17 Desember 2014

Kedua

Senin, 15 Desember 2014.

Hari ini saya berjanji untuk datang ke kantornya Baskoro. Selain untuk permisi dan lapor diri karena di sini lumayan lama, saya juga sekaligus membawa oleh-oleh dari Indonesia.
Ini salah satu rendang siur asli Padang, saya juga bawa Kripik Balado Kristin Hakim asli padang, dan Kripik Pisang Coklat Suseno dari Lampung, Ga perlu repot karena bisa beli langsung di Rasa Nusantara. Ini online shopping untuk oleh-oleh seluruh Indonesia. Silakan langsung kontak FB-nya aja :)

Pertama

Pesawat Airasia ini selalu nyaman buat saya, apalagi dengan privilege duduk di hotseat bagian depan, semacam duduk di kelas eksekutif deh. Hehe. Ditambah, saya tidak pernah (semoga tidak akan pernah) kena delay oleh maskapai ini. Thumbs up!

Memulai hari jam 3 pagi, ini berarti akan tidur sepanjang Jakarta-Bangkok. Dan benar saja, saya hanya terbangun saat makanan diantar, saat harus isi formulir imigrasi Thailand, dan saat tiba. Lumayan tidur dan makan 3 jam lebih. Tau-tau sudah hampir mendarat dan sudah pukul 11 siang.

Turun dari bandara, yang pertama dicari adalah toilet. Tentu. Selain emang kebelet, saya pengen tau standar toilet di Thailand (sok banget). Ga beda banget sama Jakarta. Lumayan.

Rencana saya adalah, tiba di Bangkok, sholat Dhuha, cari cemilan, sholat Dzuhur, masuk pesawat lagi. Kenyataannya, mana ada mushola di bandara Don Mueang ini! Hahaha. Situ pikir masih di Jakarta, mushola betebaran dimana-mana.

Hari ke-16, Minggu, 14 Desember 2014

Hari dimulai jam 3.15 pagi hari ini. Saya terbangun kaget dan buru-buru mandi. Maklum, seharusnya saya berangkat jam 3.30 pagi ini ke bandara, tapi apa daya, semua baru siap jam 4 pagi.

Kepergian ini saya diantar oleh hampir semua keluarga (yang tersisa di sini), saya diantar Astrid, Mahmud, Ibu Mahmud, Bapak Mahmud, dan Mba Pon.
Adik saya yang bungsu, saat saya bilang, "Bing, aku pergi ya!" jam 4 pagi tadi, dia hanya komentar, "Ok!"

Dasar.

16 Hari Menujumu

Hari ke-1, Sabtu, 29 November 2014
Hari pertama tidak ada kamu. Ah, biasa. Perpisahan kita semenjak Februari rasa rasanya melatih saya menjadi lebih tidak-bergantung pada kehadiranmu.
Kamu masih meraba jalur komunikasi dengan saya sepertinya, buktinya belum ada kabar apapun darimu semenjak sms terakhir semalam dari nomor HP rekan kerjamu di sana yang mengatakan bahwa kamu sudah tiba.
Saya asyik bermain dengan keluarga saya. Mereka tetap menjadi penghiburan terbesar dalam diri saya, selain kamu tentunya. Sambil belajar mempersiapkan UAS perkuliahan saya minggu depan.


Hari ke-2, Minggu, 30 November 2014
Masih belajar untuk UAS. Komunikasi denganmu sudah settled. Whatsapp kita sudah lancar, bahkan kita mencoba Skype, suatu bentuk komunikasi yang bahkan sengaja saya daftar hanya karena kamu pergi ini. Menatap mukamu lagi melalui Skype, membuat saya nyengir sendiri. Saya kangen juga ternyata.
Oh iya, saya batuk tidak berhenti malam ini. Akhirnya meminta dikerok oleh Mba Pon, dan saya terlelap.


Prolog

Kabar itu datang tiba-tiba.
Hari Selasa, 25 November 2014 dan kamu harus berangkat tanggal 28 November 2014.
Tidak! Hubungan jangka panjang ini menyulitkan. Saya harus berpisah dari kamu semenjak Februari 2014 yang lalu, dan sampai sekarang masih harus terpisah lagi?
Bahkan, terpisah negara?

Seperti biasa, pekerjaan ini adalah pekerjaan no compromise.
Saya harus terbiasa dengan ritme dan perpisahannya.
Yah, namanya Kementrian Luar Negeri, berpisahnya juga harus antar negara. Zzzz..

Saya sengaja cuti untuk membantumu packing.
Sebulan adalah waktu yang cukup lama untuk dimasukkan ke dalam koper, rasanya.
Dan cuti sehari lagi untuk mengantarmu pergi ke bandara.