22 April 2014

Seluas langit, katamu.

Ini kisah sederhana tentang saya dan sahabat saya,
Dulu kala, ketika kami masih berjibaku di Jogja.

Suatu hari, saya sms dia,
Maklum, BBM dan Whatsapp belum eksis pada jaman itu.

Kamu dimana?

Tidak lama, dia membalas.

15 April 2014

15 April 2014

Selamat ulang tahun,
Baskoro Pramadani.
Semoga Tuhan senantiasa merahmati kamu.
Semoga Tuhan senantiasa memberikan cahaya saat kamu merasa gelap,
Memberikan jalan saat kamu merasa buntu,
Memberikan keringanan saat kamu merasa berat.
Semoga Tuhan senantiasa membimbingmu.
Senantiasa menghapus peluhmu saat kamu merasa tidak mampu,
Senantiasa menyeka air matamu saat kamu merasa jatuh,
Senantiasa mendorongmu saat kamu merasa tidak yakin.
Semoga Tuhan senantiasa menemanimu,
Memberikan kamu teman terbaik yang tidak akan menjatuhkanmu,
Memberikan penjelasan akan setiap pertanyaanmu,
Memberikan keyakinan saat kamu tidak ada pijakan.
Percaya saja,
Sayangku..
Selalu aku doakan kamu yang terbaik selamanya.
Selamat ulang tahun,
Suamiku,
Matahariku,
Imamku,
Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali di surga-Nya.

One fine day

Ketika bangun tidur,
Hal pertama yang dia lakukan adalah memeluk saya.
Lalu dia akan mencari gelas oranye isi air putih,
Dan duduk malas di depan TV.
Tidak sampai setengah jam nonton TV,
Dia akan mulai rewel mencari sarapan pertamanya.
Sereal dengan susu atau oatmeal.
Setelah itu, barulah harinya dimulai.

05 Januari 2014

Sebelum hari Kamis

Akhirnya memberanikan diri menulis tentangnya setelah sekian lama.
Saya adalah orang yang mungkin bagi sebagian orang disebut 'punya indera ke enam'. Tapi saya lebih senang mengakuinya sebagai bentuk 'kesadaran yang lebih tinggi akan kehadiran Tuhan'. Ya, saya lebih banyak mendengar dan melihat dibanding yang lain.

Pertama,
Hari Senin malam, 3 hari sebelum hari Kamis itu. Saya sedang shalat maghrib setelah berbuka puasa. Alhamdulillah hari itu saya bisa pulang sangat cepat dari kantor.
Shalat maghrib saya berisi tangisan, bahkan ratapan tanpa saya tahu tentang apa. Semua rasanya sedih. Selama shalat, mulai dari niat sampai salam, tidak putus saya menangis tersedu-sedu.
Apakah ini Tuhan?

Kedua,
Di saat yang sama, setelah saya shalat isya, saya melanjutkan dengan shalat tarawih. Sangat biasa saat saya shalat di mushola rumah, merasakan 'ditonton' dari belakang. Namun sekarang, rasanya 'dia' mendekat, bahkan menutupi cahaya lampu tengah di ruang atas, mendekati saya. Sampai titik sangat takut saya, dan tidak bisa menyelesaikan rakaat kedua shalat saya itu.

04 Januari 2014

Nadh, Pake Jilbab Sekarang?

Sebagian dari mimpi itu tidak aku ingat. Kapan tepatnya pun terlupa. Hanya beberapa hari setelah ijab kabul. Yang aku ingat hanya seseorang memberikan kain panjang sekali buatku.
Aku biarkan semua mengendap. Aku pikirkan. Aku amati. Aku rasakan. Benarkah?

Ada sekelumit ragu. Tapi ragu seperti apa aku belum bisa mengurainya. Sampai akhirnya aku membaca sebuah blog tentang trend hijab jaman sekarang.

Ada sebuah pertanyaan terbuka yang tertera, "bukankah dengan memutuskan memakai jilbab berarti menurut aurat? Berarti tidak menunjukkan lekuk tubuh? Di samping itu, di atas semuanya, bukankah berhijab berarti menutup semua baik kelebihan diri, kemewahan, kecantikan dsb, dan siap hidup dalam kesederhanaan?"

Saat membaca itu, seperti menjawab pertanyaan akan rasa ragu tanpa tuan yang menghimpit ini. "oh... Aku masih ragu karena itu..."

Tuhan sudah sedikit-sedikit memberikan jawaban atas harapanku.