Bagian kedua yang perlu di-share menurut saya adalah beli mobil. Harga mobil di Canberra itu range-nya luas banget. Just let me share my own experience in buying a car.
Yang jual mobil di Canberra rata-rata alasannya karena upgrading mobil atau karena pindah negara. Alasan yang kedua yang biasanya bisa dapat harga lebih murah karena bagi mereka yang penting mobilnya kejual. Makanya kami pun cari penjual mobil yang memang mau pindah negara hihihi!
Kebetulan bertemu dengan mas penjual mobil, yang alhamdulillah sama-sama Indonesian yang baru saja menyelesaikan studinya, jadi memang harus kembali ke tanah air. Mobilnya dijual seharga 800AUD atau setara 8.1 juta rupiah saja. Hahahahahahahahahaha (ketawanya lama karena girang). Rata-rata mobil usia 8-10 tahun memang dijual dengan harga lumayan murah, sekitar 800-1500AUD, dan makin muda usia mobil ya makin mahal. Tergantung kemampuan dan keikhlasan saja :P
07 Juli 2017
25 April 2017
#LifeatCanberra : Mencari Rumah
Rumah merupakan hal yang mutlak dimiliki oleh setiap orang. (Ini berasa baca
undang-undang ya 😆), apalagi di Canberra,
harus punya tempat tinggal yang jelas (dengan alamat yang resmi terdaftar)
sebelum bisa 'ngapa-ngapain' di sini; buka rekening bank misalnya, atau bahkan
beli nomor handphone Aussie, harus ada alamat rumah yang jelas.
Untuk punya rumah di Canberra, bisa dari beberapa cara.
Untuk punya rumah di Canberra, bisa dari beberapa cara.
04 April 2017
#LifeatCanberra : What?!
Before getting into details of #LifeatCanberra, allow me to start with my reaction when Bask told me we are moving to Canberra.
What?!
I know where it is, in Australia, right? And that's all about it. Not on my top of bucket list, and if I can choose, I believe I wont choose Canberra.
But yes, it grows into me, and I can see myself living abroad in a city named Canberra.
But then, What?
What to do? What to expect? What to prepare?
Setelah menjalaninya langsung, akhirnya saya bisa mencoba mensortir, apa sih yang harus dilakukan ketika tahun akan pindah ke luar negeri, ke Canberra lebih tepatnya.
Let's skip the paperwork, shall we? Of course you need the right visa, to enter the country. Let's not go that road since I didn't experience preparing those stuffs since we got a great help from the agent.
Pertama, tempat tinggal sementara atau 'temporary accommodation'. Saya gak tau di tempat lain, tapi di Canberra untuk dapat tempat tinggal, kita harus cari dan lihat langsung rumahnya (biasa di sini disebut dengan 'inspection'), kalau belum melakukan 'inspection', gak akan bisa daftar untuk cari rumah :(
Jadi intinya, buat cari permanent accommodation, ya harus sudah di sini dulu baru mulai cari. Gak usah buang waktu (like I did) dengan cari-cari rumah ketika masih di luar Canberra. Not working at all. Lebih baik fokus cari temporary accommodation untuk make sure ketika tiba di Canberra, kita sudah ada tempat berteduh :)
Biasanya banyak yang menawarkan temporary accommodation, either jadi sharing rumah, atau memang rumahnya dikosongkan karena pemiliknya sudah pindah rumah lain, misalnya. Untuk saya kemarin, pemilik rumahnya sudah sewa rumah lain, namun waktu sewa di rumah yang lama masih ada, jadilah disewakan sekitar sebulan sampai waktu sewa rumah lamanya habis. Untuk dapat info seperti ini, biasanya banyak di share di grup Facebook "Bursa Updates". Isinya khusus Indonesian kok, jadi enak ngobrolnya :)
Kedua, How to get around in Canberra. Di sini banyakan pakai kendaraan pribadi, karena murah juga mobil bekas di sini hihihihi. Tapi sebagai pendatang, tentu punya mobil itu prioritas ke sekian. Jadi bersabarlah dengan kendaraan umum dulu. Bis di Canberra itu sebenarnya sangat reliable, dengan jadwal yang tepat (paling berbeda 1-2 menit saja), cuma memang jadwalnya sangat terbatas dan kadang jaraknya sekitar 20-30 menit. Jadi kalau terlambat 5 menit saja, harus tunggu setengah jam lagi. But don't worry, semuanya terlacak di google maps kok. Tinggal pilih tujuan saja, lalu akan muncul beberapa travel suggestion termasuk jadwal, berapa halte yang harus dilewati, sampai ke perkiraan waktu tiba. Saya pun masih bergantung pada google maps untuk pergi kemana-mana di Canberra.
Untuk naik bis, tentu bisa pakai cash, namun harganya jauuuuh banget lebih mahal daripada kalau punya kartu bis. One way bayar cash bisa hampir 4 dollar (atau lebih ya saya agak lupa), tapi kalau pakai kartu bis, bisa sekitar 1-2 dollar saja. Jadi be smart dengan langsung beli kartu bis saja setibanya di Canberra agar bisa kemana-mana.
Kartu bis bisa dibeli di beberapa tempat saja di Canberra. Paling mudah adalah di Supa City Bus Station. Tempat lain untuk beli, bisa di cek di website-nya langsung (link yang sama). Setelah punya kartu bis, ya tinggal di isi ulang saja seperlunya.
Ketiga, tentu cek terus cuaca di Canberra. Bukan hanya musimnya saja, namun daily weather terutama ketika tiba di sini, agar gak salah kostum, jadi kepanasan, atau yang lebih bikin kesel adalah kedinginan.
I think that's all yang perlu banget disiapin sebelum akhirnya menginjakkan kaki di Canberra.
I'll see you in Canberra!
What?!
I know where it is, in Australia, right? And that's all about it. Not on my top of bucket list, and if I can choose, I believe I wont choose Canberra.
