk mengajar dan berbagi ilmu kepada anak-anak yatimpiatu yang membutuhkan.