05 Januari 2014
Sebelum hari Kamis
Saya adalah orang yang mungkin bagi sebagian orang disebut 'punya indera ke enam'. Tapi saya lebih senang mengakuinya sebagai bentuk 'kesadaran yang lebih tinggi akan kehadiran Tuhan'. Ya, saya lebih banyak mendengar dan melihat dibanding yang lain.
Pertama,
Hari Senin malam, 3 hari sebelum hari Kamis itu. Saya sedang shalat maghrib setelah berbuka puasa. Alhamdulillah hari itu saya bisa pulang sangat cepat dari kantor.
Shalat maghrib saya berisi tangisan, bahkan ratapan tanpa saya tahu tentang apa. Semua rasanya sedih. Selama shalat, mulai dari niat sampai salam, tidak putus saya menangis tersedu-sedu.
Apakah ini Tuhan?
Kedua,
Di saat yang sama, setelah saya shalat isya, saya melanjutkan dengan shalat tarawih. Sangat biasa saat saya shalat di mushola rumah, merasakan 'ditonton' dari belakang. Namun sekarang, rasanya 'dia' mendekat, bahkan menutupi cahaya lampu tengah di ruang atas, mendekati saya. Sampai titik sangat takut saya, dan tidak bisa menyelesaikan rakaat kedua shalat saya itu.
04 Januari 2014
Nadh, Pake Jilbab Sekarang?
Aku biarkan semua mengendap. Aku pikirkan. Aku amati. Aku rasakan. Benarkah?
Ada sekelumit ragu. Tapi ragu seperti apa aku belum bisa mengurainya. Sampai akhirnya aku membaca sebuah blog tentang trend hijab jaman sekarang.
Ada sebuah pertanyaan terbuka yang tertera, "bukankah dengan memutuskan memakai jilbab berarti menurut aurat? Berarti tidak menunjukkan lekuk tubuh? Di samping itu, di atas semuanya, bukankah berhijab berarti menutup semua baik kelebihan diri, kemewahan, kecantikan dsb, dan siap hidup dalam kesederhanaan?"
Saat membaca itu, seperti menjawab pertanyaan akan rasa ragu tanpa tuan yang menghimpit ini. "oh... Aku masih ragu karena itu..."
Tuhan sudah sedikit-sedikit memberikan jawaban atas harapanku.
27 November 2013
Melihat Tuhan
Tuhan selalu berbicara pada saya,
Lewat mimpi, lewat suara, lewat apa saja.
Tapi kadang berbenturan.
Entah Tuhan atau setan.
Dan saya masih diantara dua.
Apakah itu Tuhan lagi,
berbicara pada saya.
Atau setan lagi,
berwujud nafsu semata?
13 Oktober 2013
Home
Mungkin tidak seseru teman-temanmu,
Mungkin tidak semenarik rekan-rekan kantormu,
Mungkin tidak akan memahami pekerjaanmu,
gaya bercandamu, stress yg kamu hadapi.
Tapi akan selalu ada makanan yg siap di meja saat kamu bangun pagi,
atau saat kamu pulang di malam hari,
Akan selalu ada baju bersih untuk kamu pakai ke kantor hari ini,
Akan selalu ada tempatmu melepas lelah saat malam,
Akan selalu ada yang membangunkanmu pagi hari untuk bersiap.
Kamarmu akan selalu rapi,
Kamar mandimu akan selalu wangi,
Dapurmu tetap bersih,
Dan hal-hal yang tidak kamu sadari.
Hal-hal yang tidak kamu syukuri.
20 menit
Dari dulu,
selalu mengagungkan 20 menit.
20 menit dalam secangkir coklat panas.
Lega.
Menahan tangis karena tempat ini terlalu ramai,
Membiarkannya tertelan lagi bersamaan dengan coklat panas yg sedikit pahit.
Selembar kertas untuk bercerita,
Karena kursi di depanku kosong.
Sudah lama tidak mengundang siapapun mengisi duapuluh menitku.
Tapi hari ini,
Di akhir minggu ini,
Aku terlalu lelah untuk menyeruput tangis,
Dan kalimatnya yang sangat melegakan,
"lo pesen hot chocolate atau ice chocolate, nadh?"