05 Oktober 2013

The Moment When You Said You Do



Mengenai Baskoro Pramadani ini,
rasanya tidak banyak yang bisa saya tuliskan,
dia yang saya yakini yang terbaik,
yang di-ridhoi.

Jalan menujunya selalu mudah,
bahkan di saat sulit sekalipun,
selalu diringankan.
Alhamdulillah.

Saya ingat pertama kali dia mengajak saya pergi berdua,
ngedate.
Dalam rangka apa ya? Saya lupa alasan apa yang dia gunakan,
tapi akhirnya ya saya pergi dengannya.

Janjian jam dua belas siang, dan dia datang jam satu.
Nice move. errr...

dan tidak lagi

Ribut.
Kalian berisik.

Suaramu tidak lagi bisa ku dengar.
Menggema saja seperti lagu tanpa nada.
Menyakitkan.

Kali ini aku tidak lagi membaca bibirmu.
Kepalaku sakit. Mataku mengembun.
Tidak lagi jelas.

Aku sekuat tenaga menggetarkan pita suaraku,
tidak keluar apapun,
tidak suara, tidak bisikan,
tidak ada.

Jadi,
beginilah kita sekarang.
Aku dan kalian.
Suara yang terlalu mendengung,
dan yang terlalu menghilang.

Jakarta, Februari 2013.

02 Mei 2013

dua ribu tiga belas

Wow.
Terakhir nulis adalah tahun lalu, sedang ini sudah mid 2013. Hebat malasnya!

Dua ribu tiga belas diawali dengan perubahan yang besar-besaran dalam hidup. Semuanya terkesan berubah at this very moment. Saya pindah kerja, saya pindah rumah, saya berpisah, saya bertemu, beradaptasi lagi, begitu kondisinya.

Menyenangkan, menyedihkan, belajar lagi. Sampe akhirnya lupa buat update blog tercinta ini :)

Hal pertama adalah,

10 Oktober 2012

Sakitmu....

Membayangkan diri memelukmu,
Merasakan tiap sakit yang kamu rasakan,
Membiarkan mengalir pergi dari tubuhmu,
Tubuh yang membungkus jiwa,
yang tanpa sadar sudah tumbuh begitu besar dalam diriku,
Yang telah begitu menguatkan dalam tiap perjalananku.

Membayangkan aku menemani lelapmu,
Menghitung tiap nafas yang membuai dalam tenangmu,
Tersenyum dalam gelap karena enggan membangunkanmu,
Tidak ingin melepas tiap detik tanpa memandangimu,
Memandang wajah lelahmu yang damai dalam tidur.

Membayangkan aku membelaimu,
Meyakinkanmu bahwa esok akan membawa pergi sakitmu,
Esok akan membawa pergi keluhmu,
dan berdoa padaNya,

"Tuhan, ringankan sakitnya. Kuatkan dirinya. Peluk jiwanya saat pelukanku hanya mampu menghangatkan tangannya. Cintai dia karena cintaku tak mampu melepas simpul lelah dalam hatinya."

angin dan hujan

Dulu saya pernah terjatuh dalam,
Rasanya, masa itu masa terakhir saya kuliah.
Saya meragukan diri saya sendiri.

Saya stress.
Saya kehilangan keyakinan.
Saya kehilangan kepasrahan pada Tuhan.

Saya bukan orang yang mudah terkubur,
saya bukan orang yang dengan mudah mengizinkan hal sederhana menghancurkan saya.

Tapi malam ini, saya kembali ragu.
Pada semua hal.
Pada semua pertanda.
Pada semua rencana.

Lagi,
Saya mendebat Tuhan.

Dan saya tetap terjatuh.

Dalam.

Lagi-lagi saya mencari angin dan sejumput hujan,
Untuk membawa saya terbang,
Sejauh Merapi di puncaknya,
Sejauh Parangtritis di ujungnya,
Sejauh ketenangan yang makin mahal,
Sejauh semua kemenangan yang pernah di tangan.