But yes, it grows into me, and I can see myself living abroad in a city named Canberra.
But then, What?
What to do? What to expect? What to prepare?
Setelah menjalaninya langsung, akhirnya saya bisa mencoba mensortir, apa sih yang harus dilakukan ketika tahun akan pindah ke luar negeri, ke Canberra lebih tepatnya.
Let's skip the paperwork, shall we? Of course you need the right visa, to enter the country. Let's not go that road since I didn't experience preparing those stuffs since we got a great help from the agent.
Pertama, tempat tinggal sementara atau 'temporary accommodation'. Saya gak tau di tempat lain, tapi di Canberra untuk dapat tempat tinggal, kita harus cari dan lihat langsung rumahnya (biasa di sini disebut dengan 'inspection'), kalau belum melakukan 'inspection', gak akan bisa daftar untuk cari rumah :(
Jadi intinya, buat cari permanent accommodation, ya harus sudah di sini dulu baru mulai cari. Gak usah buang waktu (like I did) dengan cari-cari rumah ketika masih di luar Canberra. Not working at all. Lebih baik fokus cari temporary accommodation untuk make sure ketika tiba di Canberra, kita sudah ada tempat berteduh :)
Biasanya banyak yang menawarkan temporary accommodation, either jadi sharing rumah, atau memang rumahnya dikosongkan karena pemiliknya sudah pindah rumah lain, misalnya. Untuk saya kemarin, pemilik rumahnya sudah sewa rumah lain, namun waktu sewa di rumah yang lama masih ada, jadilah disewakan sekitar sebulan sampai waktu sewa rumah lamanya habis. Untuk dapat info seperti ini, biasanya banyak di share di grup Facebook "Bursa Updates". Isinya khusus Indonesian kok, jadi enak ngobrolnya :)
Kedua, How to get around in Canberra. Di sini banyakan pakai kendaraan pribadi, karena murah juga mobil bekas di sini hihihihi. Tapi sebagai pendatang, tentu punya mobil itu prioritas ke sekian. Jadi bersabarlah dengan kendaraan umum dulu. Bis di Canberra itu sebenarnya sangat reliable, dengan jadwal yang tepat (paling berbeda 1-2 menit saja), cuma memang jadwalnya sangat terbatas dan kadang jaraknya sekitar 20-30 menit. Jadi kalau terlambat 5 menit saja, harus tunggu setengah jam lagi. But don't worry, semuanya terlacak di google maps kok. Tinggal pilih tujuan saja, lalu akan muncul beberapa travel suggestion termasuk jadwal, berapa halte yang harus dilewati, sampai ke perkiraan waktu tiba. Saya pun masih bergantung pada google maps untuk pergi kemana-mana di Canberra.
Untuk naik bis, tentu bisa pakai cash, namun harganya jauuuuh banget lebih mahal daripada kalau punya kartu bis. One way bayar cash bisa hampir 4 dollar (atau lebih ya saya agak lupa), tapi kalau pakai kartu bis, bisa sekitar 1-2 dollar saja. Jadi be smart dengan langsung beli kartu bis saja setibanya di Canberra agar bisa kemana-mana.
Kartu bis bisa dibeli di beberapa tempat saja di Canberra. Paling mudah adalah di Supa City Bus Station. Tempat lain untuk beli, bisa di cek di website-nya langsung (link yang sama). Setelah punya kartu bis, ya tinggal di isi ulang saja seperlunya.
Ketiga, tentu cek terus cuaca di Canberra. Bukan hanya musimnya saja, namun daily weather terutama ketika tiba di sini, agar gak salah kostum, jadi kepanasan, atau yang lebih bikin kesel adalah kedinginan.
I think that's all yang perlu banget disiapin sebelum akhirnya menginjakkan kaki di Canberra.
I'll see you in Canberra!
17 Desember 2016
Good News, Good Life
Let's admit it.
Instagram, Path, even Facebook make blogging seems a lot of work. When was the last time I checked in? July 2015!! Oh good God.
Well anyway, saya mau memulai menulis lagi. Karena banyak berita gembira yang bisa dibagikan. Ada banyak kepingan hidup yang perlu diceritakan. Walaupun saya masih meragukan konsistensi saya nge-blog.
Sudah lebih dari 3 tahun menikah, dan belum dikaruniai keturunan. Such a bummer! Tapi on the other hand, saya berhasil menyelesaikan Master saya tepat waktu, Bask pun sedang on the way menuju ke sana. In terms of career, saya berhasil mencapai long-lost dream menjadi Manager under 30 (high five to past me!), dan karir Bask pun, so obviously, is on its streak.
Life has been good for us, actually.
Selain itu, kami sedang mempersiapkan kepindahan kami, our very first, of many more times to come, living abroad. I will share you the details nanti, kalau kami sudah pindah. Seperti biasa, takut pamali. Hehe.
Yang pasti ini negara 4 musim, jadi sempat menguras tabungan juga untuk membeli pakaian yang sesuai, tapi alhamdulillah musim dinginnya gak keterlaluan (katanya). Tapi kalau kata adik saya (Sumi), "Kak, kakak aja AC 18 (derajat celsius) selimutannya udah heboh.", jadi sudah pasti persiapan untuk tinggal di musim subzero itu harus lebih heboh dari biasanya.
Karena mahal dan memakan tempat, jadi yang dibeli dari Indonesia sebenarnya hanya Must-Have Items aja. Nice to Have-nya beli di sana kalau lagi diskon ganti musim hihi!
Apa aja sih yang mesti disiapin untuk pergi, travelling, atau pindah ke negara yang punya musim dingin?
Pertama, of course, Down Jacket alias jaket bulu angsa. Ini jaket yang membuat saya seperti logo Michelin (google yourself hahaha). Pastikan bahwa itu down jacket. Jangan asal beli karena yang jual bilang ini jaket musim dingin, ini winter coat, etc, etc. Jangan percaya (ecieee). Pastikan bahwa itu down jacket dengan cara lihat label pakaiannya. Teliti lebih jelas bahan jaketnya, isiannya, dsb. Down Jacket pasti ada keterangan xx% down/feather-nya. Makin banyak %-nya ya makin hangat. Minimal 80% down/feather deh. Lalu tinggal pilih bahan luarannya, paling banyak bahan luaran adalah polyester, which is pretty fine, karena cenderung anti air (kalau cuma splash gitu ya). Harga Down Jacket di Jakarta paling murah adalah sekitar Rp. 800.000,- (ini beli di Toko Djohan daerah Pasar Pagi ITC Mangga Dua). Tapi kalau mau beli yang harga sampai 6 jutaan ya juga ada. Tergantung kemampuan dan keikhlasan dompet masing-masing hehehe.
Cara mengukur Down Jacket yang baik dan pas (karena pasti akan dipake berlapis-lapis baju dan sweater di dalamnya), adalah dengan menambah ukuran LD baju biasanya (bukan LD pas ngukur pake meteran ya, tapi LD baju yang biasa dipake) sebesar 20 cm. Jadi kalau biasa pake baju LD 100, maka beli Down Jacket dengan LD 120. Tapi LD juga gak jadi jaminan sih, karena ukuran lingkar ketiak juga penting. Nanti lengannya malah gak bisa masuk (duh..). Biasanya saya mengukur lengan ketiak dengan memasukkan 5 jari tegak melalui lubang ketiak. Kalau gak masuk, berarti gak cukup. Kalau terlalu besar juga jadinya jelek. Jadi di-pas-in 5 jari ya..
Kedua adalah long john. Ini pakaian dalam yang bentuknya kayak manset baju dan legging. Harga long john variatif banget, tergantung bahan dan elastisitasnya. Ada dari harga 120 ribu rupiah sampai dengan 600 ribu rupiah (per set). Keyword-nya apa : KATUN/COTTON. Pakaian musim dingin sebenarnya kodenya cuma % cottonnya aja. Kalau males cari long john (kayak saya haha), bisa pakai legging yang dari bahan cotton minimal 80%. H&M (sekitar 120 ribu) dan Forever 21 (sekitar 100 ribu) punya kok. Tapi jangan asal ambil, bener-bener di cek dulu komposisi bahannya ya.
Long john, karena pakaian dalam, ya harus ngepas badan. Nanti dipakainya pertama kali setelah pakai pakaian dalam biasanya.
Ketiga adalah sweater. Sweater sih yang paling beragam jenis, bahan, model, dan warnanya. Bahan yang paling 'bener' ketika mencari sweater adalah katun atau wool. Jangan tertipu lucunya sweater ya.. Again and again, make sure bahannya apa.
Keempat adalah topi kupluk, syal, sarung tangan, dan penutup telinga. Kalau ini, ya sesuaikan dengan selera aja. Tapi harus ada. Karena salah satu bagian yang cepat dingin (dan mendinginkan core tubuh) adalah telinga, ubun-ubun, dan ujung jari. Asal jangan pake sarung tangan pengibar bendera jaman sekolah dulu. Udah pendek, cepet bolong, terus tipis banget lagi (lah malah curhat haha).
Kelima, Must Have Items-nya musim dingin adalah sepatu bot. Tapi tergantung di negara mana ya.. Kalau kayak adik saya (Sumi) di Ottawa, Kanada, yang saljunya selalu bisa sampe selutut, harus pake sepatu bot tinggi kayak sepatu bot karet selutut gitu. Otherwise ya gak ngaruh, saljunya masuk aja ke kaki trus mencair. Nah kalau negara tempat tujuan saya sih saljunya gak setinggi itu. Jadi pake sepatu bot biasa pun gak masalah. Asal bahannya tahan air. Saya beli sepatu bot di Nokha, dikasih tau temen saya yang tinggal di Belanda (bukan, ini kebetulan aja kok.. Saya bukan mau ke Belanda besok hehe). Sepatunya lucu-lucu, dan bisa request ukuran, kayak ukuran kaki Bask yang luas itu.
Terakhir, harus banget punya vitamin! Vitamin C, omega 3, fish oil itu yang biasanya jadi vitamin wajib selama musim dingin. Apalagi badan kita badan tropis banget ya. Kalau hujan ya adem, kalo panas ya keringetan. Di negara dengan musim dingin, jarang ada cuaca yang bikin sampe keringetan. Kalaupun panas, ya terik aja, gak sampe bikin gembrobyos gitu. Itu juga kadang jadi penyakit yang sering banget muncul, masuk angin. So, minum vitamin itu super perlu!
I think that's about all. Satu hal lagi yang jadi pelajaran saya belanja-belanja begini adalah, if you pay cheap, you pay double. Kemarin saya sok gak mau beli spring coat di toko-toko semacam H&M, Uniqlo, Zara, dsb, karena harganya 700 ribuan. Trus saya iseng cari coat murah, dan bisa pesen sendiri. Enak dong, bisa cari model yang disuka, dengan harga yang jauh lebih murah dari di toko-toko (saya beli sekitar 300 ribuan). Pas jadi? Tetottt!!
Bahannya ok sesuai yang dijanjiin, tapi cutting jahitannya jelek banget dan ukurannya jauh buanget dari yang diminta. Alhasil harus dirombak dan gak bisa disembarang tukang jahit karena ini coat wol yang isinya wol. Jadilah harus di tukang jahit jas yang spesifik ngurus bahan-bahan ginian. Dan bisa ditebak, biaya rombak di tukang jahit sama dengan biaya beli coatnya. Damn. Sama aja langsung ke Zara deh gak pake nunggu lama dan gak pake rombak ini itu. Zzzz.
Nah itu juga saran saya, tinggalkanlah iklan-iklan jahit coat yang bertebaran di IG (saya nemunya di IG waktu itu soalnya). Mending cari yang pasti aja, agak mahal ya gapapa, investasi kesehatan kalau kata tante saya. Hehe!
Instagram, Path, even Facebook make blogging seems a lot of work. When was the last time I checked in? July 2015!! Oh good God.
Well anyway, saya mau memulai menulis lagi. Karena banyak berita gembira yang bisa dibagikan. Ada banyak kepingan hidup yang perlu diceritakan. Walaupun saya masih meragukan konsistensi saya nge-blog.
Sudah lebih dari 3 tahun menikah, dan belum dikaruniai keturunan. Such a bummer! Tapi on the other hand, saya berhasil menyelesaikan Master saya tepat waktu, Bask pun sedang on the way menuju ke sana. In terms of career, saya berhasil mencapai long-lost dream menjadi Manager under 30 (high five to past me!), dan karir Bask pun, so obviously, is on its streak.
Life has been good for us, actually.
Selain itu, kami sedang mempersiapkan kepindahan kami, our very first, of many more times to come, living abroad. I will share you the details nanti, kalau kami sudah pindah. Seperti biasa, takut pamali. Hehe.
Yang pasti ini negara 4 musim, jadi sempat menguras tabungan juga untuk membeli pakaian yang sesuai, tapi alhamdulillah musim dinginnya gak keterlaluan (katanya). Tapi kalau kata adik saya (Sumi), "Kak, kakak aja AC 18 (derajat celsius) selimutannya udah heboh.", jadi sudah pasti persiapan untuk tinggal di musim subzero itu harus lebih heboh dari biasanya.
Karena mahal dan memakan tempat, jadi yang dibeli dari Indonesia sebenarnya hanya Must-Have Items aja. Nice to Have-nya beli di sana kalau lagi diskon ganti musim hihi!
Apa aja sih yang mesti disiapin untuk pergi, travelling, atau pindah ke negara yang punya musim dingin?
Pertama, of course, Down Jacket alias jaket bulu angsa. Ini jaket yang membuat saya seperti logo Michelin (google yourself hahaha). Pastikan bahwa itu down jacket. Jangan asal beli karena yang jual bilang ini jaket musim dingin, ini winter coat, etc, etc. Jangan percaya (ecieee). Pastikan bahwa itu down jacket dengan cara lihat label pakaiannya. Teliti lebih jelas bahan jaketnya, isiannya, dsb. Down Jacket pasti ada keterangan xx% down/feather-nya. Makin banyak %-nya ya makin hangat. Minimal 80% down/feather deh. Lalu tinggal pilih bahan luarannya, paling banyak bahan luaran adalah polyester, which is pretty fine, karena cenderung anti air (kalau cuma splash gitu ya). Harga Down Jacket di Jakarta paling murah adalah sekitar Rp. 800.000,- (ini beli di Toko Djohan daerah Pasar Pagi ITC Mangga Dua). Tapi kalau mau beli yang harga sampai 6 jutaan ya juga ada. Tergantung kemampuan dan keikhlasan dompet masing-masing hehehe.
Cara mengukur Down Jacket yang baik dan pas (karena pasti akan dipake berlapis-lapis baju dan sweater di dalamnya), adalah dengan menambah ukuran LD baju biasanya (bukan LD pas ngukur pake meteran ya, tapi LD baju yang biasa dipake) sebesar 20 cm. Jadi kalau biasa pake baju LD 100, maka beli Down Jacket dengan LD 120. Tapi LD juga gak jadi jaminan sih, karena ukuran lingkar ketiak juga penting. Nanti lengannya malah gak bisa masuk (duh..). Biasanya saya mengukur lengan ketiak dengan memasukkan 5 jari tegak melalui lubang ketiak. Kalau gak masuk, berarti gak cukup. Kalau terlalu besar juga jadinya jelek. Jadi di-pas-in 5 jari ya..
Kedua adalah long john. Ini pakaian dalam yang bentuknya kayak manset baju dan legging. Harga long john variatif banget, tergantung bahan dan elastisitasnya. Ada dari harga 120 ribu rupiah sampai dengan 600 ribu rupiah (per set). Keyword-nya apa : KATUN/COTTON. Pakaian musim dingin sebenarnya kodenya cuma % cottonnya aja. Kalau males cari long john (kayak saya haha), bisa pakai legging yang dari bahan cotton minimal 80%. H&M (sekitar 120 ribu) dan Forever 21 (sekitar 100 ribu) punya kok. Tapi jangan asal ambil, bener-bener di cek dulu komposisi bahannya ya.
Long john, karena pakaian dalam, ya harus ngepas badan. Nanti dipakainya pertama kali setelah pakai pakaian dalam biasanya.
Ketiga adalah sweater. Sweater sih yang paling beragam jenis, bahan, model, dan warnanya. Bahan yang paling 'bener' ketika mencari sweater adalah katun atau wool. Jangan tertipu lucunya sweater ya.. Again and again, make sure bahannya apa.
Keempat adalah topi kupluk, syal, sarung tangan, dan penutup telinga. Kalau ini, ya sesuaikan dengan selera aja. Tapi harus ada. Karena salah satu bagian yang cepat dingin (dan mendinginkan core tubuh) adalah telinga, ubun-ubun, dan ujung jari. Asal jangan pake sarung tangan pengibar bendera jaman sekolah dulu. Udah pendek, cepet bolong, terus tipis banget lagi (lah malah curhat haha).
Kelima, Must Have Items-nya musim dingin adalah sepatu bot. Tapi tergantung di negara mana ya.. Kalau kayak adik saya (Sumi) di Ottawa, Kanada, yang saljunya selalu bisa sampe selutut, harus pake sepatu bot tinggi kayak sepatu bot karet selutut gitu. Otherwise ya gak ngaruh, saljunya masuk aja ke kaki trus mencair. Nah kalau negara tempat tujuan saya sih saljunya gak setinggi itu. Jadi pake sepatu bot biasa pun gak masalah. Asal bahannya tahan air. Saya beli sepatu bot di Nokha, dikasih tau temen saya yang tinggal di Belanda (bukan, ini kebetulan aja kok.. Saya bukan mau ke Belanda besok hehe). Sepatunya lucu-lucu, dan bisa request ukuran, kayak ukuran kaki Bask yang luas itu.
