06 Desember 2008

cinta itu ga serakah

"Gw mesti gimana lagi?"
"Lo ga harus gimana-gimana. udah jelas dia suka sama lo. udah jelas lo suka sama dia. kenapa sih lo, Na?"
"Bukan gituu Ta.."
"Terus kenapa lagiii Viennaaaa?"

tekanan ucapannya seakan-akan memberikan kepastian akan pilihan mana yang harus aku ambil.

ini tentang lelaki itu.
Dhaka.
sudah seperti satu kepastian bahwa sebenarnya aku dan lelaki itu seharusnya bersama.
Malta juga bilang gitu.
tapi entah kenapa,
aku ngerasa berat sendiri buat memastikan hubungan kami.

Dhaka sudah aku kenal sejak lama.
mungkin sejak aku mulai menyandang status mahasiswa.
sekitar 3 tahun lalu.

selama ini pun aku dan Dhaka sudah membagi banyak duka,
merangkai banyak tawa.
sebuah cerita.

Malta setengah mati memaksa aku dan Dhaka untuk bersama dalam suatu komitmen yang didamba banyak orang.
pacaran katanya.

aku tidak naif bahwa aku pernah berharap akan komitmen itu.
salah.
coret kata pernah.
aku tidak naif bahwa aku pernah berharap akan komitmen itu.

Malta pun meyakinkanku bahwa itu juga yang diharapkan dari Dhaka.

"Teruus kenapa lagii siih Naaa???"
ucapannya menyentakku dari pikiranku sendiri.

"Ta.."
aku berusaha memberikan ketenangan dalam kalimatku.
berusaha memberikan penjelasan paling jelas,
berusaha memberikan keyakinan paling meyakinkan,
biar Malta diam.

atau mungkin keyakinan untuk gemuruh hatiku sendiri.

"Ta. lo tau kan selama ini, kalo hubungan gw sama dia pun ga pure antara gw dan dia."

aku memenggal kalimat itu untuk memberikan udara diantara kecemasanku sendiri.

"Selama ini selalu ada dia disamping Dhaka."
"Valetta?"
"Iya. selama ini kan selalu gw, Dhaka, dan Letta. ga pernah gw dan Dhaka."

"Tapi belakangan ini gw liat lo seringannya berdua sama Dhaka?"
"Iya gw tau. Belakangan ini emang gw jadi entah kenapa terlihat berdua terus sama Dhaka."

"Dan anak-anak juga banyak yang tanya atau bahkan nyimpulin sendiri antara lo dan Dhaka ada apa-apa kan?"
"Iya sii. ada beberapa yang nanya gitu. cuma gw tetep bilang ga ada apa-apa."

aku dan Malta terdiam.
entah apa yang ada dalam pikirannya.
aku tidak peduli.
aku sibuk menyusun kalimat yang akan aku lontarkan nanti.

"Ta, gw tau belakangan gw dan Dhaka jadi deket banget. gw pun ngerasa Dhaka lebih nyantai buat cerita sama gw, daripada waktu kita bertiga dulu...

Cuma Ta, lo inget kan acara nonton bareng rame-rame se-studio waktu itu?"

aku mencoba mentertawakan kalimat terakhirku. sebenarnya bukan benar-benar satu studio kami sewa untuk menonton film yang sampai sekarang masih membuat orang mengantri di bioskop, tetapi hampir 40 orang ikut nonton waktu itu, dan hanya menyisakan tempat duduk untuk sekitar 5 pasangan lain, yang akhirnya memilih untuk mengganti waktu nonton, dan membuat kami menguasai studio itu sendiri.

"Hehe. Yang seru banget itu kan? ingetlah!"
"Lo inget Ta, waktu itu gw dateng sama siapa?"
"Engg... Rio ya Na?"

aku hanya mengangguk membenarkan tebakannya.

"Lah. waktu itu kan lo emang masih sama Rio?"
"Engga. gw udah putus."
"Iya ya?"
"Taa! gw dateng ke tempat lo sambil nangis bombay gitu! masa lo beneran lupa sii??"
"Haha. iya iya. inget. eh terus, kenapa lo dateng sama Rio kalo gitu?"

aku terdiam sejenak.
berpikir keras apakah memang harus ku katakan secara eksplisit kenapa aku mengajak Rio waktu itu.
Tapi sepertinya, nanti dulu.
**ntar ceritanya cepet abis kalo gitu. hwhwahaa!**

"Ada laah alesannya. Toh gw sama Rio hubungannya ga rusak ko gara-gara kita putus, makanya waktu Rio ngajak gw dateng bareng, gw iyain. nah sekarang, lo inget Dhaka dateng sama siapa?"
"Kalo lo dateng sama Rio, berarti Dhaka dateng sama Letta ya..?"

aku bingung bagaimana merespon jawaban Malta kali ini. Jadi aku hanya tersenyum kecil, dan memberikan ruang diantara kalimat kami. berharap Malta mengerti sendiri.