Terakhir, harus banget punya vitamin! Vitamin C, omega 3, fish oil itu yang biasanya jadi vitamin wajib selama musim dingin. Apalagi badan kita badan tropis banget ya. Kalau hujan ya adem, kalo panas ya keringetan. Di negara dengan musim dingin, jarang ada cuaca yang bikin sampe keringetan. Kalaupun panas, ya terik aja, gak sampe bikin gembrobyos gitu. Itu juga kadang jadi penyakit yang sering banget muncul, masuk angin. So, minum vitamin itu super perlu!
I think that's about all. Satu hal lagi yang jadi pelajaran saya belanja-belanja begini adalah, if you pay cheap, you pay double. Kemarin saya sok gak mau beli spring coat di toko-toko semacam H&M, Uniqlo, Zara, dsb, karena harganya 700 ribuan. Trus saya iseng cari coat murah, dan bisa pesen sendiri. Enak dong, bisa cari model yang disuka, dengan harga yang jauh lebih murah dari di toko-toko (saya beli sekitar 300 ribuan). Pas jadi? Tetottt!!
Bahannya ok sesuai yang dijanjiin, tapi cutting jahitannya jelek banget dan ukurannya jauh buanget dari yang diminta. Alhasil harus dirombak dan gak bisa disembarang tukang jahit karena ini coat wol yang isinya wol. Jadilah harus di tukang jahit jas yang spesifik ngurus bahan-bahan ginian. Dan bisa ditebak, biaya rombak di tukang jahit sama dengan biaya beli coatnya. Damn. Sama aja langsung ke Zara deh gak pake nunggu lama dan gak pake rombak ini itu. Zzzz.
Nah itu juga saran saya, tinggalkanlah iklan-iklan jahit coat yang bertebaran di IG (saya nemunya di IG waktu itu soalnya). Mending cari yang pasti aja, agak mahal ya gapapa, investasi kesehatan kalau kata tante saya. Hehe!
27 Juli 2015
Belajar Ikhlas
Ikhlas kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia itu /ikh·las/ a bersih hati; tulus hati. Tapi berhubung hati nurani adalah suatu konsep abstrak, kebersihannya juga menjadi abstrak. Apa artinya bersih? Apa batasnya antara bersih dan kotor? We're in very huge grey area here :)
Jadi selalu sudah ikhlas jika sudah diucapkan dengan lantang, "saya ikhlas kok..", "saya ikhlaskan...", dan semacamnya.
Jadi selalu sudah ikhlas jika sudah diucapkan dengan lantang, "saya ikhlas kok..", "saya ikhlaskan...", dan semacamnya.
02 April 2015
Akhirnya... PHUKET!!!!
3 minggu tinggal di Thailand, belom pernah ke Bangkok (cuma numpang lewat doang) dan even worse, ke Phuket. Fiuh.
Akhirnya setelah merayu suami yang sibuknya ngalahin pak Jokowi itu, didapatlah tanggal 24-26 Desember 2014 yoook ke Phuket. Backpacker asli. Naik bis. Yaa gapapalah yaaa daripada engga hihihihi.
Tanggal 24 Desember 2014, which is hari terakhir kerja di tahun itu, dan berarti juga saatnya perpisahan dengan rekan-rekan di KRI Songkhla, Thailand - dimulai dengan sore hari saya mampir ke KRI buat menjemput suami tercinta dan dadah-dadah dengan rekan sepermainan di sana. hehe. Namanya juga perpisahan, ya lama jadinya. Agak worry karena bis terakhir itu ada jam 7 malam dari Songkhla. Uwow.
Walau agak buru-buru, terkejarlah bis (well, semacam mini van 20 seats seharga 28 baht per orangnya) dari Songkhla ke Hat Yai. Hat Yai ini kota besar terdekat dari Songkhla, dan dari Hat Yai inilah baru kita mulai perjalanan panjang road trip dengan bis double decker. Yes. You read it right! Akhirnya saya naik bis DOUBLE DECKER walo belom ke London hahahhaa.
23 Januari 2015
Upacara Peringatan Hari Ibu 2014 ke-86
Diantara hari-hari menjelang libur panjang, tersebutlah suatu hari yang biasanya diisi cuma repath atau repost gambar tentang Ibu, tapi di sini beda. Di sini kita upacara.
Yes. Upacara bendera.
Tapi untunglah KRI Songkhla ini kecil, orangnya juga sedikit, jadi kita lakukan di dalam ruangan. Alhamdulillah.. Kapan terakhir kali upacara? Emmmm.. Kuliah? *zillion years ago*
Beberapa hari sebelumnya, waktu ada tamu di Wisma tempat kami tinggal selama di Songkhla, dimintalah saya untuk baca doa. What?? What?? Sepanjang hidup, baca doa adalah tugas yang paling saya hindari. Uuuughh~ Takut salah bacanya. Takut di-teks-nya gaada huruf latinnya, jadi huruf araaab semua, takut ga pake teks. Haduhhh. Jangan deh..
Tapi tentu, di sini, dilarang bilang tidak. Eh, maksudnya, saya tidak mau membatasi diri dengan berkata 'tidak'. Macem film Yes apa itu lahh..!
Yes. Upacara bendera.
Tapi untunglah KRI Songkhla ini kecil, orangnya juga sedikit, jadi kita lakukan di dalam ruangan. Alhamdulillah.. Kapan terakhir kali upacara? Emmmm.. Kuliah? *zillion years ago*
Beberapa hari sebelumnya, waktu ada tamu di Wisma tempat kami tinggal selama di Songkhla, dimintalah saya untuk baca doa. What?? What?? Sepanjang hidup, baca doa adalah tugas yang paling saya hindari. Uuuughh~ Takut salah bacanya. Takut di-teks-nya gaada huruf latinnya, jadi huruf araaab semua, takut ga pake teks. Haduhhh. Jangan deh..
Tapi tentu, di sini, dilarang bilang tidak. Eh, maksudnya, saya tidak mau membatasi diri dengan berkata 'tidak'. Macem film Yes apa itu lahh..!
07 Januari 2015
Selamat Tahun Baru, Jakarta
Semalam katanya tahun baru.
Saya bukan party goers, jadi malam tahun baru saya adalah tidur jam 10 malam, bahkan tidak terbangun saat pergantian hari, baru bangun nanti pagi.
Jadi jangan berharap saya akan bercerita tentang bagaimana keseruan tahun baru 2015 ini.
Siang ini, 1 Januari 2015, jalanan masih sangat sepi.
Maklum ya, belum terbangun dari pesta semalam suntuk pastinya. Dan saya tidak menyalahkan. Apalagi men-judge. Pweh!
Tapi saya bersyukur dapat bertemu dengan tahun yang baru lagi. 365 kesempatan baru. Dan hari pertama ini akan saya pergunakan untuk bertemu dengan keluarga Baskoro. Papa dan Mama mertua.
Perjalanan yang biasanya luama itu bisa saya tempuh dengan cukup cepat. Satu jam saja. Mantap. Tapi apa yang saya temukan sepanjang satu jam itu, yang lebih mencengangkan lagi.
Saya bukan party goers, jadi malam tahun baru saya adalah tidur jam 10 malam, bahkan tidak terbangun saat pergantian hari, baru bangun nanti pagi.
Jadi jangan berharap saya akan bercerita tentang bagaimana keseruan tahun baru 2015 ini.
Siang ini, 1 Januari 2015, jalanan masih sangat sepi.
Maklum ya, belum terbangun dari pesta semalam suntuk pastinya. Dan saya tidak menyalahkan. Apalagi men-judge. Pweh!
Tapi saya bersyukur dapat bertemu dengan tahun yang baru lagi. 365 kesempatan baru. Dan hari pertama ini akan saya pergunakan untuk bertemu dengan keluarga Baskoro. Papa dan Mama mertua.
Perjalanan yang biasanya luama itu bisa saya tempuh dengan cukup cepat. Satu jam saja. Mantap. Tapi apa yang saya temukan sepanjang satu jam itu, yang lebih mencengangkan lagi.
24 Desember 2014
Gaul ke Hat Yai
Seperti sebelumnya saya bilang, film di Thailand lebih banyak di dubbing daripada ditempelin subtitle, jadi untuk penduduk Songkhla yang ga ngerti bahasa Thailand, saya harus ke Hat Yai (satu propinsi hanya beda kota) untuk bisa menonton bioskop.
Jarak Songkhla - Hat Yai sendiri sekitar 1 jam perjalanan (atau mungkin 100 km kurang kali ya, soalnya di sini pada ngebut-ngebut bawa mobilnya), dan kami harus naik mini van untuk sampai di Hat Yai (biaya sekitar 28 baht per orang).
Akhirnya dapat van, dan duduk terpisah dengan Baskoro. Nah loh. Namun karena sudah biasa, jadi cuek aja. Diajak ngobrol bahasa thailand juga cuma bisa bilang 'phut thai mai dai'. :D
Jarak Songkhla - Hat Yai sendiri sekitar 1 jam perjalanan (atau mungkin 100 km kurang kali ya, soalnya di sini pada ngebut-ngebut bawa mobilnya), dan kami harus naik mini van untuk sampai di Hat Yai (biaya sekitar 28 baht per orang).
Akhirnya dapat van, dan duduk terpisah dengan Baskoro. Nah loh. Namun karena sudah biasa, jadi cuek aja. Diajak ngobrol bahasa thailand juga cuma bisa bilang 'phut thai mai dai'. :D
Songkhla National Museum
Hari ini Baskoro dan saya berencana jalan-jalan sekitar Songkhla. Karena waktunya mepet, jadilah kita tentukan ke National Museum di Songkhla, itupun mepeet banget karena kami tiba jam setengah 4 sore, dan museum tutup jam 4 sore.
Maaf jadi banyakan foto sendiri daripada foto museumnya.
Intinya, isi National Museum Songkhla ini adalah sejarah Songkhla, bahkan mulai dari Kerajaan Sriwijaya.
Maaf jadi banyakan foto sendiri daripada foto museumnya.
Intinya, isi National Museum Songkhla ini adalah sejarah Songkhla, bahkan mulai dari Kerajaan Sriwijaya.
ASEAN Art and Culture Workshop Project
Hari ini berkesempatan mendampingi Baskoro untuk menghadiri acara ASEAN Art and Culture Workshop Project. Tempatnya di propinsi lain (sekitar 2.5 - 3 jam perjalanan darat, dengan jarak sekitar 200an km dari kota kami tinggal). Nama daerahnya adalah Nakhon Si Thammarat.
Tiba di sana saat makan siang, dengan menu yang ajaib dan banyak (hehe). Ada sop kaki ayam dengan kuah seperti kuah bubur ayam kita, dan itu porsi super besar (ada sekitar 8 kaki ayam), ditambah nasi dengan gulai ayam (chicken red curry), tambah ubi rebus dengan kuah santan manis, lalu jus buah entah buah apa tapi rasanya segar dan warnanya oranye seperti pepaya.
Wah sekali kan jamuannya :D
Tiba di sana saat makan siang, dengan menu yang ajaib dan banyak (hehe). Ada sop kaki ayam dengan kuah seperti kuah bubur ayam kita, dan itu porsi super besar (ada sekitar 8 kaki ayam), ditambah nasi dengan gulai ayam (chicken red curry), tambah ubi rebus dengan kuah santan manis, lalu jus buah entah buah apa tapi rasanya segar dan warnanya oranye seperti pepaya.
Wah sekali kan jamuannya :D
Puff Pizza and Book Store
Mostly saya di sini sendirian, karena Baskoro sibuk kerja. Jadi saya harus tetap cari kesibukan selama dia di kantor.
Ini salah satu caranya, mendatangi Lotus (apalagi di sini deh hihihihi).
Stay at home gini bikin saya jadi sering membaca. Seminggu, sudah habis 3 novel. Dan saya masih ada sepuluh harian lagi di sini.
Jadi datanglah saya ke toko buku yang ada di Lotus. Gagal. Semuanya berbahasa thai. Tidak ada section buku internasional.
Yak..!
Ini salah satu caranya, mendatangi Lotus (apalagi di sini deh hihihihi).
Stay at home gini bikin saya jadi sering membaca. Seminggu, sudah habis 3 novel. Dan saya masih ada sepuluh harian lagi di sini.
Jadi datanglah saya ke toko buku yang ada di Lotus. Gagal. Semuanya berbahasa thai. Tidak ada section buku internasional.
Yak..!
Samila Beach
Another day, another experience. :D
Hari ini, Baskoro sedang tugas ke propinsi lain, jadi baru akan sampai rumah sekitar jam 10an malam. Daripada bengong di rumah, mending kita belajar jalan-jalan.
Setelah selesai makan, nyuci, nyetrika (standar ibu rumah tangga lah yaa), akhirnya bersiap untuk main ke pantai Samila (Samila Beach). Pantai ini sebenarnya dekat banget sama kantornya Baskoro (walking distance), tapi tiap ke kantor, belum sempat mampir sana.
Jalan jam 3 sore, setelah pintu pagar menutup, tiba-tiba byur! Hujan super deras. Daripada muncul malas kalau balik ke rumah, akhirnya lanjut dululah ke depan gang (lumayan basah-basahan), dan berteduh sampai hujan reda.
Hari ini, Baskoro sedang tugas ke propinsi lain, jadi baru akan sampai rumah sekitar jam 10an malam. Daripada bengong di rumah, mending kita belajar jalan-jalan.
Setelah selesai makan, nyuci, nyetrika (standar ibu rumah tangga lah yaa), akhirnya bersiap untuk main ke pantai Samila (Samila Beach). Pantai ini sebenarnya dekat banget sama kantornya Baskoro (walking distance), tapi tiap ke kantor, belum sempat mampir sana.
Jalan jam 3 sore, setelah pintu pagar menutup, tiba-tiba byur! Hujan super deras. Daripada muncul malas kalau balik ke rumah, akhirnya lanjut dululah ke depan gang (lumayan basah-basahan), dan berteduh sampai hujan reda.
First Grocery Shopping
Hal pertama yang penting saat datang ke daerah baru adalah makanan. Yup..! Apa makanan khas di sini, dimana cari makanan halal di sini, bisa masak ga di sini, dan dimana supermarket di sini? (ga berani ke pasar karena ga bisa bahasa lokal).
Untunglah di dekat tempat kami tinggal ada so-called-mall yang ada supermarketnya. Nama supermarketnya Tesco. Nama mallnya Lotus, tapi orang sini spell-nya Lotat.
Di sini tentu mirip Carrefour, tapi dengan makanan yang beda, huruf yang beda, dan sangat sedikit makanan halalnya.
Lalu, diantara semua itu.. Ada ini..!
17 Desember 2014
Ketiga
Seperti yang sudah diceritakan, mencari orang berbahasa Inggris di Thailand itu susyeh. Saya pikir, tidak berlaku di mall. Mall gicuh loh!
Dengan yakinnya makan ke KFC. Paling aman dan bersahabat dengan perut kayaknya.
Tapi ternyata, dugaan saya salah sodara-sodara..!
Pertama, tidak ada menu di counter, menunya semua ada di papan di atas sana. Jadi pe er dong nunjuk-nunjuk makanan.
Setelah mencoba menunjuk makanan yang tepat, masalah berikutnya adalah memesan side dish, karena kita modal kere, beli KFC paket ayam 2 + nasi 1 + minum 1, kita hanya akan nambah nasi 1 + minum 1. Yoi kan?
Tapi ngejelasinnya susah buanget. Astaga.
Tapi ngejelasinnya susah buanget. Astaga.
Kedua
Senin, 15 Desember 2014.
Hari ini saya berjanji untuk datang ke kantornya Baskoro. Selain untuk permisi dan lapor diri karena di sini lumayan lama, saya juga sekaligus membawa oleh-oleh dari Indonesia.
Ini salah satu rendang siur asli Padang, saya juga bawa Kripik Balado Kristin Hakim asli padang, dan Kripik Pisang Coklat Suseno dari Lampung, Ga perlu repot karena bisa beli langsung di Rasa Nusantara. Ini online shopping untuk oleh-oleh seluruh Indonesia. Silakan langsung kontak FB-nya aja :)
Pertama
Pesawat Airasia ini selalu nyaman buat saya, apalagi dengan privilege duduk di hotseat bagian depan, semacam duduk di kelas eksekutif deh. Hehe. Ditambah, saya tidak pernah (semoga tidak akan pernah) kena delay oleh maskapai ini. Thumbs up!
Memulai hari jam 3 pagi, ini berarti akan tidur sepanjang Jakarta-Bangkok. Dan benar saja, saya hanya terbangun saat makanan diantar, saat harus isi formulir imigrasi Thailand, dan saat tiba. Lumayan tidur dan makan 3 jam lebih. Tau-tau sudah hampir mendarat dan sudah pukul 11 siang.
Turun dari bandara, yang pertama dicari adalah toilet. Tentu. Selain emang kebelet, saya pengen tau standar toilet di Thailand (sok banget). Ga beda banget sama Jakarta. Lumayan.
Rencana saya adalah, tiba di Bangkok, sholat Dhuha, cari cemilan, sholat Dzuhur, masuk pesawat lagi. Kenyataannya, mana ada mushola di bandara Don Mueang ini! Hahaha. Situ pikir masih di Jakarta, mushola betebaran dimana-mana.
Memulai hari jam 3 pagi, ini berarti akan tidur sepanjang Jakarta-Bangkok. Dan benar saja, saya hanya terbangun saat makanan diantar, saat harus isi formulir imigrasi Thailand, dan saat tiba. Lumayan tidur dan makan 3 jam lebih. Tau-tau sudah hampir mendarat dan sudah pukul 11 siang.
Turun dari bandara, yang pertama dicari adalah toilet. Tentu. Selain emang kebelet, saya pengen tau standar toilet di Thailand (sok banget). Ga beda banget sama Jakarta. Lumayan.
Rencana saya adalah, tiba di Bangkok, sholat Dhuha, cari cemilan, sholat Dzuhur, masuk pesawat lagi. Kenyataannya, mana ada mushola di bandara Don Mueang ini! Hahaha. Situ pikir masih di Jakarta, mushola betebaran dimana-mana.
Hari ke-16, Minggu, 14 Desember 2014
Hari dimulai jam 3.15 pagi hari ini. Saya terbangun kaget dan buru-buru mandi. Maklum, seharusnya saya berangkat jam 3.30 pagi ini ke bandara, tapi apa daya, semua baru siap jam 4 pagi.
Kepergian ini saya diantar oleh hampir semua keluarga (yang tersisa di sini), saya diantar Astrid, Mahmud, Ibu Mahmud, Bapak Mahmud, dan Mba Pon.
Adik saya yang bungsu, saat saya bilang, "Bing, aku pergi ya!" jam 4 pagi tadi, dia hanya komentar, "Ok!"
Dasar.
16 Hari Menujumu
Hari ke-1, Sabtu, 29 November 2014
Hari pertama tidak ada kamu. Ah, biasa. Perpisahan kita semenjak Februari rasa rasanya melatih saya menjadi lebih tidak-bergantung pada kehadiranmu.
Kamu masih meraba jalur komunikasi dengan saya sepertinya, buktinya belum ada kabar apapun darimu semenjak sms terakhir semalam dari nomor HP rekan kerjamu di sana yang mengatakan bahwa kamu sudah tiba.
Saya asyik bermain dengan keluarga saya. Mereka tetap menjadi penghiburan terbesar dalam diri saya, selain kamu tentunya. Sambil belajar mempersiapkan UAS perkuliahan saya minggu depan.
Hari ke-2, Minggu, 30 November 2014
Masih belajar untuk UAS. Komunikasi denganmu sudah settled. Whatsapp kita sudah lancar, bahkan kita mencoba Skype, suatu bentuk komunikasi yang bahkan sengaja saya daftar hanya karena kamu pergi ini. Menatap mukamu lagi melalui Skype, membuat saya nyengir sendiri. Saya kangen juga ternyata.
Oh iya, saya batuk tidak berhenti malam ini. Akhirnya meminta dikerok oleh Mba Pon, dan saya terlelap.
Hari pertama tidak ada kamu. Ah, biasa. Perpisahan kita semenjak Februari rasa rasanya melatih saya menjadi lebih tidak-bergantung pada kehadiranmu.
Kamu masih meraba jalur komunikasi dengan saya sepertinya, buktinya belum ada kabar apapun darimu semenjak sms terakhir semalam dari nomor HP rekan kerjamu di sana yang mengatakan bahwa kamu sudah tiba.
Saya asyik bermain dengan keluarga saya. Mereka tetap menjadi penghiburan terbesar dalam diri saya, selain kamu tentunya. Sambil belajar mempersiapkan UAS perkuliahan saya minggu depan.
Hari ke-2, Minggu, 30 November 2014
Masih belajar untuk UAS. Komunikasi denganmu sudah settled. Whatsapp kita sudah lancar, bahkan kita mencoba Skype, suatu bentuk komunikasi yang bahkan sengaja saya daftar hanya karena kamu pergi ini. Menatap mukamu lagi melalui Skype, membuat saya nyengir sendiri. Saya kangen juga ternyata.
Oh iya, saya batuk tidak berhenti malam ini. Akhirnya meminta dikerok oleh Mba Pon, dan saya terlelap.
Prolog
Kabar itu datang tiba-tiba.
Hari Selasa, 25 November 2014 dan kamu harus berangkat tanggal 28 November 2014.
Tidak! Hubungan jangka panjang ini menyulitkan. Saya harus berpisah dari kamu semenjak Februari 2014 yang lalu, dan sampai sekarang masih harus terpisah lagi?
Bahkan, terpisah negara?
Seperti biasa, pekerjaan ini adalah pekerjaan no compromise.
Saya harus terbiasa dengan ritme dan perpisahannya.
Yah, namanya Kementrian Luar Negeri, berpisahnya juga harus antar negara. Zzzz..
Saya sengaja cuti untuk membantumu packing.
Sebulan adalah waktu yang cukup lama untuk dimasukkan ke dalam koper, rasanya.
Dan cuti sehari lagi untuk mengantarmu pergi ke bandara.
Hari Selasa, 25 November 2014 dan kamu harus berangkat tanggal 28 November 2014.
Tidak! Hubungan jangka panjang ini menyulitkan. Saya harus berpisah dari kamu semenjak Februari 2014 yang lalu, dan sampai sekarang masih harus terpisah lagi?
Bahkan, terpisah negara?
Seperti biasa, pekerjaan ini adalah pekerjaan no compromise.
Saya harus terbiasa dengan ritme dan perpisahannya.
Yah, namanya Kementrian Luar Negeri, berpisahnya juga harus antar negara. Zzzz..
Saya sengaja cuti untuk membantumu packing.
Sebulan adalah waktu yang cukup lama untuk dimasukkan ke dalam koper, rasanya.
Dan cuti sehari lagi untuk mengantarmu pergi ke bandara.
Langganan:
Postingan (Atom)