"Terus Na?"

sial. Malta ga ngerti-ngerti juga!

"Gini Ta. gaungnya tu acara nonton bareng kan udah dari lama, bahkan sebelum tu film muncul di twenty one."
"Iya.. terus?"

"nah, sejak ada gosip-gosip kita mau nonton rame-rame itu, Letta mulai curhat sama gw. intinya si dia pengen ngedeketin Dhaka gitu."
"Makanya lo milih dateng sama Rio daripada bertiga kayak biasanya?"
"Ya gitu.."

"Lo kenapa sii? pengen nunjukkin ke Dhaka kalo lo masih taken gitu??"
"Sepertinya begitu Ta..."

suaraku melemah,
sementara suara Malta makin meninggi dengan tempo yang makin cepat.
Jelas sekali dia kesal akan segala keputusan yang aku buat saat itu.

"Buat apa lo nunjukkin kalo lo masih taken si Na?!"
"Biar Dhaka ga jadi ngedeketin gw..."
"Duh Vienna Vienna! gw ga ngerti sama lo dehh!"

aku masih terdiam dan bingung bagaimana menjawab cercaan Malta.

"Ngapain si Na, lo capek-capek ga jelas! pura-pura ga jelas gini biar si Dhaka ngeliat?! Lagian, emang Dhaka peduli lo taken ato engga???? Sebelum lo jadian sama Rio pun dia udah suka sama lo! sampe sekarang lo putus pun ga pernah tuh gw liat dia deket sama cewe lain!"

"Selain Letta kan Ta?"
"Ya. dia sih ga usah diitung!"

"Ta, lo ga ngerti sih! gw sama Letta tuh udah temenan baik dari dulu! dari sma duluu! dan gw pun masih sering curhat sama dia. dia temen baik gw Ta! sama kayak lo..."

"Terus?"
"Dan waktu gw liat gimana dia cerita abis pulang acara nonton itu pun gw udah tau. gw ga bakal tega buat mastiin hubungan gw sama Dhaka.. dia beneran seneng Ta.. beneran berbinar-binar.."

terbayang lagi siang itu.
saat aku bertemu dengan Letta,
dan dengan mata yang berbinar itu pun dia menceritakan semuanya.
detail kejadian ketika itu,
apa yang dia rasakan,
dan diakhiri dengan,
"Na, gw kayaknya beneran suka sama dia nih. lo bantuin ya.."

aku bisa bilang apa?

"Ta, udah lah.. gw ga mungkin sejahat itu makan temen.."
"Tapi Na, Dhaka kan juga bebas milih dia maunya jadian sama siapa. dan kalo dia maunya sama lo gimana?!"

"Makanya, sebelum dia punya alesan buat milih, gw yang bakal pergi! ga akan gw kasih kesempatan dia buat deketin gw. dengan itu pun dia sadar Ta, kalo sebenernya Letta juga sayang sama dia!"

"Na, lo quitter banget si?"
"Quitter apanya?"

"Dhaka sampe kapanpun suka sama lo! dia aja ga peduli waktu lo taken dulu! sekarang lo seakan-akan nyodorin Letta biar dia suka sama Letta gitu?? lo pikir bisa apa?"
"Ta.."

"Bukannya kenapa-kenapa Na, you both are meant to be. gw seneng waktu lo cerita tentang Dhaka. keliatan kali Na.."
"Tapi Ta.."

"Biasanya lo juga ga nyerah gini! biasanya lo juga tahan! Ada apa siih??"

"Sekarang itu Letta. gw ga mau nyakitin dia. dia udah jadi mental defense gw selama ini. waktu gw down pun Letta ada buat gw.. Plis Ta. coba lo bayangin gimana marahnya lo kalo gw yang nyalip lo? dan gw yakin Letta bakal marah sama gw lama banget. ga pengen gw Ta.."

Malta sepertinya bingung harus menjawab apa.
Dia hanya menarikku dalam pelukannya,
dan entah mengapa,
aku mulai menangis...

Tidak ada komentar: